
Almaira beserta kedua orang tuanya telah sampai di kediaman keluarga Langit. Mereka disambut dengan sangat hangat oleh pemilik rumah. Almaira bisa melihat betapa ramainya di sini, tak hanya orang dewasa tetapi juga ada anak-anak.
Saat dia masuk ke dalam rumah, ada banyak sekali anak-anak yang sudah duduk rapi di sebelah kiri, yang Almaira tebak adalah anak yatim piatu. Sedangkan di sisi-sisi lainnya kebanyakan ibu-ibu dan bapak-bapak.
Dia segera mengikuti langkah sang bunda agar tak kehilangan jejak, Almaira tak ingin jauh dari bundanya. Malah dia ingin selalu duduk di dekat wanita itu.
Baru saja duduk, Almaira sudah dipertontonkan dengan pemandangan yang mampu membuat hatinya nyeri. Alchan datang bersama Gladis, sangat terlihat keduanya seperti pasangan pada umunya. Gladis memegang lengan pria itu, dan Alchan tersenyum penuh kegembiraan.
Tak ingin terlihat jelas, Almaira memilih mengalihkan pandangannya. Dia tak sanggup bila harus berlama-lama memandang pasangan suami istri itu. Tanpa sadar, ada sepasang mata yang memerhatikan gerak gerik Almaira. Dia adalah Langit, pria yang duduk di seberang dekat dengan ayahnya.
“Kuat anak Bunda, kuat,” bisik Aisyah tepat di samping telinga Almaira, membuat gadis itu terkejut.
Almaira langsung menoleh pada bundanya, dia tersenyum, senyum paksa maksudnya. Menghembuskan napas perlahan, dia menganggukkan kepala masih dengan senyuman yang terukir di bibir.
“Insya Allah Bunda,” jawab Almaira.
“Alhamdulillah, anak Bunda yang cantik, nggak boleh sedih lagi, malu entar dilihati calon suami,” cicit bunda sambil tertawa renyah. Sontak Almaira mengerucutkan bibirnya.
“Bunda ih, malu tauk,” balas Almaira.
Sedangkan bunda Aisyah hanya menanggapi dengan tawa renyah saja. Wanita berhijab abu muda itu juga tak percaya, bahwa Alchan dan istrinya juga datang ke acara syukuran ini. Ah, iya, Aisyah lupa kalau Alchan teman baik Langit. Sudah pasti diundang.
“Kamu duduk di dekat Almai sana, lagian cuma itu kayaknya yang kosong,” ucap Alchan pada Gladis.
Awalnya wanita itu ingin menolak, tetapi enggan membuat Alchan kecewa. Akhirnya Gladis menurut dan berjalan ke arah Almaira. Sesekali dia membetulkan letak selendang yang dia pakai.
“Almaira, kamu di sini juga?” sapa Gladis ketika sudah duduk.
Almaira hanya tersenyum lalu mengangguk. “Iya. Kakak diundang juga?”
“Iya ni. Sebenarnya Alchan sih, tapi dia ngajak aku. Katanya biar enak dipandang orang, kalau bawa istri,” jawab Gladis.
Entah sengaja atau tidak, tetapi sepertinya Gladis memang ingin pamer pada Almaira. Namun, gadis dengan balutan hijab merah muda itu hanya tersenyum, lagi-lagi senyum paksa. Memangnya apa yang harus Almaira jawab, memang benar adanya perkataan istri teman kecilnya itu.
__ADS_1
“Kamu sudah lama?” tanya Gladis lagi berbasa basi.
“Belum Kak,” tutur Almaira.
“Oh.”
Keduanya tak terlibat percakapan lagi karena acara akan segera dimulai. Ustaz yang sengaja diundang untuk membawakan doa mulai membuka suara, lalu para hadirin yang datang ke rumah keluarga Langit mulai mengaminkan setiap bacaan dari ustaz itu.
Sungguh Almaira tak nyaman berada di dekat Gladis, tetapi sekuat tenaga dia menahannya. Bagaimanapun, Almaira harus berdamai dengan keadaan dan takdirnya. Untuk apa dia membenci Gladis? Lagian wanita itu tak salah.
Mengalihkan pandangan dari samping, tak sengaja mata Almaira bersibobrok dengan mata indah milik Langit. Pria itu hanya mengulas senyum, yang Almaira akui cukup manis. Namun lagi-lagi gengsi melingkupi hati si gadis, dia langsung membuang muka membuat Langit terkekeh kecil di seberang sana.
**
Akhirnya setelah hampir setengah jam berdoa bersama, acara syukuran selesai dengan diakhiri makan bersama. Beberapa orang yang berada di ruangan besar ini, mulai pulang satu persatu. Hingga tersisa anak-anak yatim piatu saja, yang memang sengaja ditahan dulu agar tak pulang.
Abi Langit membagikan sedikit rezekinya untuk anak-anak itu. Uang yang sengaja sudah disamakan jumlahnya dalam amplop, satu persatu beralih tangan.
“Terima kasih Pak, Buk,” ucap semua anak-anak di sana pada kedua orang tua Langit.
Kini yang tersisa hanya tinggal keluarga Almaira, keluarga Langit, dan Alchan beserta istrinya saja. Para orang tua masih terlibat percakapan, tetapi tidak dengan anak mudanya.
“Makasih loh Langit, udah ngundang aku sama Gladis.” Alchan membuka suara membuat Langit dan Almaira mengalihkan pandangan mereka.
Padahal berusaha keras Almaira agar terhindar dari tatapan Alchan, tetapi dia tak bisa mengelak bila mendengar suara pria itu. Sebab suara itulah yang Almaira rindukan selama ini.
“Sama-sama. Aku juga berterima kasih karena kamu sudah mau datang, istrimu juga,” balas Langit dengan ramah.
“Alhamdulillah. Selagi tak ada halangan, insya Allah kami pasti datang,” timpal Alchan.
Sedangkan dua gadis di sana, hanya diam saja. Sejak tadi Gladis terus menatap ke arah Almaira, dia iri melihat penampilan gadis itu yang kelihatan sangat cantik dengan balutan gamis syar’i berwarna merah muda dengan hijab senada sebagai penutup kepala.
Berbeda halnya dengan dia, rok panjang berwarna hitam dengan baju panjang yang hanya satu ini dia miliki. Lalu, Gladis hanya menutup kepalanya dengan selendang saja, tanpa mengaitkan menggunakan jarum pentul.
__ADS_1
“Jadi kapan pernikahan kalian akan dilaksanakan? Aku dengar dari orang tua tadi, kalian sudah khitbah,” tanya Alchan seraya memandang ke arah dua orang di depannya dengan bergantian.
Meski sejajar dalam satu barisan, tetapi Almaira tetap menjaga jarak dari Langit. Bagaimanapun mereka belum sah menjadi pasangan halal, jadi tak bisa sembrono begitu saja.
“Insya Allah dua Minggu lagi. Kamu jangan lupa datang ya,” jawab Langit.
“Aku pasti datang,” kata Alchan.
“Almaira, kenapa diam saja?” Alchan mengalihkan pandangannya pada Almaira.
“Jadi, aku harus apa?” Almaira balik bertanya, dengan wajah dingin tanpa senyuman sedikit pun.
Dua pria itu hanya menggaruk kepala yang tak gatal, lalu menggeleng secara bersamaan.
Bukan tak ingin Almaira bergabung dengan obrolan mereka, hanya saja dia tidak mood. Apalagi ketika melihat Gladis yang sudah sangat dekat dengan Alchan, lalu seperti sengaja wanita itu memegang lengan Alchan dengan pandangan mengarah pada Almaira.
“Alchan,” panggil Gladis.
“Ya?”
“Ayo pulang. Rasanya perutku sedikit kram, butuh istirahat, kasihan babynya,” ucap Gladis dengan wajah tak enak.
Langit yang melihat interaksi itu, ikut membuka suara. “Istrimu ... hamil?” tanyanya.
“Hemm, iya,” jawab Alchan sambil menundukkan kepala.
Langit mengangguk lalu tersenyum. Tak heran orang menikah tak lama lalu istrinya hamil, pikir dia. Padahal bukan Alchan ayah bayi itu, melainkan orang lain. Hanya saja, Alchan tak ingin Gladis bertambah malu. Makanya dia menyembunyikan kebenaran itu.
“Kalau gitu aku pamit pergi lebih dulu.” Suara Almaira membuat ketiganya menoleh secara bersamaan ke arah gadis itu.
“Ada sesuatu yang lebih penting, yang harus kukerjakan,” sambung Almaira.
__ADS_1