Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
part 34


__ADS_3

Kini langit sudah menampakkan senja nya dan kedua wanita itu masih sibuk berbelanja dan sekarang mereka berdua berada di butik untuk membeli lingerie yang akan di kenakan saat berada di dalam kamar bersama Revan.


Ya, Alana benar benar akan mencoba saran konyol dari Tamara walaupun harus menjatuhkan harga diri nya namun tidak masalah asal kan Revan ingin membuka hati nya untuk Alana.


Drrrtttt


Drrrtttt


Suara ponsel Alana membuat fokus nya buyar nya apalagi saat melihat nama yang tertera di layar ponsel. "Siapa yang nelfon?" Tanya Tamara.


"Pak Revan"


"Yaudah angkat gih" Alana lalu berdiri dan sedikit menjauh dari Tamara dan si kembar untuk mengangkat telfon dari pak Revan.


Alana lalu menekan tombol hijau pada layar "Ada apa pak?" Tanya Alana.


"Keluar, saya sudah berada di depan mall" Kata Revan.


"Ngapain bapak ke sini? saya bisa pulang sendiri, tidak usah di jemput" Alana lalu melihat sekitar depan mall dan benar saja mobil Revan sudah terparkir rapi di sana.


"Tidak usah protes, cepat keluar" Kata Revan lalu mematikan sambungan telfon nya. Alana lalu kembali ke meja menemui Tamara dan si kembar. "Ra, gue balik duluan yaa, pak Revan udah nungguin di depan" Kata Alana sembari mengambil beberapa belanjaan nya dan mengajak si kembar mengikuti nya.


Tamara mengangguk pelan "Nanti kita healing lagi" Kata Alana namun sebelum pergi, Tamara berbisik pada Alana. "Jangan lupa entar malam lo mulai rencana nya" ucap Tamara sembari mengedipkan satu mata nya. Membuat Alana bergidik ngeri.


Alana lalu menghampiri mobil Revan sedikit berlari karena hujan tiba tiba saja turun dengan deras. Setelah Alana dan si kembar masuk Revan ke dalam mobil, Revan melajukan mobil nya tampa banyak bicara.


"Kita mau kemana" tanyak Alana karena jalan menuju rumah nya berlawanan arah dengan jalan yang sekarang mereka lalui.


"Rumah bunda" Revan menjawab tanpa melirik Alana sama sekali dan fokus menyetir


.


.


.


Hampir satu jam mereka menempuh perjalanan yang lumayan macet dan akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Revan.


"Wahh cucu oma sudah datang" Lina melebarkan kedua tangan nya untuk menyambut kedatangan cucu kesayangan nya.


"Ayo duduk dulu Van, bunda buatin masakan ke sukaan kamu. Oh iya si kembar masuk ke dalam kamar om Gibran dulu yah" kata Lina lalu mengajak si kembar masuk ke dalam kamar Gibran.


Alana mengikuti langkah Lina menuju dapur setelah mengantar si kembar berniat ingin membantu nya memasak. "Mau ngapain kamu?" Lina nampak merasa risih dengan kehadiran Alana.


Alana menghembuskan napas nya pelan. "Aku ingin bantuin bunda memasak" katanya.


Bunda Lina tertawa. "Memang nya kamu pintar masak? Jangan sampai dapur saya terbakar karena masakan kamu".

__ADS_1


Alana hanya tersenyum. "Kalau gitu, bunda duduk saja biar aku yang masak" kata Alana sembari memegang bahu lina dan menuntun nya duduk di kursi meja makan.


Bunda Lina pun hanya diam saja dan mengikuti arahan Alana duduk di meja makan sembari memperhatikan Alana memasak. Alana harus bersikap baik agar bisa mengambil hati mertua nya. Bunda Lina sebenarnya sangat baik hanya saja status Alana yang membuat nya tidak menyukai Alana.


Lina pikir hidup seorang artis itu selalu glamor dan hanya menghabiskan uang untuk membeli barang barang yang kurang bermanfaat menurut nya.


Artis memang pada umumnya seperti itu tapi berbeda dengan Alana yang hidup mandiri walaupun bergelimang harta. Alana juga tidak sombong seperti artis lain nya.


Sejak menikah dengan Revan, Alana jarang berkomunikasi dengan mertua nya karena sibuk kuliah, bahkan si kembar saja di urus oleh mertua nya tapi kini Alana mulai berfikir untuk merawat si kembar dan Alana ingin si kembar tinggal dengan nya di rumah mereka.Gibran yang sedang tertidur pulas di buat kaget dengan kehadiran ponakan nya. "Jangan ganggu uncle" kata Gibran sembari menutup wajah nya dengan bantal.


Namun si kembar tidak perduli dan terus mengganggu tidur Gibran. bahkan si kembar sampai naik ke punggung Gibran yang sedang tidur dengan posisi tengkurap.


"Azzam, Azzura" teriak Gibran namun si kembar malah tertawa bukan nya takut.


"Banun" kata Azzura dengan cara bicara khas anak kecil berusia tiga tahun.


"Uncle masih ngantuk"


"Udah sole antel" Azzam menarik selimut yang di pakai oleh Gibran.


"Kalau uncle bangun, awas kalian yah" mendengar ancaman Gibran, si kembar ingin berlari turun dari ranjang namun dengan cepat Gibran menarik belakang kerah baju mereka seperti menangkap seorang kucing. "Mau ke mana kalian" kata nya sembari menggeser tubuh si kembar agar lebih dekat lagi dengan nya.


"Antel, lepasin"


"Ngak mau, kalian sudah ganggu tidur uncle jadi jangan harap uncle lepasin kalian" Gibran lalu bangun dan menggelitik si kembar.


"hahha.. deli antel"


"Rasain, siapa suruh ganggu singa yang sedang tertidur"


"Antel sina jeyek"


Saat sedang bercanda dengan kedua ponakan nya tiba tiba saja terdengar suara pintu yang terbuka. "Gibran, ikut ayah sebentar" kata sang ayah dengan wajah serius.


Gibran yang tadi nya sedang menggelitik si kembar kini terhenti, menatap ayah nya sebentar lalu mengikuti langkah ayah nya menuju ruang kerja nya.


Di ruang kerja, Sang ayah sudah duduk dengan tegap dan wajah nya serius, Gibran mulai meresa was was, takut jika dia melakukannya kesalahan lagi.


Ayah Gibran lalu memberikan amplop putih kehadapan Gibran. "Baca gib" ucap sang ayah.


Ternyata amplop itu itu dari sekolah nya. Gibran mendapat kan surat peringatan lagi oleh guru nya karena kemarin terlambat ke sekolah dan ketahuan merokok di kantin.


"Ayah sudah capek hadapin kelakuan kamu gib" kata sang ayah dengan depresi. "Mungkin jalan satu satu nya agar kamu bisa lebih baik lagi yaitu tinggal di asrama".


" Tidak, Gibran tidak mau yah"


"Lalu kau mau apa! Ayah sudah bener bener capek hadapi kamu gib! jika kau tidak mau ke asrama lebih baik kau keluar dari rumah ini, terserah kau mau hidup di mana saja ayah sudah tidak perduli!!" emosi yang sedari tadi di tahan kini mulai tak terkontrol.

__ADS_1


"Ayah, ngusir Gibran?" tanya Gibran tak percaya dengan keputusan sang ayah.


"Ayah tidak akan mengusir mu jika kau ingin mendengar ucapan ayah, Gibran"


Gibran tersenyum sinis. "Baiklah, Gibran akan keluar dari rumah ini jika ini mau ayah" tanpa banyak bicara lagi, Gibran lalu berdiri dan pergi meninggalkan sang ayah di ruangan itu.


Saat keluar dari pintu, Gibran di buat kaget karena ternyata Revan sedang berdiri di sana sembari menatap Gibran. Gibran hanya lewat begitu saja tanpa menyapa sang kakak yang sudah beberapa bulan tidak kembali ke rumah.


Kadang Gibran merasa iri dengan kakak nya yang bisa melakukan apapun tanpa larangan dari ayah nya tapi Gibran tidak tahu apa yang di korban kan kakak nya agar bisa meraih cita cita nya.


Gibran berjalan menuju kolam renang lalu duduk di tepi kolam sembari mendengar kan musik.


Revan menyusul Gibran lalu duduk di samping Gibran "Gue udah dengar apa yang kalian omongin di dalam" ucapan Revan yang tidak di indahkan oleh Gibran yang hanya fokus menatap si kembar yang sedang bermain bola tidak jauh dari kolam renang.


Revan mematikan musik Gibran lalu berkata. "Gue juga perna berada di posisi lo gib, gue pernah di kekang agar bisa menjadi seperti yang ayah ingin kan" Revan tersenyum miris. "Gue tau rasa nya pasti ngak enak tapi mau gimana lagi, setiap impian pasti butuh pengorbanan gib".Revan mematikan musik Gibran lalu berkata. "Gue juga perna berada di posisi lo gib, gue pernah di kekang agar bisa menjadi seperti yang ayah ingin kan" Revan tersenyum miris. "Gue tau rasa nya ngak enak tapi mau gimana lagi, setiap impian pasti butuh pengorbanan gib"


Gibran melirik Revan sekilas. "Maksud bang Revan?"


Revan tersenyum. "Sebelum lo, gue pernah di posisi lo. Ayah nyuruh gue jadi dokter tapi gue selalu menolak hingga akhirnya ayah bilang gini ke gue" Revan menirukan gaya bicara sang ayah. "Jika kau tidak ingin menjadi dokter maka ayah akan menjodohkan mu dengan adel" kata Revan sembari mengingat ingat kembali ucapan sang ayah.


"Bukan kah, Bang Revan juga mau? toh kalian memang sangat dekat dari dulu"


"Kami memang bersahabat tapi kami hanya sebatas sahabat tanpa memiliki perasaan sama sekali" Revan lalu menatap jauh ke depan mengingat kembali momen kebersamaan nya saat bersama dengan adel.


"Kau tau tidak bagaimana rasa nya jika kita mulai sayang dengan seseorang tapi sial nya orang itu malah selingkuh dari kita di saat kita udah membuka hati dan udah terlanjur sayang. Hahaha sakit banget gib"


Gibran menatap Revan cukup lama. "Jadi itu sebab nya bang Revan bercerai?" Revan hanya mengangguk sebagai jawaban untuk gibran.


"Dan di saat gue mulai membuka hati untuk Alana, dia kembali menumbuhkan rasa cinta yang pernah padam membuat aku dilema karena di satu sisi gue masih mencintai adel tapi di sisi lain gue udah punya istri yaitu Alana yang belum bisa menganti posisi adel"


Ternyata tanpa mereka sadari sedari tadi Alana menguping pembicaraan mereka dari balik pintu. Alana hanya tersenyum miris dengan air mata yang jatuh perlahan di kedua pipi nya.


Alana menghapus air mata nya dengan kasar. "Semangat Alana, kamu pasti bisa menaklukan hati Revan" kata nya menguat kan diri nya sendiri sembari pura pura tersenyum.


Alana mengatur nafas perlahan lalu berjalan menghampiri si kembar yang masih bermain bola. "Sayang, ayo kita masuk. Mama udah masakin makanan kesukaan kalian" ucap Alana sembari tersenyum lepas.


Azzam dan Azzura bersorak senang. "Yeeeyy ayo tita matan Ma" celoteh Azzura sembari menarii tangan Alana.


Dari kejauhan Gibran dan Revan melihat Alana yang begitu perhatian dengan si kembar. "Jangan sampai bang Revan menyesal. menurut Gibran lebih baik bang Revan lupain mbak adel dan fokus dengan keluarga kecil bang Revan dengan mbak Alana. Gibran lihat mbak Alana lumayan baik dan sayang juga dengan si kembar."


"Dia memang baik, tidak pernah marah atau menuntut banyak hal tapi gue belum mencintai nya dan jujur hingga saat ini nama adel masih terukir indah di hati gue"


"Cinta bakal terasa seiring nya berjalan waktu. Mungkin sekarang bang Revan belum mencintai mbak Alana tapi enggak tahu besok atau lusa kan kali aja bang Revan jadi bucin"


"Dia hanya orang lain tapi dia mampu menyayangi si kembar seperti anak kandung nya sendiri" kata Gibran sembari menepuk pundak Revan. "Gue yakin, bang Revan bakal cinta dengan mbak Alana seiring berjalan nya waktu" Revan lalu melirik Gibran yang sudah berdiri dan berlalu meninggalkan Revan sendirian di tepi kolam renang."


Revan berfikir sejenak lalu masuk menyusul Gibran ke meja makan. Revan lalu mengambil posisi duduk di samping Azzura. "Ayah di sana saja, Bial mama bisa duduk di sini" Baru kali ini si kembar tidak ingin jika Revan duduk di samping nya pasal nya mereka selalu bertengkar jika Revan duduk berjauhan dengan mereka.

__ADS_1


__ADS_2