
Mata Aisyah menatap ke arah jas Bara, lalu gadis yang masih mematung di depan Bara. Terlihat gurat kebingungan di wajah gadis itu, justru membuat Aisyah merasa aneh.
“Lain kali hati-hati ya Mbak. Ini bisa membahayakan jika tadi kopi atau teh panas,” saran Aisyah.
“Ha? Iya maaf Mbak, saya benar-benar tidak sengaja tadi,” ucap gadis itu, tetapi tak berniat pergi.
Kini tatapan gadis itu malah mengarah ke Bara, mengabsen semua yang ada di wajah Bara. Dari mulai mata sampai bibir pria yang kini menatap ke arahnya. Sedangkan Aisyah, dia menatap kedua manusia di dekatnya dengan tatapan bingung.
“Maaf Mas Bara, Ai tidak sengaja.” Kata-kata yang keluar dari bibir gadis bernama Ai itu membuat Aisyah terkejut.
“Tidak masalah,” jawab Bara, mencoba tersenyum meski terpaksa.
Sungguh, Aisyah ingin pergi saja dari sana. Adegan ini menyakiti hatinya, Bara tersenyum? Yang benar saja, dia tak pernah melihat senyum itu meski akan menjadi pendamping hidup Bara. Tapi ini, sungguh sangat menyakitkan.
“Maaf, saya permisi,” pamit Aisyah langsung pergi untuk keluar dari restoran.
Bara yang menyadari itu, melototkan bola matanya. Tanpa mengucapkan kalimat kembali, dia segera berlari mengejar Aisyah. Gadis bernama Ai itu tersenyum getir, dia menundukkan kepala. Menyesali sesuatu yang dia buat dulu.
Sepanjang jalan, Aisyah hanya bisa menghembuskan napas pelan. Matanya fokus ke depan, tentunya dengan hati yang masih sedikit sakit dan selalu bertanya-tanya. Siapa gadis itu? Apakah ada hubungan dengan Bara? Batin Aisyah terus saja mengumbar pertanyaan.
“Aisyah tunggu dulu! Aku bisa jelasin.” Bara berusaha menggapai tangan Aisyah, tetapi langsung ditepis oleh wanita itu.
__ADS_1
Dengan terpaksa dia berhenti, menatap Bara tanpa senyuman.
“Dia bukan siapa-siapa aku. Percayalah,” kata Bara. Aisyah mengernyit heran.
“Maaf Mas, tapi Aisyah tidak bertanya. Atau jangan-jangan, ada sesuatu yang Mas sembunyikan,” pungkas Aisyah.
“Tidak ada! Sama sekali tidak ada!”
Aisyah terkejut mendengar jawaban Bara dengan suara bernada sedikit tinggi. Apakah ucapannya salah? Kenapa Bara seperti itu?
Wanita tersebut tak mau ambil pusing, dia kembali berjalan menyusuri kota Jakarta. Tentunya Bara juga mengikuti dari belakang, walaupun perasaannya masih campur aduk.
Meyakinkan Asiyah tidak segampang pikirannya, dia pikir wanita itu akan gampang bila sudah dijelaskan meski tak detail. Tetapi malah sebaliknya, Aisyah lebih cerdas dari pada dia.
“Mas ini kenapa sih? Aisyah kan nggak tanya. Dan nggak mau tahu,” jawab Aisyah kesal.
“Aku hanya memberi tahu, takutnya kamu cemburu karena gadis tadi,”
“Mana mungkin. Aku tahu, tipe Mas tidak seperti itu? Bukankah benar?” sahut Aisyah.
Bara meringis, andai saja Aisyah tahu. Bahwa gadis tadi, adalah sosok yang saat ini masih menempati posisi kedua setelah ibu di hati Bara. Namanya masih terukir indah di kalbu, belum tergantikan dengan nama yang lain. Aiya, gadis yang sangat Bara cintai. Gadis yang selalu dia sebut dalam doanya, meski itu dulu.
__ADS_1
“Iya,” jawab Bara gugup.
“Tapi sepertinya gadis tadi kenal Mas, memangnya Mas Bara juga kenal?” Pertanyaan Aisyah kembali terlontar, dengan langkah yang kini sudah pelan.
“Dia teman Cinta, iya Cinta,”
“Cinta adik Mas?”
“Iya,” balas Bara.
“Boleh nggak, aku kenalan sama Cinta? Pengin banget loh,” pinta Aisyah sembari menangkup kedua pipinya.
Hal itu sukses membuat debaran di dada Bara kian terasa. Dia melihat wajah Aisyah yang kini begitu menggemaskan, lalu mengangguk. Tanpa sadar, senyumnya terlukis di wajah membuat Aisyah bahagia.
“Jadi kapan Aisyah bisa ketemu?”
“Cinta masih sibuk kuliah, kalau mau VC, bisa. Gimana, mau gak?” tawar Bara.
“Boleh banget!” Aisyah dengan antusias meraih ponsel Bara dari genggaman pria itu.
Dia langsung membuka aplikasi WA untuk mencari kontak Cinta. Cukup menunggu sedikit lama, telepon tersambung. Kelihatan raut kaget di wajah Cinta di layar sana, lalu seketika gadis itu tersenyum dan menyapa Aisyah. Sedangkan Bara hanya diam, sesekali melirik ke arah Aisyah yang begitu asyik berbicara dengan Cinta.
__ADS_1
Kamu begitu baik, mau menerima aku meski aku sendiri belum bisa mencintai kamu. Terima kasih ya Allah, sudah menghadirkan wanita sesolehah Aisyah. Hamba meminta restu dari-Mu, ibu dan ayah yang sudah berada di sisi-Mu sana.