
Baru saja keluar dari kamar, Aisyah sudah dikagetkan oleh keberadaan Bara. Pria itu tengah tidur di kasur hotel dengan menyanggah kepala menggunakan sebelah tangan. Mata Bara tak lepas dari Aisyah. Menelisik dari bawah sampai atas tubuh sang istri. Setelah itu, Bara mengernyit heran, saat mendapati Aisyah masih memakai hijab.
“Apa tidak panas? Akan tidur memakai hijab?” Bara membuka suara.
“Ah, tidak kok Mas,” jawab Aisyah gugup. Dengan cepat dia beranjak ke kaca rias untuk membersihkan riasan.
Bara sendiri, tak beranjak dari kasur. Malah menarik selimut hingga dada, matanya sudah hampir terpejam. Tapi ketika mendengar suara barang jatuh, kembali terbuka. Aisyah menjatuhkan bedak, mungkin saja karena gugup.
Melihat tak ada yang aneh lagi, Bara kembali menutup mata. Baru beberapa menit terpejam, dengkuran halus sudah terdengar dari bibir pria itu. Aisyah yang baru ingin duduk di kasur, mendesah kesal.
“Dasar suami! Masa tidur duluan dibanding istrinya,” omel Aisyah seraya menoel-noel pipi Bara. Dia duduk di dekat Bara tidur.
Tak ada pergerakan dari sang empu, Aisyah semakin menoel keras. Bahkan tak segan-segan menggigit tangan Bara pelan.
“Eugh,” lenguh Bara membuat Aisyah kelabakan. Dengan cepat dia masuk ke dalam selimut, lalu pura-pura tertidur.
Udara seakan berhenti berembus, Aisyah kehabisan napas saat tangan Bara sudah berada di pinggangnya. Pria itu memeluk dia dengan erat dari belakang. Aisyah juga merasakan embusan di dekat telinganya. Dia memang sudah membuka hijabnya tadi, setelah memastikan Bara tidur lelap.
“Tidur. Sudah malam. Aku tahu kamu lelah, makanya begadangnya besok saja,” ucap Bara dengan parau, membuat Aisyah merinding.
Aisyah berusaha melepaskan tangan Bara, tetapi pria itu semakin mengeratkannya. Lagi-lagi Aisya menggeliat geli saat dagu Bara mengenai leher yang tak tertutup.
“Jangan membangunkan macam tidur, atau kamu bakalan menyesal nantinya,” ancam Bara membuat Aisyah langsung diam.
__ADS_1
Susah payah dia memejamkan mata, meski sampai beberapa menit pun tak bisa tertidur. Aisyah terkejut saat tiba-tiba Bara membalikkan tubuhnya jadi menghadap pria itu. Semakin kencang pula jantungnya berdetak.
“Kenapa? Belum ngantuk?” tanya Bara sembari mengusap mata Aisyah. Pria itu sepertinya menahan kantuk demi sang istri, terlihat dari matanya yang sesekali tertutup.
“Belum,” jawab Aisyah tanpa berani melihat ke arah Bara.
“Tidulah. Aku akan menepuk-nepuk punggungmu.”
Mendapat perlakuan seperti itu, semakin membuat mata Aisyah enggan terpejam. Dengan keberanian yang dia punya, Aisyah meletakkan sebelah tangannya di pinggang Bara. Sedangkan sebelah tangannya lagi, ditaruh di dada bidang sang suami.
“Konon katanya, dada bidang seorang suami itu sangat membuat nyaman. Kalau kamu mau, bisa letakkan kepalamu di sini. Siapa tahu bisa tidur,” ucap Bara. Aisyah tersenyum kecil.
“Masa sih, Aisyah nggak pernah dengar yang begitu,” balas Aisyah.
Pelan-pelan Aisyah mengangguk. Lalu meletakkan kepalanya lebih dekat dengan dada bidang Bara. Menikmati harum yang menguar dari tubuh sang suami. Perlahan tangan Bara semakin erat memeluk pinggang Aisyah, sesekali dia mengecup pucuk kepala wanita itu.
Kecupan di dada, membuat mata Bara terbuka kembali. Dia memperhatikan Aisyah yang terus menerus mengecup dada bidangnya yang terhalang baju.
“Kamu lebih suka cium dada, dari pada wajah saya?” Pertanyaan formal dari Bara mengagetkannya Aisyah. Dengan cepat dia menarik wajahnya.
“Apa? Aku? Tidak!” Aisyah langsung membelakangi suaminya itu. Pipinya sudah memerah, sungguh dia sangat malu.
“Ya sudah. Tidurlah Aisyah. Atau kamu ingin itu?”
__ADS_1
“Apa sih Mas?” jawab Aisyah ketus.
Tak ada senyum di wajah Bara, jemarinya bergerak menyentuh wajah Aisyah yang sudah terpampang ke arahnya kembali. Memainkan alis wanita itu.
“Aku hitung sampai tiga. Kalau tidak tidur, maka terpaksa aku melakukannya.”
“Apaan sih?”
“Satu.”
“Mas!”
“Dua,” ucap Bara lagi.
“Ti ....” Sengaja Bara menggantung kalimatnya, lalu mengerling ke arah Aisyah.
Cepat-cepat wanita itu menutup matanya. Bara hanya geleng-geleng kepala, dia kembali memeluk Aisyah degan erat. Dan meletakkan tangan sang istri di pinggangnya.
*****
__ADS_1