Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 26


__ADS_3

Senyum terus mengembang di wajah wanita yang kini menatap layar ponselnya. Dia begitu bahagia karena sudah menyampaikan unek-unek yang beberapa hari dia tahan.


Sejak tadi tatapannya tak beralih dari layar ponsel, meneliti satu persatu kata yang dia tulis di keyboardnya kemarin malam. Sebuah pesan, yang terdapat kata empati juga sindiran, agar seseorang di seberang sana segera sadar dengan kenyataan.


Jahat memang, tetapi dia terpaksa melakukan ini, dia hanya tak ingin apa yang sudah menjadi miliknya, diambil kembali oleh seseorang itu.


“Maaf Almaira, aku melakukan ini karena terpaksa,” cicitnya dengan senyum terulas.


Kesadarannya tentang cinta pada sang suami, membuat Gladis nekat mengirim pesan pada Almaira dengan nomor baru yang dia beli kemarin. Kata-kata yang sebenarnya meminta gadis itu agar segera menjauhi suaminya, Gladis tak ingin, apa yang dia takutkan menjadi kenyataan.


Meski Almaira lebih dulu kenal dengan Alchan, tetap saja, sekarang dia istrinya. Maka Gladis akan melakukan apa pun, untuk menjauhkan suaminya dari wanita yang memiliki rasa dengan pria itu.


“Semoga kamu nggak curiga, kalau pesan itu dari aku,” monolog Gladis lagi, seraya meletakkan ponselnya.


Sekarang dia merasa lega, semoga saja Almaira segera melupakan Alchan. Pikir Gladis. Kalau pun Almaira belum bisa melupakan suaminya, maka dia akan gencar untuk membuat keduanya tak pernah bertemu lagi.


“Sangat terkesan egois, tetapi inilah aku. Kamu harus mengerti Almaira, apa yang sudah menjadi milikku, tak akan pernah aku lepaskan kembali,” sambung Gladis.


Dia segera menyimpan ponsel cadangannya di tempat aman, agar Alchan tak bisa menemukan. Setelah itu Gladis memilih pergi dari kamar, dia berniat untuk menunggu suaminya pulang.


**


Di ruangan yang tidak terlalu besar, seorang gadis tengah duduk bersandar di kursi kerja sembari bermain ponsel. Almaira masih bingung dengan pesan yang dia terima kemarin malam, rasa-rasanya ini sangat mengganjal. Siapa yang bisa mengirim pesan seperti itu, kalau bukan orang terdekat.


Sebenarnya Almaira sudah mengerti dengan maksudnya, dan dia juga berniat untuk melupakan. Seolah-olah tak pernah ada pesan yang terkirim, tetapi berbeda dengan akal pikiran, terus ingin mencari tahu siapa dalang di balik pesan itu.


“Buk Almaira, di depan ada tamu yang mencari ibu.” Ucapan pegawainya membuat Almaira harus mengakhiri lamunannya.


Dia segera mengangguk dan beranjak dari duduk, untuk menemui tamu itu. Saat sudah sampai di depan, tepatnya sofa sebagai tempat tamu yang sudah membuat janji dengan dia, Almaira bisa melihat umi Langit di sana. Sebelumnya dia belum membuat janji, mungkin saja umi Langit datang karena ada sesuatu dan lupa mengabarinya.


“Assalamualaikum, Tante,” salam Almaira sembari mendekati umi. Dia lekas menyalami wanita paruh baya itu dengan takzim.


“Waalaikumsalam Nduk. Maaf ya, Umi datang tidak memberi kabar terlebih dahulu,” ucap umi, Almaira segera menggeleng dan menjatuhkan bokongnya di dekat umi.


“Tidak apa-apa Tante, Almai nggak merasa terganggu juga kok,” jawab Almaira sopan.

__ADS_1


“Syukurlah kalau begitu.” Umi tersenyum lega.


Almaira meminta salah satu pegawai untuk membuat minum dan membawa makanan ke depan. Sedangkan dia berusaha tenang, meski sedikit gugup karena begitu dekat dengan umi, calon ibu mertuanya.


“Oh, iya, Tante. Ada apa ya?” tanya Almaira membuka suara.


“Tidak Nduk, sebenarnya Umi cuma mau ngundang kamu, buat datang ke acara syukuran di rumah Umi sore ini. Gimana, kamu mau?”


“Syukuran apa Tante?” Almaira memasang wajah bingung.


“Om menang tender kemarin, jadi Umi mau buat acara syukuran sekalian ngundang anak-anak yatim piatu,” jelas umi.


“Insya Allah Tante, Almai datang,” jawab Almaira.


“Jangan lupa ajak orang tua kamu, kakek nenek juga boleh. Soalnya tadi Umi sudah datang ke rumah kamu, tapi katanya semua pergi,” ucap umi.


“Iya Tante, Bunda dan Ayah pergi nganterin kakek nenek pulang ke rumah mereka.”


“Begitu ya Sayang.”


Almaira lekas mengangguk. Lalu dia meminta umi untuk mencoba teh yang baru saja di antar oleh pegawai tadi, beserta kue keringnya.


 “Sama-sama Tante. Memang sudah sepatutnya, tamu dijamu dengan sebaik mungkin,” kata Almaira.


Lalu mereka kembali bercengkerama tentang dekorasi pernikahan nanti. Almaira hanya mengangguk saja saat umi bertanya, karena memang Almaira enggak untuk mengomentari apa pun.


 **


Gladis menyambut Alchan dengan senyuman, dia segera menyalami tangan suaminya. Alchan tersenyum bahagia melihat itu, sedikit demi sedikit istrinya berubah.


“Aku sudah masak untuk makan siang. Kamu mau mandi atau makan dulu?” tanya Gladis seraya mengambil tas dari genggaman Alchan.


“Aku mau mandi dulu deh, biar seger,” ucap Alchan.


“Ya sudah. Ayo aku bantu nyiapin pakaian,” ajak Gladis.

__ADS_1


Keduanya masuk ke dalam kamar. Alchan langsung pergi ke kamar mandi, sedangkan Gladis memilih menyiapkan baju untuk suaminya. Dia memilih kaos oblong beserta celana pendek.


Gladis berjalan ke arah meja, dia menatap ponsel Alchan yang tergeletak di sana dengan penasaran. Ingin mengambil dan mengecek isinya, tetapi dia menepis niat itu. Sangat tidak sopan membuka tanpa izin, meski itu milik suaminya. Yang sah-sah saja jika dia ingin berbuat lebih juga.


“Tidak tidak, aku tidak boleh begini. Alchan akan marah padaku,” ucap Gladis seraya beranjak dari sana.


Dari pada dia terus bergelut dengan pikirannya, Gladis memilih untuk keluar dari kamar. Dia berjalan ke dapur dan duduk di kursi makan, sambil menunggu Alchan.


Tak lama Alchan keluar dari kamar. Dia segera menemui istrinya di dapur untuk memulai makan siang.


“Wah, menu siang ini enak-enak banget,” puji Alchan seraya menjatuhkan bokongnya di kursi.


“Padahal kamu belum cobain loh,” sahut Gladis.


“Sudah terlihat dari tampilannya,” jawab Alchan sembari membalikkan piring di meja.


Mendengar itu, Gladis mengembangkan senyumnya. Dia sangat bahagia bila Alchan sudah memuji, pria itu terlihat sangat serius bila berbicara. Dengan cekatan Gladis menuang nasi dan lauk ke piring Alchan, lalu beralih ke minum.


“Selamat menikmati,” ucap Gladis.


“Kamu tidak makan?” Alchan menatap piring Gladis yang masih kosong.


“Aku belum lapar. Ya sudah, kamu makan duluan aja. Aku nanti,” balas Gladis.


Alchan mengangguk paham, lalu dia membaca doa untuk segera memulai makan siang. Benar saja, lauk yang Gladis masak memang sangat enak. Membuat Alchan tak bisa berhenti untuk terus menyuapkan makanan ke mulutnya.


Melihat itu, Gladis semakin merasa sangat bahagia. Dia terus melihat ke arah Alchan, sambil sesekali mengembangkan senyumannya.


Kamu gemesin banget si Chan. Nggak salah aku mulai mencintai kamu.


“Ngapain liatin aku begitu?”


Gladis terkejut mendengar teguran Alchan, dia segera menggelengkan kepala dan tersenyum kikuk.


“Salah ya, kalau liatin suami sendiri?” tanya Gladis.

__ADS_1


“Enggak sih, malah dapat pahala,” jawab Alchan. Membuat senyum Gladis semakin merekah.


 


__ADS_2