
“Kenapa marah pada Laska, Nak?”
Amira masih enggan bertemu dengan Laska semenjak kejadian kemarin malam. Gadis itu memilih tidur dengan ibunya. Menceritakan apa yang terjadi dan meminta saran pada wanita yang sudah melahirkannya itu.
“Mas Laska sih,” jawab Amira sambil menekuk wajahnya.
“Dia enggak salah Sayang. Malah ini keberuntungan, jarang sekali perusahaan merekrut pekerja yang baru seperti Laska. Apalagi untuk mengiklankan produk mereka,” jelas Gina.
“Tapi Bu ....” Amira menjeda kalimatnya, dia menghembuskan napas dengan kasar.
“Biarkan dia pergi Sayang, ini juga untuk mencari nafkah buat kamu. Bila perlu, kamu ikut saja dengannya,” usul Gina lagi, sukses membuat Amira bingung.
Bukan tidak ingin ikut dengan Laska, tetapi Amira memikirkan kemungkinan-kemungkinan besar yang akan terjadi di sana. Dia hanya membebankan Laska saja, itu pasti.
“Ya, Mas Laska diberi hotel untuk dia tinggal, tetapi apa itu akan berjalan selamanya? Kalau Amira ikut, pasti akan membebankan Mas Laska aja. Apalagi, mengingat kalau nanti fansnya bakalan banyak, Amira gak mau diserbu,” ujar Amira. Gina mengangguk mengerti dengan apa yang putrinya ucapkan. Itu ada benarnya.
Amira dan Gina saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Mungkin agak berat untuk Amira, bukannya tak mau ikut atau melepaskan suami untuk kerja di negara tetangga. Hanya saja, dia tak ingin jauh meski Laska sudah mengajaknya. Pemikiran Amira terlalu fokus pada apa yang akan terjadi nantinya.
“Jadi bagaimana keputusan kamu, Sayang?” Gina kembali membuka suara, menatap putri semata wayangnya dengan intens.
“Amira tidak bisa menahan Mas Laska. Semua ada di tangan suami Amira, dan aku tidak bisa melarangnya,” jawab Amira membuat Gina bahagia. Putrinya sekarang sudah bisa berpikir dewasa, tanpa harus dia tuntun terlebih dahulu.
__ADS_1
“Ya sudah. Katakan itu pada suamimu dengan segera,”
“Iya Bu. Pasti.”
Amira memeluk ibunya, mungkin pilihannya ini yang terbaik. Tetap di Indonesia dan terus mendoakan Laska yang akan menetap di Korea.
**
Semarang
Gadis memakai gamis maroon beserta hijab berwarna abu tua, baru saja masuk ke dalam rumahnya. Rumah minimalis yang ditumbuhi banyak sekali pohon sebagai tempat meneduh, atau sekadar untuk tempat santai-santai. Masih dengan konsep yang sama dengan di Jakarta, rumah Cinta yang di Semarang juga memiliki halaman yang sangat asri. Dan pemilihan cat untuk rumah, dengan sangat estetik.
“Assalamualaikum, halo Bang? Ada apa?” tanya Cinta setelah sambungan terhubung. Cukup lama tak ada jawaban dari Bara, hanya deheman saja.
“Kamu lagi apa, Dek?” Basa basi Bara.
“Baru pulang kuliah. Memangnya kenapa?”
Jujur Cinta sangat sebal dengan abangnya ini, sangat suka bertele-tele. Bukannya langsung saja, malah memperlambat waktunya untuk istirahat.
“Enggak suka ya, Abang telepon?”
__ADS_1
“Bukan gitu Bang. Hanya saja, Cinta penasaran. Tumben Abang telepon siang-siang begini?” Cinta menyusun bukunya sembari terus menunggu jawaban dari sang abang.
“Sore ini Abang mau ngelamar seseorang. Kamu merestui ‘kan?”
“Apa?!”
Jantung Cinta ingin lepas dari tempatnya saat mendengar ucapan Bara. Yang benar saja pria itu, seingat Cinta. Satu bulan yang lalu, Bara mengaduh padanya karena diselingkuhi sang pacar. Dan sekarang, dia mengaku ingin melamar seseorang dan meminta restu pada Cinta. Sungguh, ini pemikiran yang membuat Cinta bingung sekaligus bahagia. Setidaknya, diusia yang sudah cukup matang, abangnya mau berumah tangga.
“Siapa yang mau Abang lamar? Orang mana? Cantik atau tidak? Dan dari keluarga seperti apa?” Pertanyaan Cinta dibalas helaan napas panjang oleh Bara.
“Lagi nanya atau wawancara Dek?”
“Nanyalah. Ayo jawab!” Cinta terus memaksa Bara.
“Namanya Aisyah. Kalau mau tahu lebih lagi, entar Abang minta jawaban dari dia,” celetuk Bara. Rasanya Cinta ingin melemparkan ponsel yang dia genggam ke kepala abangnya, kalau tak mengingat pria itu sedarah dengan dia.
Bersambung
Ah, othor rindu mbak Cinta. Apalagi sama mas Alfa. Rindu bangett! Tapi mereka sibuk, kemarin bilang gak mau diganggu dulu😁🤣
__ADS_1