Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 43


__ADS_3

Sepulang sekolah, Amira langsung menuju kamar. Gadis itu berniat membereskan rumah yang masih berantakan sebab pagi tadi dia dan Laska tak sempat membereskannya.


Gadis itu sudah selesai dengan pakaian santai, memilih turun untuk segera memulai aktivitasnya. Pertama-tama Amira memilih menyapu ruang keluarga terlebih dahulu. Ternyata cukup melelahkan juga menyapu ruangan sebesar ini, dia sampai mengeluh karena lelah.


Saat masih enak-enaknya menyapu, bel rumah berbunyi. Amira dengan tergopoh-gopoh membuka pintu rumah.


“Maaf Nona, pria ini memaksa untuk bertemu dengan Nona,” ucap satpam pada Amira, gadis itu hanya mendengkus kesal melihat Dimas sudah berdiri di depannya. Dan mengangguk sebagai jawaban untuk pak satpam.


“Terima kasih, Pak. Bapak boleh kembali bekerja,” ujar Amira. Pak satpam langsung pergi ke tempat dia seharusnya.


Amira menatap malas Dimas, setelah itu menyuruh agar pria itu duduk di kursi yang berada di bawah pohon mangga.


“Aku ambil minuman dulu,” ucap Amira seraya berjalan memasuki rumahnya.


Gadis itu kembali keluar dengan membawa satu gelas oranye jus dan kue.


“Silakan diminum,” cetus Amira sembari memandang Dimas tak suka.


“Sama tamu kok begitu sih,” balas Dimas sambil tersenyum.


“Kamu tahu dari mana rumah aku di sini?” tanya Amira to the point tanpa menghiraukan tatapan Dimas. Sepertinya, mantanya ini tidak bisa di anggap sepele.


“Sudah lama aku tahu, karena pernah mengikutimu sampai di sini. Bahkan aku juga tahu kalau kamu—“ Dimas menjeda kalimatnya, dia tersenyum miring ke arah Amira. Membuat gadis itu merasa ada yang aneh.


“Apa?” Amira langsung menyela dengan jantung yang sudah berdebar kencang.


“Kalau kamu sudah menikah,”


Mata Amira membulat sempurna, jantungnya semakin berdebar tak karuan. Dia menatap Dimas dengan tak percaya, sambil menggelengkan kepala.


“Aku juga tahu masalah kamu bisa menikah, dan hamil bohongan.” Lagi-lagi ucapan Dimas membuat Amira lemas. Gadis itu mengepalkan tangan dengan gigi yang saling beradu.

__ADS_1


“Tetapi aku diam, Amira. Karena aku sayang kamu, aku gak mau kamu dapat masalah. Jadi sekarang, lebih baik kamu jujur sama suami kamu. Kalau sebenarnya kamu tidak hamil,” sambung Dimas lagi, dengan cepat Amira menggelengkan kepalanya.


“Tidak! Aku mencintai dia Dimas! Aku gak mau kehilangan om Laska!” teriak Amira dengan kencang. Gadis itu menangis seraya berdiri di depan Dimas.


“Tapi dia tidak cinta kamu, sadar Amira!” teriak Dimas tak kalah tegas.


“Enggak mau. Aku mohon sembunyikan ini, jangan beri tahu om Laska. Aku gak mau sampai dia ninggalin aku,” mohon Amira dengan deraian air mata, gadis itu berdiri lunglai seperti tak ada tenaga.


“Jika dia ninggalin kamu, aku ada di sini. Kita bisa sama-sama lagi Amira,” ucap Dimas tanpa rasa bersalah.


“Enggak mau!” tegas Amira dengan suara lantang.


“Oke. Aku bakalan bilang sama Laska, kalau kamu itu hamil bohongan,” sentak Dimas dengan pandangan sinis.


“Hamil bohongan?” Pria yang sejak tadi berdiri tak jauh dari tempat Dimas dan Amira berada, menghampiri dengan wajah datar nan dingin.


Amira menggeleng tak percaya melihat itu, Laska menghampiri dia. Pria itu menatapnya dengan tajam, bagai silet.


“Sudahlah Amira, jawab saja,” sahut Dimas seraya menatap Amira.


“Enggak!” tukas Amira cepat.


Dada Laska terasa bergemuruh, kedua belah tangannya terkepal kuat. Dengan gigi gemertuk menahan emosi yang siap untuk diluapkan.


 “Baiklah, saya sebagai mantan Amira yang baik dan sopan. Akan segera menjelaskan detail tentang kejadian ini,” ucap Dimas pelan, dia menjeda kalimatnya dan menatap ke arah Amira.


Amira melihat itu, menggelengkan kepala kuat. Memohon agar Dimas tak membocorkan kebohongannya.


“Amira menikah dengan Anda karena terpaksa, dia berbohong hamil hanya untuk selamat dari perjodohan yang telah dibuat orang tuanya. Dan bodohnya Anda, tidak memeriksa saat dulu dia mengaku hamil anak Anda,” jelas Dimas. Laska diam sembari terus mendengar ucapan Dimas.


“Dan sampai sekarang, dia itu tidak hamil. Tidak ada anak di dalam rahimnya! Dia hanya berdusta!”

__ADS_1


Pyar


Laska memecahkan gelas dengan deru napas tersenga-sengal. Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun, siap diluapkan. Amira yang melihat itu, semakin menangis dengan kencang. Gadis itu terus menggeleng saat Laska menatap ke arahnya.


“Apa itu benar, Chelsi Amira Putri?” tanya Laska dengan menekan setiap katanya. Pria itu berusaha menahan amarah agar tak membuat keadaan semakin rusuh.


“Enggak Om, itu enggak benar!” ujar Amira dengan cepat.


“Aku tanya sekali lagi, apa itu benar Amira?!”


Amira semakin terisak mendengar suara Laska yang begitu menggelegar. Gadis itu menutupi wajahnya dengan tangan, dia berjongkok dan berusaha menyembunyikan wajahnya.


“Ya, itu memang benar. Tapi aku punya alasan Om,” sahut Amira berusaha membela dirinya.


“Alasan apa? Agar kamu terbebas dan aku sengsara?”


“Enggak Om. Aku benaran cinta sama Om, tolong percaya!”


“Aku sudah terlanjur sakit hati Amira. Kamu membohongiku hingga sedalam ini, apa hanya aku yang tak tahu? Jawab Amira!” Laska mulai frustrasi, pria itu menjambak rambutnya sendiri.


Amira hanya diam, tanpa mau menjawab pertanyaan Laska lagi.


“Tidak ada. Hanya Anda dan Alfa yang tahu.” Dimas yang menjawab. Pria itu tampak bahagia, bahkan dengan lancang dia menyentuh bahu Amira. Berniat membantu gadis itu untuk bangun.


Menghembuskan napas kasar, Laska beristigfar berulang kali. Menenangkan hatinya dengan kalimat Allah.


“Aku tunggu orang tuamu di rumah abi,” ucap Laska sebelum pergi meninggalkan Amira dan Dimas.


Gadis itu berteriak memanggil nama suaminya tetapi Laska tak menggubrisnya. Dia terus berjalan, tanpa menghiraukan panggilan Amira maupun satpam rumahnya.


Perasaan kecewa sudah terlanjur membuncah dihatinya.

__ADS_1


 


__ADS_2