Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 65


__ADS_3

Laska sudah berada di ruangannya, pria itu sedikit santai hari ini. Sebab, dia sudah menyelesaikan pekerjaannya di rumah malam tadi. Saat sedang sibuk berkirim pesan pada Amira, tib-tiba pesan dari Alfa jadi teratas. Karena penasaran, akhirnya Laska membaca pesan itu.


[Segera mungkin Lo sembunyiin Amira, soalnya kakek akan ke rumah Lo malam ini. Jangan buat kesalahan lagi, kemarin Lo uda gak ikut menyambut kedatangannya]


Pesan yang baru dikirim Alfa membuat Laska terkejut, dia bingung harus berbuat apa. Menyembunyikan Amira bukan hal yang gampang, gadis itu pasti tidak mau.


Laska meraih ponselnya kembali, mencari kontak Hari untuk menghubungi pria itu. Tak lama, Hari datang dengan tergopoh-gopoh.


“Ada apa Lo manggil gue?” tanya Hari penasaran, dia menarik kursi depan meja Laska dan langsung duduk di sana.


“Ini penting,” jawab Laska.


“Iya apa?”


“Gue minta tolong sama Lo, carikan hotel terbaik di Jakarta,” pinta Laska membuat Hari mengernyitkan dahinya bingung.


“Ngapain? Lo mau honymoon. Bisa-bisanya keadaan genting begini, Lo mau senang-senang sama bini,” cibir Hari memandang Laska dengan tak suka.


Laska menggeram kesal, sikap Hari memang selalu membuatnya tersulut amarah. Selalu saja menyimpulkan hal yang bahkan tak terpikirkan di kepala Laska.


“Untuk Amira. Kakek akan datang ke rumahku malam ini,” pungkas Laska.


“Apa? Astaga! Kalau gitu gue sekarang jalan, cari hotel terbaik untuk Amira. Lo tenang aja.”


Hari berlari keluar dari ruangan Laska. Setidaknya pria itu merasa lega, Hari masih bisa dia andalkan. Selagi Hari mencari hotel, Laska berniat untuk menyusun semua pakaian Amira dan barang-barang yang bersangkutan dengan gadis itu.


**


“Jadi kamu sudah baikkan sama om Laska?” tanya Cinta penasaran sambil tertawa kecil.


“Sudah dong. Aku ‘kan istri baik,” jawab Amira membuat Gina dan Cinta menggelengkan kepalanya.


Amira dan ibunya memang sengaja datang ke rumah Cinta sebelum gadis itu pergi ke Semarang untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Amira merasa sedih, selama ini dia selalu sama dengan Cinta. Meluapkan perasaan pada gadis berhijab itu, tapi kini, dia harus ikhlas. Semua demi Cinta dan masa depannya.


“Aku sedih, Cinta. Kamu pokoknya di sana jangan cari teman baru ya,” ucap Amira sembari memeluk Cinta. Dia menangis dibahu gadis itu.


“Kamu tenang saja, aku pasti akan setia. Kamu harus berjuang juga untuk masa depan ya, kita harus sama-sama sukses,” pesan Cinta seraya mengusap air mata Amira.

__ADS_1


Amira kembali memeluk Cinta, dia tak bisa membendung air matanya untuk tak turun. Selama enam tahun mereka bersama, dan kini harus berpisah karena masa depan.


“Jaga diri baik-baik, aku pasti akan rindu kamu,” ucap Cinta.


“Aku pasti jaga diri baik-baik, tenang aja, Alfa juga aku jagain kok.”


Amira tertawa melihat wajah kesal Cinta, tetapi akhirnya gadis berhijab itu tersenyum.


**


Setelah mendapat hotel yang pas, Hari langsung menuju rumah Laska untuk mengambil barang-barang Amira dan Gina. Di teras rumah, sudah ada Laska dan beberapa koper.


Pria itu langsung memasukkan ke dalam bagasi mobil Hari.


“Maaf karena sudah merepotkan kamu,” ujar Laska tak enak.


“Apaan sih Lo, kita ini udah temenan dari kecil. Santai aja kali.” Hari tersenyum.


“Bdw, alasan Amira pindah itu apa?” tanya Hari bingung.


Laska terdiam, sejujurnya dia juga sangat bingung. Namun tetap berusaha mencari ide yang bisa masuk di akal, Amira gadis pintar. Tak mungkin tidak akan curiga.


Hari masuk ke dalam mobilnya, dia melajukan kuda besi itu dengan kecepatan tinggi. Ia harus cepat sampai di rumah Cinta sebelum Amira pulang lebih dulu.


Setengah jam lebih dia dalam perjalanan akhirnya sampai juga di depan pagar rumah Cinta. Pas sekali Amira sudah berada di teras rumah Cinta. Hari langsung turun, untuk menemui istri bosnya itu.


“Permisi Nona Muda,” sapa Hari lembut, dia tersenyum layaknya tak terjadi apa-apa.


“Iya, Om. Ada apa?” tanya Amira bingung, dia memerhatikan Hati dari bawah sampai atas.


Om? Astaga, apa aku setua itu?


“Saya mendapat perintah dari tuan muda Laska untuk menjemput Anda,” jawab Hari, matanya tak henti-hentinya melirik Cinta. Membuatnya jadi lupa akan tujuan awal.


Sadar Hari, dia itu pacar Alfa. Bisa-bisa kamu akan tewas dibuat pria kejam itu. Batin Hari menenangkan diri.


“Benaran? Yang sudah kalau gitu. Cinta, aku pamit dulu ya, kamu jangan lupa makan,” ucap Amira yang langsung diangguki oleh Cinta.

__ADS_1


“Tante pulang Sayang.” Gina memeluk Cinta sebentar, setelah itu mengikuti langkah kaki Hari dan Amira menuju mobil.


Di dalam mobil, Amira tak henti-hentinya memandang ke arah luar jendela. Dia sedikit bingung, jalan yang mereka lewati sangat berbeda dengan jalan yang tadi dia lewati untuk ke rumah Cinta. Seketika mata Amira melotot, dia menatap ke arah punggung Hari dengan takut.


“Kenapa jalannya berbeda? Jangan-jangan kamu penculik ya!” tuding Amira sambil menunjuk ke arah punggung Hari. Gina yang duduk di sebelah putrinya, merasa bingung.


“Ada apa Sayang?” tanya Gina.


“Ini bukan jalan ke arah rumah om Laska, Bu,” jawab Amira khawatir.


Gina mulai menatap luar, lalu kembali menatap ke arah Hari.


“Tenang Nyonya, Nona Muda. Tuan Laska memang memerintah saya untuk membawa kalian ke hotel. Sebab, rumahnya sedang direnovasi,” jelas Hari, tetapi Amira tidak percaya.


Lantas gadis itu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, mencari kontak Laska. Belum sempat menghubungi pria itu, pesan darinya lebih dulu masuk. Amira merasa lega karena apa yang Hari ucapkan ternyata benar, dia langsung menunjukkan pada ibunya. Sembari menampilkan senyum manis.


Tapi ada yang ganjal di hati Amira, pagi tadi, Laska tak ada berbicara tentang renovasi rumah. Kenapa tiba-tiba?


Ah, mungkin saja memang mendadak.


Amira berusaha berpikir positif, dia harus menjadi dewasa sekarang. Itu kan juga rumah Laska, jadi terserah pria itu ingin merenovasinya kembali jadi seperti apa.


“Kita sudah sampai Nona Muda,” ujar Hari seraya keluar dari mobil.


“Iya,” jawab Amira sembari memandang sekitar, hotel yang sangat besar.


“Kamar Anda nomor 60, akan saya bantu bawa barangnya sampai dalam.” Hari membuka bagasi mobil, dan mengambil semua barang Amira dan Gina.


Lagi-lagi Amira bingung, barangnya yang dibawa begitu banyak. Namun, dia menepis rasa penasaran itu.


“Semoga Anda nyaman tinggal di sini.”


“Iya, Om.”


“Apa saya setua itu Nona?” tanya Hari dengan wajah polos.


“Iya,” balas Amira tak kalah polos, membuat Hari kesal.

__ADS_1


 


__ADS_2