
“Amira, dengarkan dulu penjelasanku!”
“Lepas! Aku gak mau dengar apa-apa!” teriak Amira, menyentak kuat tangan Laska.
Pasangan suami istri itu tengah berada di tengah-tengah tangga, Amira belum mau mendengar penjelasan Laska yang tak bisa datang ke acaranya. Namun sepertinya Amira tidak mau mendengar.
“Sayang, dengarkan dulu,” bujuk Laska tetapi Amira acuh.
Gadis itu berjalan masuk ke dalam kamar, dia langsung menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut. Laska ikut naik ke ranjang.
“Amira,” panggil Laska pelan seraya menyentuh bahu Amira.
“Apa sih Om?” cetus Amira sambil menatap tajam Laska.
“Aku mohon, jangan begini. Aku mengaku salah Amira, tetapi aku punya alasan tidak bisa datang ke acaramu. Tolong, dengarkan dulu,” lirih Laska dengan kepala tertunduk. Sebelah tangannya menggenggam erat jemari Amira.
Amira ikut menunduk, hatinya sakit melihat Laska seperti itu. Dengan hati-hati Amira mengangkat dagu Laska agar tak menunduk.
“Maaf, Om. Amira terlalu kekanak-kanakan,” ucap Amira merasa bersalah. Laska tersenyum dan langsung memeluk istrinya.
“Enggak Sayang.”
Amira semakin mengeratkan pelukannya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Laska yang sangat membuatnya candu.
Laska melepaskan pelukannya, pria itu membingkai wajah Amira dengan kedua tangannya.
“Tadi banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan, dan tidak ada waktu untuk datang ke acaramu. Dan di toko kue, aku membelinya untukmu,” jelas Laska sembari tersenyum, ya senyum kecut.
Hatinya sakit, sakit sekali. Entah sampai kapan dia harus akting di depan Amira bak aktor. Kalau dikata lelah, Laska sangat lelah. Hari ini, dua kali dia berbohong. Pertama, pada Aisyah dan sekarang Amira. Dua wanita yang sangat dia hormati, Laska ingin menyerah tetapi dia tak ingin terjadi sesuatu pada keduanya.
__ADS_1
Bisa saja Laska mengungkapkan kebenarannya pada Aisyah, tetapi ini belum waktunya. Gadis itu baru saja kembali menyelesaikan studi, bukankah seharusnya kebahagiaan yang menghampiri? Dan Laska tak ingin membuatnya sedih. Begitu pun pada Amira.
“Amira sudah maafin Om kok. Memang seharusnya Amira enggak boleh egois begini, Om ‘kan juga punya kesibukan.”
“Terima kasih. Aku mencintaimu,” ungkap Laska seraya mengecup pelan kening Amira.
“Amira lebih banyak mencintai Om. Bahkan, lautan akan kalah dengan cinta Amira,” balas Amira sambil terkikik.
Keduanya kembali berpelukan, dengan penuh cinta dan kasih sayang.
**
Di dalam ruangan tertutup, Alfa terus menunduk dengan tangan terkepal. Mendengar ucapan kakeknya yang baru kembali dari Australia membuatnya dilanda amarah.
“Bagaimana pun, jodoh Alfa sudah kutetapkan,” ucap pria sepuh yang duduk tak jauh dari Alfa. Dia memandang sang cucu sembari tersenyum.
“Aku akan kuliah, untuk menikah. Aku belum menginginkan itu,” balas Alfa dengan dingin. Dia menatap tak suka semua orang yang ada di dalam ruangan.
Pria sepuh itu memandang ke sekitar, mencari sosok yang dia rindukan.
“Di mana Laska, kenapa tidak ikut menyambut kedatanganku?” tanyanya pada semua orang, membuat Kia dan Akbar panik.
Melihat kedua orang tuanya panik, Alfa langsung menjawab perkataan kakeknya, “Dia sibuk dengan perusahaan. Bukankah Laska harus bertanggung jawab?”
“Ya, kamu benar. Biarkan Laska sibuk,” timpal sang kakek.
Alfa mendecih. Dia sungguh benci momen ini, kakeknya yang begitu tegas dan sangat menekan. Bagaimana bisa dia akan bertunangan, sedangkan pacarnya adalah Cinta. Hanya gadis itu yang mampu mendebarkan hatinya, tidak ada yang lain.
“Aku mengantuk, ingin tidur,” ucap Alfa seraya bangkit meninggalkan ruang keluarga.
__ADS_1
Tersisa tiga orang saja di sana, Akbar dan Kia masih diam. Sebenarnya mereka ingin mengatakan bahwa merak keberatan dengan perjodohan Alfa. Lagian pria itu baru saja lulus SMA.
“Pah, apa tidak sebaiknya kita tunda dulu pertunangan itu,” lontar Akbar dengan pelan.
“Tidak! Keputusanku sudah bulat. Setelah pertunangan Alfa, kita akan menikahkan Laska dengan Aisyah. Tidak ada yang bisa mengganggu keputusanku ini, awas saja.” Pria sepuh itu berjalan meninggalkan Akbar dan Kia.
Kia hanya bisa menangis, dia sangat tahu bagaimana sifat mertuanya itu. Prinsip keluarga Akbar memang harus diikuti. Bahwa jodoh sudah ditetapkan, dan pihak tidak bisa menolak.
“Bi, bagaimana ini. Amira pasti akan sakit bila tahu kenyataannya, dan Umi tidak sanggup melihatnya. Kami sama-sama perempuan, Umi bisa membayangkan itu,” ucap Kia masih terus menangis. Akbar langsung menariknya masuk ke dalam pelukan.
“Tenang Umi, Abi yakin Laska pasti bisa menyelesaikan semuanya. Dia pria yang bertanggung jawab, dia pasti mengerti itu,” papar Akbar berusaha meyakinkan Kia.
“Tapi Laska itu anak yang penurut, Bi! Dia akan melakukan apa pun untuk kakeknya!” tekan Kia.
“Bukan berarti mengikhlaskan Amira ‘kan? Jadi Umi tenang saja. Sekarang lebih baik kita fokus dengan Alfa, kasihan anak itu.”
Kia masih terus menangis dalam dekapan Akbar. Dia seperti tak berguna sebagai ibu, tapi ini kenyataannya.
“Alfa pasti sangat terpukul, Bi. Apalagi dia mencintai gadis lain,” lirih Kia.
“Maafkan papah ya,” bisik Akbar lirih.
“Tidak. Mungkin beliau begini demi kebaikan anak-anak. Kita harus mengerti itu.”
“Terima kasih istriku, sudah selalu mengerti dengan kekurangan keluargaku. Maaf jika perkataan papah menyakiti hatimu sebagai seorang ibu,”
“Tidak Abi. Umi baik-baik saja kok.” Kia tersenyum ke arah suaminya, pura-pura tegar padahal dia lemah.
Jujur saja, Kia sangat khawatir dengan Amira. Dia hanya takut mertuanya berbuat nekat dan datang ke rumah Laska. Sedangkan Amira ada di sana.
__ADS_1
Bersambung
Jangan minta up dulu, othor tumbang alias sakit😂😂