Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 93


__ADS_3

Tidak terasa, pernikahan Aisyah dan Bara akan dilaksanakan hari ini. Di hotel termewah di Jakarta Selatan. Berulang kali Aisyah menghembuskan napas kasar, jantungnya sudah berpacu cepat. Peluh juga sudah membasahi pelipisnya, sembari menunggu Bara selesai mengucap kalimat sakral, berulang kali pula dia mengucap istrigfar.


“Alhamdulillah Sayang. Kamu sudah sah menjadi seorang istri,” ucap mamah Aisyah sembari memeluk putrinya. Tak terasa air mata Aisyah mengalir dari kedua sudut mata, dia terisak di bahu sang ibu.


Terima kasih ya Allah.


Suasana begitu riuh saat Aisyah masuk dari pintu utama gedung besar nan megah ini, semua mata tertuju padanya begitu pun Bara. Pria dengan kemeja putih itu tersenyum, menatap Aisyah dalam sekali.


Pak Jefri yang berdiri di samping putra angkat, segera mendorong pelan lengan Bara agar menghampiri Aisyah.


“Apa harus?” Pertanyaan konyol dari Bara membuat Pak Jefri menepuk kening pelan.


“Ya sudah, biar Bapak saja yang menjemput istrimu,” sela Pak Jefri cepat. Gegas Bara menahannya dengan wajah dingin.


“Akan Bara lakukan sendiri.”


Perlahan, kaki yang sedikit bergetar itu melangkah. Mendekati Aisyah yang masih juga berjalan di atas karet merah. Keduanya saling pandang, ada binar kebahagiaan di mata keduanya.


“Mereka sweet banget ya, Mas,” ucap Amira sembari menangkupkan kedua pipinya.


Amira, Laska dan Gina memang datang. Mereka mencoba menyempatkan waktu untuk hadir mengisi undangan yang telah Aisyah berikan.


“Kita lebih sweet,” jawab Laska dingin. Tatapannya tak mengindah dari wajah sang istri. Dia tak peduli seromantis apa si kedua pengantin, karena Laska hanya ingin menatap wajah Amira saja.

__ADS_1


“Apaan sih Mas? Aku gak baper.”


“Memangnya siapa yang gombalin kamu. Dasar!” Laska mengacak pelan rambut Amira, membuat wanita itu kesal.


“Awas saja kalau rambut Amira berantakan! Mas bakalan dihukum!” ancam Amira melotot ke arah suaminya.


Kembali pada pengantin yang baru sah beberapa menit lalu, Aisyah tampak kaku saat akan meraih tangan Bara untuk dicium. Begitu pun Bara, mendadak jantungnya tak bisa diajak kompromi.


Perlahan tapi pasti, Aisyah meraihnya. Meski masih gemetar, dia mencoba mencium dengan takzim. Membuat aliran darah seperti tersengat, saat kedua kulit itu saling bersentuhan.


“Assalamualaikum suamiku,” ucap Aisyah setelah mengecup punggung tangan Bara.


Bara mendadak linglung, dia merasa malu. Pipinya kini sudah menghangat, mungkin saja sudah terlihat memerah.


Aisyah hanya tersenyum simpul melihat wajah sang suami, dia masih menunggu. Apakah akan ada balasan dari sang suami, seperti memberikan kecupan di dahi singkat. Seperti yang dia baca di Novel-Novel Islami.


Menghembuskan napas sejenak, Bara meredam gejolak dalam dada. Dia bergerak pelan mendekati Aisyah, jarak bibirnya dengan kening wanita itu cukup dekat. Sembari mengucap bismillah, Bara mengecupnya pelan. Cukup lama. Hingga hangat menjalar di seluruh tubuh Aisyah, dia kembali menangis.


“Terima kasih sudah mau menjadi bagian dari hidupku,” bisik Bara tepat di samping telinga Aisyah.


Wanita tersebut hanya mengangguk dengan malu-malu. Tangannya sudah berada di lengan sang suami, mereka membalikkan badan menghadap para tamu. Tersenyum semanis mungkin.


**

__ADS_1


Setelah kembali dari pernikahan Bara dan Aisyah. Amira langsung masuk ke kamar, diikuti oleh Laska. Wanita yang sedang membuka pita di rambutnya terkejut saat merasakan ada tangan yang memeluk pinggangnya. Amira tahu itu perbuatan siapa.


“Mas, ih. Amira mau mandi,” ujar Amira berusaha melepaskan tangan Laska dari pinggangnya.


“Gini aja dulu Sayang. Mas rindu kamu,” balas Laska semakin mempererat pelukannya.


Amira diam, dia menikmati harum yang menguar dari tubuh sang suami. Matanya terpejam, memegang erat tangan Laska.


“Aku takut, Mas,” lirih Amira tiba-tiba, membuat Laska langsung membalikkan tubuh Amira.


“Ada apa Sayang?” tanya Laska seraya mengusap air mata yang sudah mengalir dari mata Amira.


“Amira hanya takut, kita tidak bisa seperti ini lagi. Walaupun nanti Mas hanya enam bulan di Korea, tapi rasanya pasti seperti bertahun-tahun,” ucap Amira masih tersedu-sedu. Laska segera meraih tubuh istrinya, mengecup kening wanita itu berulang kali.


“Kamu tenang ya Sayang. Mas pasti akan segera kembali kalau uang Mas sudah banyak. Kamu jangan kuatir, Mas tidak akan pernah melupakanmu,” janji Laska.


“Amira percaya itu.”


 


 Bersambung


Adakah di sini yang LDR an sama suami?

__ADS_1


__ADS_2