
Dua orang yang saling berpegangan, berlari menelusuri jalan sepi. Jinon berusaha sekuat tenaga untuk kembali berjalan, mencari tempat aman agar mereka tidak tertangkap. Sedangkan Saras, sejak tadi dia berhenti karena merasa sudah sangat lelah. Peluh membasahi pelipisnya, deru napas pun sudah tak normal.
“Berhenti dulu,” pinta Saras pada Jinon.
“Jangan! Di sini belum aman,” sangkal Jinon dengan cepat. Dia kembali menarik tangan Saras agar mengikutinya.
Mau tidak mau Saras kembali berjalan, meski kakinya sudah ingin patah tetapi dia terus berusaha. Hingga mendapatkan tempat yang aman.
Cukup jauh keduanya berjalan, akhirnya Jinon berhenti di gang sepi, mereka memilih duduk di atas rerumputan.
“Ini semua salah kamu Mas! Harusnya dulu kamu enggak usah kasih tahu Gina tentang perjodohan ini!” omel Saras dengan suara bernada tinggi.
“Asal kamu tahu, Gina itu bahkan lebih pintar dari kamu. Dia bisa menerapkan anak buahnya untuk mencari tahu, tanpa aku memberitahunya,” balas Jinon tak kalas ketus.
“Intinya ini semua salah Mas!”
Teriakan Saras membuat beberapa orang yang masih berjalan cukup jauh, membuat mereka langsung berlari. Kelima polisi itu, menodongkan pistolnya ke arah Jinon dan Saras. Membuat keduanya ingin berlari tetapi sudah terlambat.
“Penjara atau tembak?” tanya salah satu polisi masih menodongkan pistolnya.
“Ampun Pak.” Saras menangkupkan kedua tangannya didada. Diikuti oleh Jinon, yang memasang wajah kesal.
Kesalahan mereka memang harus dibayar dengan setimpal. Kekalahan tender membuat perusahaan Jinon bangkrut. Lalu dia bergabung dengan perusahaan temannya, mengorupsi uang di sana, hingga menjadi sarana kebutuhannya. Untungnya, saat itu dia bisa mengelabui semua orang, tetapi lambat laun, semua terbongkar.
“Sudah kubilang, sebut saja pria itu ustaz. Pasti Amira mau. Kau terlalu sayang padanya!” omel Saras kembali saat berada di dalam mobil polisi, membuat Jinon menggeram marah.
**
Malam ini Amira memilih tidur dengan ibunya, dia ingin menenangkan ibunya karena masalah ayahnya. Dia berusaha menghibur malaikatnya itu, agar tidak terus-terusan sedih.
“Ibu tidak perlu sedih, masih ada Amira di sini,” ucap Amira seraya menggenggam jemari ibunya.
“Tidak Sayang, Ibu tidak sedih. Ayah berhak mendapatkan hukuman itu,” jawab Gina.
“Bu, beri tahu Amira. Sebenarnya ayah ingin menjodohkan Amira itu atas dasar apa?”
Gina terdiam, dia mulai menyusun kalimat untuk mengungkapkannya pada Amira. Bagaimanapun putrinya harus tahu.
“Perusahaan ayahmu bangkrut, dia minta tolong pada temannya untuk membantu. Namun, temannya itu meminta balasan, yaitu kamu,”
“Maksudnya Bu?”
“Dia meminta kamu menikah dengan anaknya,” sambung Gina lagi.
__ADS_1
“Anaknya ustaz Bu? Bukankah ayah dulu pernah tidak suka dengan ustaz, tetapi sekarang kenapa malah ingin menjodohkan Amira?” tanya Amira kembali karena merasa belum puas dengan penjelasan ibunya.
“Sebenarnya, anak temannya itu bukan ustaz Sayang.”
“Jadi?”
“Pria yang terkena gangguan jiwa. Karena sudah sangat frustrasi, akhirnya ayahmu menemukan cara dengan menyebutnya sebagai ustaz, agar kamu mau menikah dengan anak temannya itu,” jelas Gina kembali.
Amira menutup mulut tak percaya, dia sungguh kaget mendengar kebenaran ini. Ternyata ayahnya sudah berbuat sejauh ini.
“Tetapi kenapa ayah sampai di tangkap polisi Bu?” tanya Amira dengan mata yang sudah berembun.
“Karena perusahaannya bangkrut dan belum mendapatkan modal, ayahmu bergabung dengan perusahaan teman satunya. Dengan dalih mendapatkan uang yang banyak, dia mengorupsi uang di sana.”
“Astaga. Ibu sudah tahu sejak lama?”
“Sudah. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa selain diam Nak,”
“Apa Ibu punya mata-mata?”
“Tidak. Semua Ibu tahu karena karyawan ayahmu yang cerita,” ujar Gina.
Amira mengangguk paham, dia menatap ibunya dengan sedih. Seharusnya dia bisa mengerti keadaan ibunya sejak dulu, bahwa ayahnya sudah berbuat sangat berlebihan. Andai saja dulu ayahnya tak memiliki perusahaan, pasti mereka tidak akan seperti ini. Meski hanya tinggal dikontrakan kumuh.
“Iya. Aku ingin menemani Ibu,” jawab Amira.
“Lebih baik tidur sama Laska saja sana, dia pasti masih rindu dengan kamu,” usul ibunya. Amira tersenyum malu, sambil mengangguk pelan.
Melambaikan tangan sebagai perpisahan, Amira berlari ke kamar sebelah. Saat dia masuk, Amira langsung melihat ke sekeliling. Laska tidak ada di kamar pria itu. Namun, Amira yakin Laska pasti ada di ruang kerja, dia mencoba mengintip dari balik pintu. Benar saja suaminya ada di sana.
Ide tiba-tiba muncul, Amira berniat membuatkan kopi untuk Laska dengan alasan agar bisa bertemu pria itu. Setelah kopi jadi, dia langsung membawanya ke kamar, dengan perlahan jemarinya mengetuk pintu ruangan kerja milik Laska.
“Masuk,” jawab Laska dari dalam. Tentu saja Amira langsung membuka pintunya dan segera masuk.
“Amira bawa kopi Om,” ucap Amira seraya menaruh kopinya di meja. Dia berjalan ke belakang kursi Laska, melihat ke arah layar monitor.
“Terima kasih,” balas Laska dingin, jemarinya sibuk menari-nari di atas keyboard.
“Om enggak capek, kerja terus?” tanya Amira sembari memijat bahu Laska.
“Gimana lagi, namanya juga nyari uang. Jangan terlalu cepat-cepat.” Laska memejamkan matanya sejenak, menikmati setiap pijatan dari jemari Amira.
Sambil tersenyum-senyum Amira memijat bahu Laska dengan pelan. Sesekali dia melihat ke arah wajah tampan Laska, ingin rasanya Amira menciumi seluruh wajah milik suaminya itu.
__ADS_1
“Abis ini gantian Amira yang dipijitin ya Om,” ucap Amira sambil tertawa kecil.
“Maksud kamu apa?” tanya Laska spontan.
“Iya pijit, di kasur,” sambung Amira lagi sambil menunjuk ke arah luar pintu.
Laska menelan ludah dengan susah payah, matanya menangkap tubuh Amira dari atas sampai bawah. Entah sengaja atau tidak, gadis itu mengenakan baju tidur dengan celana pendek hingga menampakkan paha putih mulusnya. Dengan cepat Laska menggelengkan kepalanya.
“Sudah sana tidur, besok ‘kan sekolah. Jangan mengacaukan aku,” perintah Laska dengan ketus, mendapat tawa keras dari Amira.
“Enggak mau, Mira mau temani Om dulu di sini,” tolak Amira dengan nada tak kalah ketus juga. Dia malah menarik kursi dari depan meja Laska dan membawanya ke dekat pria itu.
“Mau ngapain kamu?”
“Lihatin Om. Sudah kerja lagi.”
“Agak jauh, aku tidak bisa konsentrasi,” pinta Laska.
“Makanya jangan lihatin Amira terus Om, fokus aja sama komputer. Biar Amira yang lihatin Om, sambil kasih jampi-jampi biar semangat,” celetuk Amira yang langsung mendapat tatapan sengit dari Laska.
Dengan sekuat tenaga Laska berusaha fokus, tetapi tak bisa karena Amira terus tersenyum ke arahnya.
Sedangkan Amira, gadis itu semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Laska. Masih terus tersenyum-senyum tak jelas. Saat sedang memerhatikan, tiba-tiba Laska menoleh ke arahnya.
Cup
Pandangan mata Amira dan Laska saling beradu, bibir keduanya menempel sempurna, dengan detak jantung yang tak biasa pada keduanya.
“Maaf gak sengaja,” tukas Laska cepat sembari menjauhkan wajahnya. Dia jadi gugup, sampai-sampai kopi hampir tumpah.
“Enggak sengaja sih enggak sengaja Om, tetapi jangan gugup juga. Gantengnya semakin nambah, dua kali lipat,” gombal Amira yang sukses membuat Laska semakin gugup.
Pria itu menyemburkan kopinya karena panas.
Astaga. Kenapa aku begini.
Bersambung
Kalau misalnya kalian bosan, bilang ya.
__ADS_1