Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 56


__ADS_3

Amira berlari sekuat tenaga, jalanan yang dia lalui sepi. Karena memang ini gang menuju perumahan. Merasa ayahnya dan selingkuhannya itu sudah dekat, Amira tak punya pilihan lain selain sembunyi di dekat pembuangan sampah.


Dia berjongkok di balik gerobak besi yang mangkak di dekat tempat sampah. Amira terus menutupi mulut agar tangisnya tak terdengar.


“Ke mana coba anak kamu itu? Bikin pusing aja!” gerutu Saras sambil melihat ke sana kesini.


“Aku tidak tahu!” jawab Jinon cepat.


“Ini semua salah kamu, Mas. Terlalu memanjakan dia, kalau saja dari kemarin kita tangkap itu si Amira. Pasti sekarang kita aman, gak dijadikan buronan lagi!” omel Saras membuat kepala Jinon mau pecah.


Mendengar perdebatan ayahnya dan Saras, Amira semakin menutupi mulutnya. Dia berusaha menahan tangis, dengan menggigit bibir bawah juga.


“Ya sudah, mending kita pergi dari sini. Setidaknya terhindar dari polisi!” ucap Saras yang langsung dijawab anggukan oleh Jinon.


Kedua orang itu sudah pergi, kini Amira bisa bernapas lega. Dia kembali menumpahkan tangisnya yang belum tuntas. Dadanya terasa sakit, seperti banyak sekali benda berat yang mengimpit.


“Amira!” Teriakan Dimas terdengar jelas ditelinga Amira, dengan cepat gadis itu berlari keluar dari persembunyiannya.


“Dimas!”


Amira langsung memeluk tubuh Dimas dengan air mata yang terus mengalir. Dia menangis sesenggukan di dada bidang pria itu. Seorang pria yang menyaksikan aksi pelukan Amira, hanya bisa mengalihkan pandangan dengan hati berdenyut cemburu.


“Ayah jahat!” Tangis Amira semakin menjadi.


“Kamu tenang ya,” tutur Dimas sembari mengusap punggung kecil Amira.


Ibu Amira mengerti, dia langsung berjalan mendekati putrinya saat melihat aura kecemburuan di wajah Laska.


“Ehem. Sayang kamu baik-baik saja?” tanya Gina seraya mendekati Amira. Gadis itu langsung berhambur ke pelukan ibunya.


“Ibu, ayah. Ayah jahat!” ucap Amira sambil menangis, Gina hanya bisa mengusap punggung putrinya.


“Sabar Nak, sabar.” Gina berusaha menenangkan putrinya, meski dia tahu itu sangat susah.


Sedangkan Laska yang melihat itu, meraup udara dengan rakus. Agar sesak di dada sedikit berkurang, dia juga tak percaya dengan kelakuan ayah mertuanya. Begitu tega menyakiti putri satu-satunya.


Air mata masih terus mengalir dari sudut mata Amira, dia sudah berusaha untuk menahannya tetapi tetap saja tidak bisa.


“Itu Laska di sini,” bisik ibunya membuat Amira langsung menatap ke depan. Dia perlahan melepas pelukan pada Gina, dan berlari ke arah Laska.


Dengan sigap Laska merentangkan tangannya, menerima pelukan dari sang istri. Lagi-lagi Amira menangis.


“Om, ayah jahat! Dia ingin mengorbankan aku demi keegoisannya,” adu Amira pada Laska.


“Tenang Amira, jangan buat air matamu habis hanya untuk menangis. Coba tenangkan diri kamu, masalah ini sudah selesai. Ayah kamu sudah jadi buronan polisi, kita tinggal melihat apakah mereka sanggup berlari sejauh mungkin,” ujar Laska dengan lembut, dia tak berhenti menciumi pucuk kepala istrinya.

__ADS_1


“Om tahu dari mana?” Amira melepaskan pelukannya, dia mengusap air mata di wajah dan cepat menatap ke arah Laska.


Pria yang ditanyai diam, Laska malah menarik tangan Amira agar segera mengikutinya.


“Ayo pulang,” ajak Laska.


“Iya Nak, lebih baik kita pulang dulu,” timpal Gina.


“Iya.” Amira menatap ke belakang, melihat sosok Dimas yang masih berdiri di sana.


“Makasih Dimas,” ucap Amira seraya mengembangkan senyumnya. Dimas mengangguk.


“Aku juga minta maaf karena membuatmu harus kena masalah ini, maaf ya. Lain kali kita bertemu lagi.”


Dimas dan Amira berpisah arah. Dia bahagia ternyata Dimas bisa mengerti. Masih dengan senyum yang merekah, Amira mengeratkan genggaman jemarinya pada Laska.


**


Mobil Laska memasuki halaman rumah orang tua Amira, dia menepikan mobilnya setelah itu keluar untuk membuka pintu Amira dan ibunya.


Begitu kagetnya Amira setelah keluar dari mobil, pintu rumahnya sudah ditempel kertas bertulisan ‘rumah ini disita’. Rasanya Amira ingin menangis kembali, dia langsung memeluk ibunya dengan erat.


“Bu, kenapa seperti ini?”


“Sabar Nak. Kita harus ikhlas. Lebih baik kita kemasi semua barang-barang kita.” Gina mengajak Amira untuk masuk diikuti Laska di belakangnya.


Dia melihat ke arah ranjang, rasanya tak bisa pergi dari rumah ini. Banyak sekali kenangan yang Amira tidak bisa lupakan.


“Amira, sini.” Laska sudah duduk di ranjang istrinya, dia menepuk pelan kasur di sebelahnya.


 “Iya Om?” tanya Amira sembari berdiri di depan Laska.


“Duduk dulu,” pinta Laska.


Setelah duduk, Amira kembali menatap wajah Laska. Gadis itu mengusap pelan pipi suaminya.


“Kamu dan ibu akan tinggal di rumah kita, jangan khawatir,” tutur Laska dengan lembut, jemarinya sudah memegang pipi Amira.


“Terima kasih sudah baik denganku, Om,” lirih Amira menahan tangis.


“Syut. Jangan bicara begitu, kamu istri aku. Sudah sewajarnya aku memperlakukan kamu dan ibu seperti ini.”


“Aku dan ibu pasti sangat berterima kasih. Sekali lagi terima kasih, sudah hadir di dalam hidupku.” Amira langsung berhambur di pelukan Laska.


“Sama-sama. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah, fokus belajar. Tidak lama lagi kamu akan lulus, buat ibu bahagia,” ucap Laska yang langsung diangguki oleh Amira.

__ADS_1


“Ini masih di tengah Amira, masih banyak masalah yang akan kita lewati,” sambung Laska membuat Amira langsung melepaskan pelukannya.


“Maksud Om apa?” tanya Amira bingung.


Laska menghembuskan napas perlahan, dia meriah jemari Amira. Dikecupnya pelan, setelah itu ia genggam dengan erat.


“Pokoknya, jika masalah datang menghampiri kita kembali. Kamu hanya perlu fokus sekolah, jangan pikirkan itu. Biar aku yang mengurus semuanya, kamu mau berjanji ‘kan Amira?” Laska berbicara dengan serius, membuat Amira merasa ada sesuatu yang suaminya sembunyikan.


“Masalah apa, Om?”


“Intinya masalah ini akan mengorbankan dua hati, tapi kamu jangan khawatir. Aku bisa menyelesaikannya sendiri,”


Amira semakin bingung dengan ucapan Laska, tetapi dia memilih diam saja dan mengangguk sesuai keinginan Laska. Pria itu kembali membawanya ke dalam pelukan, memberikan kehangatan untuk Amira.


**


Pintu utama terbuka dengan lebar, hingga terlihat isinya yang sangat amat Amira rindukan. Dia menatap ke arah ibunya, wanita itu tersenyum bangga.


“Kamu memang suami yang baik Laska, ternyata Ibu tak salah,” ucap Gina.


“Memang seharusnya suami seperti ini, Bu. Sekarang, anggaplah rumah ini seperti rumah Ibu,” pinta Laska dengan tulus, membuat air mata sedikit menetes dari sudut mata Gina.


“Om, apa rumah ini selalu bersih?” Sontak Laska menggaruk tengkuknya yang tak gatal seraya cengengesan tak jelas.


“Aku lupa membersihkannya tadi pagi,” jawab Laska lirih.


“Tidak masalah, nanti Ibu bantu beresin.”


Amira mendekati suaminya, dia menatap tajam Laska.


“Bukankah aku ratu di rumah ini?” tanya Amira sambil menaikturunkan alisnya.


“Iya iya kamu ratu,” balas Laska cepat.


“Ya sudah, kalau gitu ratu dan ibunda ratu mau istirahat dulu,” ucap Amira yang langsung mendapat reaksi jengah dari Laska.


“Kamu—“


“Om sayang Amira ‘kan? Kalau gitu tolongin ya, masak dulu. Entar Amira bantuin cuci piring deh.” Amira tertawa penuh kemenangan, sedangkan Laska, pria itu mendecih dan langsung mengejar istrinya.


 


Bersambung


Apa bakalan konflik terus sampai ending? komen bawelnya dong.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan berikan hadiah sedikit ya. Kalau bisa vote juga😂🤭 Othor banyak maunya😂


__ADS_2