Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 54


__ADS_3

“Om Laska! Ngapain di sini?” pekik Amira setelah tangan Laska lepas dari mulutnya.


Laska tidak menjawab, dia malah menutup pintu balkon Amira dan berjalan ke arah ranjang. Tentu saja dengan diikuti Amira yang masih penasaran dan bingung.


“Duduk dulu,” pinta Laska sembari menepuk pelan kasur di sebelahnya.


“Oke.” Amira langsung duduk, sesuai dengan permintaan Laska.


Keduanya saling pandang, kerinduan begitu jelas terlihat dari mata keduanya. Laska tersenyum, lalu menundukkan kepalanya.


“Om jawab, kenapa ke sini? Terus kenapa bisa masuk?” tanya Amira kembali dengan menggebu. Laska tertawa pelan melihat wajah istrinya.


“Kamu enggak suka kalau aku ke sini?” Laska balik bertanya sembari menaikturunkan sebelah alisnya.


“Bukan gitu, malah aku senang banget. Cuma, yang buat aku bingung. Kenapa Om bisa lolos dari semua suruhan ayah,” ucap Amira.


“Suruhan? Siapa?” Sekarang Laska yang gantian kebingungan, pria itu terus menatap ke arah Amira dengan intens.


Menghembuskan napas kasar, Amira siap menceritakan semuanya.


“Jadi, ayah tuh menyuruh lima belas orang untuk menjagaku. Tidak ada yang boleh bertemu aku, termasuk Om,” jelas Amira, Laska hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Tapi tadi waktu aku masuk ke halaman rumahmu, tidak ada siapa pun kecuali pak satpam yang baik hati. Dia dengan senang hati membukakan gerbang untukku,”


“Serius? Terus semua orang suruhan ayah ke mana?”


“Enggak tahu,” jawab Laska sambil mengangkat bahunya.


Amira kembali terdiam, dia mencoba berpikir. Ke manakah orang-orang besar nan menakutkan itu? Apa ayahnya sudah memecat semuanya? Ini sungguh membuat Amira pusing, tetapi juga senang.


“Kamu enggak rindu aku? Enggak mau peluk?” tanya Laska dengan wajah cemberut sambil merentangkan tangannya.


Melihat itu, Amira hanya bisa tertawa kecil. Namun, detik berikutnya dia langsung berhambur ke pelukan Laska. Mencari kehangatan yang selama ini dia rindukan. Harum parfum Laska membuat candu untuk Amira, gadis itu terus mengendus-endus di dada bidang suaminya.


Laska semakin mengeratkan pelukannya. Jika dikata rindu, dia sangat sangat merindukan Amira. Berulang kali Laska mengecup pucuk kepala istrinya, dengan sayang.


“Om, maaf,” lirih Amira masih terus memeluk Laska.


“Untuk?” Laska bertanya sambil mengusap pelan punggung Amira.

__ADS_1


“Kebohongannya,” sambung Amira lagi. Dengan cepat Laska melepaskan pelukannya, dan membingkai wajah istrinya menggunakan kedua tangan.


“Jangan bahas itu lagi, sekarang yang harus kita pikirkan. Bagaimana kita bisa bersatu kembali,” pinta Laska.


“Iya,”


Amira kembali memeluk Laska, sungguh dia masih sangat rindu dengan pria ini. Sedangkan yang dipeluk, hanya bisa diam dan terus mengusap punggung Amira.


“Amira!” Teriakan ayahnya terdengar, membuat Amira dan Laska kalang kabut.


Setelah teriakan disambut dengan ketukan pintu, itu semakin membuat Amira ketakutan. Berulang kali dia bertanya pada Laska.


“Om gimana ini?” tanya Amira dengan wajah pias, air mata hampir saja meluncur.


“Kamu tenang oke?” Laska mulai mencari tempat persembunyiannya. Akhirnya pria itu menatap ke arah lemari. Dia masuk ke dalam sana dan menyuruh Amira untuk menguncinya.


“Aku enggak bisa Om, kalau nanti terjadi sesuatu dengan Om di dalam sana gimana?”


“Jangan khawatir Amira. Cepat kunci pintunya!” pinta Laska.


“Baiklah.”


“Kamu bicara dengan siapa?” tanya sang ayah dengan tatapan menusuk.


Takut-takut Amira menjawab, “Tidak ada Yah. Amira sendirian di sini. Mungkin saja Ayah mendengar obrolan di laptopku kali.”


“Kamu sedang menonton?” tanya ayahnya kembali sambil melirik ke arah laptop di kasur.


“Iya,”


“Mungkin. Ya sudah, tidurlah sudah malam ini,” perintah ayahnya yang langsung diangguki oleh Amira.


Setelah ayahnya pergi, dengan cepat Amira menutup pintu kamarnya. Tak lupa dia juga menguncinya, agar tak ada yang masuk dengan sesuka hati. Kini dia mendekati lemari, mengambil kunci dari saku celana dan segera membukanya.


Sosok pria yang sejak tadi bersembunyi, kini keluar. Berulang kali Laska menghirup udara dengan rakus, membuat Amira menjadi serba salah.


“Maaf Om.”


“Tidak apa. Ya sudah, tidurlah,” ujar Laska.

__ADS_1


“Om akan pergi?” tanya Amira dengan wajah sedih. Baru saja dia melepas rindu, kini Laska sudah harus pergi.


“Iya. Aku takut ayahmu marah,” jawab Laska sembari mengacak rambut Amira.


Terdiam sejenak, Amira kembali membuka suara, “Setidaknya temani aku sampai tertidur. Aku mohon Om.”


Berpikir-pikir ulang. Sebenarnya Laska takut sang istri akan dimarahi oleh ayahnya. Dia hanya tidak ingin, sang ayah Amira memisahkan mereka selama-lamanya. Seperti ancaman pria itu.


“Om, Amira mohon.” Amira sudah menggenggam jemari Laska dengan tatapan mengiba. Bahkan dia terus memasang wajah sedih agar Laska merasa kasihan.


“Baiklah, aku akan temani kamu sampai tertidur,”


“Ho—“


“Syutt.” Laska menempelkan jari telunjuknya di bibir, membuat Amira langsung menutup mulut dan mengangguk-angguk paham.


Amira menarik pelan tangan Laska agar mengikutinya untuk berbaring di ranjang. Dia menyingkirkan laptop, dan menaruhnya di meja. Setelah itu berbaring di sana. Dengan senang hati Laska mengikuti, pria itu menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.


“Om rindu tidak dengan Amira?” tanya Amira seraya mengusap-usap dada bidang Laska.


“Hmm,” jawab Laska.


“Kok cuma hemm? Jawab dong.”


“Iya aku rindu.” Amira tersenyum puas mendengar jawaban Laska. Dia mengangkat wajahnya agar dapat melihat wajah Laska.


Cup


Mengalungkan tangan di leher Laska, Amira masih setia menempelkan bibirnya di bibir pria itu. Namun, tak ada balasan dari Laska. Dengan cepat Amira menjauhkan wajahnya, dan melihat ke arah Laska. Ternyata sang suami sudah tidur lebih dulu.


“Dasar Om Laska, katanya mau nemenin aku sampai tidur. Kok malah jadi aku yang nemenin dia sampai tertidur,” gerutu Amira sembari tertawa kecil. Dia mengusap pelan rambut Laska, lalu semakin mendekatkan tubuhnya pada pria itu.


Terasa tangan Laska semakin mengeratkan pelukannya. Dia mengusap punggung Amira dengan lembut.


 Bersambung


Horeee! Othor up pagi😂😂


Terima kasih untuk semua pembaca yang sudah memberikan Like maupun komen dan hadiah untuk novel ini. Othor sangat sangat senang. Tapi maaf, othor tidak bisa membalas komentar kalian satu persatu karena disibukkan dengan dunia nyata. InsyaAllah kalau ada waktu nanti, pasti dibalas kok.

__ADS_1


Selamat membaca dan berhalu ria😂😂


__ADS_2