Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 81


__ADS_3

Angin bergerak liar menerpa dedaunan pohon mangga, menerbangkan daun-daun yang sudah kering itu. Sinar rembulan masih muncul di langit hitam, menerangi bumi seisinya. Begitu pun bintang yang masih setia menampilkan bentuk indahnya di langit bersamaan dengan bulan.


Sepasang suami istri tengah menikmati suasana malam hari, Amira dan Laska duduk di kursi yang terletak di halaman rumah. Mereka menatap ke arah langit bersama, dalam satu pelukan hangat yang selalu membuat keduanya nyaman.


Amira begitu menikmati suasana malam ini, dia terus tersenyum. Sesekali matanya menatap ke arah Laska yang juga sedang menatap ke arahnya.


“Kamu suka?” tanya Laska seraya menyelipkan rambut Amira yang menutupi mata gadis itu.


“Suka banget!” jawab Amira antusias.


Laska tersenyum lalu mengecup kening istrinya itu, memeluk Amira kembali dengan erat. Tak membiarkan sang istri pergi.


“Bagaimana pekerjaan Om? Apa menyenangkan pertama kali masuk?” tanya Amira seraya menatap ke arah Laska.


“Lumayan. Pekerjaannya tidak terlalu sulit. Hanya memperkenalkan produk dan foto saja,” jawab Laska.


“Apa Om memang jago dalam bidang ini? Amira hanya takut nanti Om tidak suka dengan pekerjaannya,”


“Kalau tidak suka enggak bakalan aku ambil Sayang. Lagian, ini juga cita-cita aku sejak kecil. Ingin menjadi aktor, semoga setelah ini bisa memerankan film terbaik,” terang Laska sambil mengacak rambut Amira gemas.


“Serius? Amira pikir cita-cita Om jadi pengusaha, ternyata oh ternyata ingin jadi aktor. Tapi sepertinya Amira tidak mendukung, soalnya takut banyak cewek yang bakal naksir sama Om,” sewot Amira dengan wajah cemberut.


Laska hanya tertawa, malah semakin membuat wajah Amira jadi cemberut. Dengan gemas gadis itu mencubit pinggang Laska keras.


“Ya ampun Sayang. Sakit banget ini,” adu Laska.

__ADS_1


“Biarin, emang enak. Wlee.” Amira malah menjulurkan lidahnya.


Membangun rumah tangga agar harmonis, bukan hal yang mudah. Lika-liku perjalanan Laska dan Amira sangat sulit. Melawan rasa egois demi kepentingan bersama.


**


Amira baru keluar dari kamar mandi setelah mencuci kaki dan menggosok gigi. Dia langsung menuju lemari, mencari piama tidur untuk dipakai malam ini. Mata Amira menangkap baju kurang bahan yang tergantung di antara semua baju tidurnya. Ia mengambil baju itu, mengangkat ke depan tubuh.


“Apa harus sekarang?” tanya Amira pada diri sendiri. Sembari menatap tubuhnya dari pantulan kaca.


“Sebaiknya aku pakai saja, lagian ini juga sudah jadi tugas aku untuk melayani om Laska,” sambung Amira.


Dengan kemantapan hati, akhirnya Amira memakai lingeri hitam itu. Tubuhnya hampir nyaris terekspon semua. Rasanya begitu tak nyaman, tetapi Amira mencoba menahan demi Laska. Dia harus menyenangkan pria itu malam ini.


Laska yang baru masuk ke kamar, sudah disuguhkan dengan pemandangan yang membuatnya harus menelan ludah berulang kali. Amira begitu menggoda dimata Laska, apalagi gadis itu kini tengah tersenyum manis.


Amira merasakan darahnya berdesir, dia hanya bisa menutup mata saat bibir Laska mulai menelusuri leher jenjangnya.


“Boleh ya?” bisik Laska seraya menggigit kecil telinga Amira, membuat gadis itu kegelian.


Tak sanggup ingin mengucap apa-apa, akhirnya Amira hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Mendapat lampu hijau dari sang istri, Laska langsung menggendong tubuh mungil itu ala brydal style. Membawanya ke ranjang, dengan perlahan Laska menurunkan tubuh Amira.


“Amira takut Om,” cicit Amira dengan wajah pias. Menghentikan gerakan tangan Laska yang tengah membuka piama tidur miliknya.


“Kamu tenang Sayang. Aku tidak akan menyakiti kamu, percayalah.”

__ADS_1


Mendengar kalimat Laska, Amira tersenyum. Dia percaya dengan suaminya itu, pasti akan melakukan dengan lembut.


Meski awalnya terasa begitu sangat sakit, tetapi Amira bisa merasakan nikmat dunia yang sebenarnya. Air mata menetes dari kedua sudut mata, Amira bahagia bisa menjadi istri yang sesungguhnya. Memberikan apa yang selama ini selalu dia jaga pada Laska, pria yang sangat dia cintai.


“I love you, Sayang,” ucap Laska tepat di samping telinga Amira setelah puas menyetubuhi sang istri.


“Too, Mas Laska,” jawab Amira sembari memeluk tubuh Laska.


“Mas?”


“Iya, kenapa? Enggak boleh ya, manggil pake embel-embel itu?”


“Boleh kok,” balas Laska cepat. “Lagi ya Sayang.”


“Mas!!”


 Bersambung


Yey akhirnya buka segel juga. Nanti up lagi, othor mau tiup lilin dulu.


Amira: Ciee, othor ulang tahun.


Laska: Pibesday othor, emaknya semua personil Mendadak Menikah. Semoga semakin berjaya, bisa up tiap hari cerita ini seperti kisah yang lainnya. Sekali lagi selamat ulang tahun untuk emak.


Author: Makasih anak-anak emak. Kalian juga harus rajin cari duit.

__ADS_1


 


__ADS_2