
Dalam perjalanan, Amira hanya terus memandang ke arah luar jendela mobil. Gadis itu memerhatikan setiap gedung yang selalu dia lewati saat bersama dengan Laska. Jujur saja, rasa rindu kini menyeruak dalam kalbu. Meminta ingin dipertemukan dengan sang pemilik hati.
“Jangan ke sekolah,” perintah Amira pada sopir yang dibalas anggukan oleh lelaki yang saat ini masih memegang alih kemudi.
Percuma dia ke sekolah, kalau terus dipantau dan diikuti oleh orang suruhan ayahnya. Dia tak mau itu terjadi. Maka lebih baik dia pulang saja setelah ini, istirahat di rumah dan menenangkan pikirannya.
“Kenapa kalian mau di suruh oleh ayahku? Padahal dia orang yang kejam,” lirih Amira sembari memandang satu persatu dari lima orang pria yang berada di dalam mobil. Mereka pun juga melirik ke arah Amira.
“Apa kalian tahu aku tersiksa? Aku sakit, ayah sudah berubah.” Akhirnya Amira tak bisa membendung air matanya lagi, gadis itu menangis sesenggukan.
“Nona tolong jangan menangis, ikuti saja keinginan ayahmu,” ucap salah satu dari pria di dalam mobil. Amira langsung menggeleng keras.
“Aku tak bisa melukai hatiku demi mengikuti keinginan ayah. Tidak bisa!”
“Nona mohon tenang. Kita akan segera kembali ke rumah,” tukas pria itu cepat.
Amira masih terus menangis sesenggukan dengan menutupi wajahnya. Menangis semalaman tak membuatnya puas, dia masih ingin menumpahkan air mata ini kembali.
Setengah jam di perjalanan, akhirnya mobil yang ditumpangi Amira kembali sampai di depan rumah orang tuanya. Amira lekas berlari memasuki rumah setelah pintu terbuka.
“Ibu!” teriaknya seraya memeluk Gina. Dia kembali menangis dibahu ibunya.
“Sayang maaf.” Hanya itu yang bisa Gina ucapkan.
“Tolong telepon om Laska Bu,” pinta Amira, Gina segera menggeleng dan menatap ke arah luar pintu. Di sana, suruhan suaminya tengah menjaga dengan penuh ketegasan.
“Kita ke kamar ya,” ajak Gina pada putrinya.
Sampai di kamar, sang ibu langsung menyuruh anaknya untuk duduk. Amira hanya menuruti.
“Kita coba telepon ya,”
“Iya Bu,” jawab Amira cepat.
__ADS_1
Gina mencoba menghubungi Laska, tetapi nomor pria itu sedang sibuk. Berulang kali dia mencoba tetap saja hasilnya nihil. Tak biasanya Laska seperti ini, dia selalu mengangkat jika Gina menelepon.
“Tidak bisa dihubungi Sayang, mungkin saja Laska sedang sibuk,” ujar Gina mencoba meyakinkan anaknya.
“Enggak! Pasti om Laska menghindar. Dia sudah enggak sayang sama Amira lagi,” sahut Amira dengan deraian air mata yang semakin banyak mengalir di pipinya.
“Enggak boleh suuzan, kita harus berpikir yang baik. Kamu yakinkan, kalau Laska pasti akan menjemput kamu. Jangan khawatir Nak, ibu tak akan membiarkanmu menjadi barang hanya untuk kebahagiaan ayahmu,” ucap Gina, membuat senyuman sedikit terukir di bibir Amira.
“Terima kasih, Ibu adalah orang yang selalu mengerti Amira. Sama seperti umi, dia begitu baik,”
“Nyonya Kia memang baik Nak, ternyata Ibu ingat. Dulu pernah bertemu saat peresmian kantor teman ayahmu,”
“Amira kangen umi, Bu,” lirih Amira kembali.
“Sabar ya Sayang. Ibu pasti akan mendukung kamu untuk bertemu Laska, karena bagaimanapun, kalian suami istri. Hanya Tuhan yang bisa memisahkan kalian,” sambung Guna sembari menggenggam jemari anaknya dengan erat.
Amira segera memeluk tubuh ibunya itu, namun belum cukup untuk membuatnya bahagia. Karena sejatinya, hanya bertemu dan bersama Laskalah dia bahagia.
**
Dia rindu ini, saat banyak sekali masalah pekerjaan. Ia pasti selalu menyuruh Laska agar menikmati embusan angin. Amira tersenyum kecil, membayangkan wajah Laska yang dia rindukan.
“Amira, Nak. Ini ada telepon dari Alfa.” Ibunya datang dan langsung memberikan ponsel kepada Amira, yang diterima dengan wajah semringah oleh gadis itu.
“Halo Alfa,” sapanya pada sang adik ipar. Terdengar jelas helaan napas kasar dari seberang sana.
“Halo. Apa kau baik-baik saja?” tanya Alfa dengan suara pelan.
“Aku ... tidak baik,” jawab Amira.
“Kau harus bertahan Amira, aku pasti akan mengeluarkanmu dari rumah itu,”
“Tidak Alfa, aku hanya ingin om Laska yang menjemputmu.”
__ADS_1
“Amira, tidak perlu mengharapkan pria itu,” ucap Alfa.
“Maksud kamu apa? Om Laska suamiku, aku yakin dia akan jemput aku,” sangkal Amira dengan tegas.
Alfa menghela napas kasar di seberang sana, lalu berucap, “Terserah kamu saja. Aku akan pergi sore ini, mau meninggal pesan apa untuk suamimu itu.”
“Bilang, aku menunggu kedatangannya.”
“Hah, baiklah.”
Sambungan terputus, Amira menggenggam erat ponsel ibunya. Ada secuil harapan untuk dia bisa kembali dengan Laska. Ternyata Alfa baik, Amira senang mendapatkan telepon meski dari dia.
“Sudah Sayang?” tanya Gina, Amira lekas mengangguk.
“Bu, Amira senang. Setidaknya Alfa mau menghubungi Ibu, meski bukan om Laska,”
“Sabar Sayang, kita jalani ini dulu. Akan ada saatnya kita bahagia kembali.” Gina kembali memeluk anaknya. Dia mengusap punggung kecil milik Amira dengan sayang.
Amira melepaskan pelukannya, dia mulai menegakkan badan dan tersenyum ke arah ibunya.
“Ibu tahu, di rumah om Laska Amira selalu bangun pagi. Menyiapkan sarapan untuk om dan menjadi istri yang baik. Tetapi, Amira sedih karena telah berbohong.” Wajah Amira sudah kembali sedih.
“Ambil hikmahnya Sayang. Itu rencana Allah, mempertemukan kamu dan Laska dengan cara yang salah,” jelas Gina.
“Amira sayang Ibu,”
“Ibu pun juga.”
Tidak ada seorang ibu yang ingin anaknya bersedih, begitu pun Gina. Dia ingin yang terbaik buat Amira, dan itu ada pada Laska. Pria itu membuatnya yakin bahwa dia bertanggung jawab dan penyayang. Meski Gina tahu, sekarang ini Laska hanya sedang kecewa. Sebelum suaminya bertindak banyak, Gina harus bisa menggagalkan rencana pria itu.
Kau bukan lagi pelindung kami setelah mendapat banyak uang. Justru kau sekarang kami anggap seperti orang jahat.
Bersambung
__ADS_1
Yang nyariin om Laska, dia lagi semedi😂😂
Kalau si Cinta, dia lagi nyuci piring setumpuk di rumah Othor😂😂