Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 10


__ADS_3

“Kenapa Kakak menikah dengannya? Kenapa?”


Bukan seperti pertanyaan, tetapi pemaksaan. Almaira menyeka air mata yang mulai mengalir dari kedua sudut matanya. Berusaha bersikap tegar meski hatinya rapuh.


“Ini takdir.” Dua kata yang terlontar dari mulut Alchan.


“Tapi kenapa?” tanya Almaira lagi.


“Kamu tidak mempercayai kebesaran Allah? Takdir seperti ini, bukankah sudah kamu pelajari dulu sewaktu di pesantren?”


Almaira kehabisan kata-kata. Dia kembali tak mengerti takdir, semua karena hatinya masih menginginkan pria itu.


Karena tak ingin terlalu jauh, Almaira langsung berlari pergi. Meninggalkan Alchan yang hanya menatap dengan sendu.


Akhirnya mereka berpisah dengan arah dan tujuan yang juga berbeda. Memang seperti ini takdir. Keduanya memang pernah memiliki tujuan yang sama, tetapi itu dulu, ketika mereka tak mengerti takdir yang sebenarnya.


Kalau boleh jujur, Alchan memang memiliki rasa pada Almaira. Dia mengagumi gadis itu dalam diam. Sebagai wanita ketiga yang menemani dia di saat susah maupun senang.


“Sadar Alchan. Kamu bukan siapa-siapa. Semua orang membencimu, termasuk nenek Almai. Jangan berharap kembali,” ucap Alchan pada dirinya sendiri.


Nenek Almaira pernah datang menemui Alchan saat dia berada di kafe. Sekitar dua bulan yang lalu.


“Jauhi cucuku! Kamu tidak pantas mendampingi dia.” Ucapan nenek Almaira begitu menusuk.


“Jika kamu memang ingin berkarier, jangan memberinya harapan! Biarkan dia mencari pria lain yang memang sudah siap untuk menikah.” Lagi, Alchan tak mengerti.


Dia hanya mengangguk patuh saat itu. Alchan pun sadar diri, siapa dia? Hanya seorang pelukis yang tak terlalu terkenal. Bukan pengusaha sukses seperti keinginan nenek Almaira.


Dan sejak saat itu, Alchan berusaha menghindari Almaira. Tapi nihil, dia tak bisa. Bagaimanapun, Almaira adalah gadis baik, memiliki jiwa yang santun dan suka memberi masukan untuknya.


Bahkan di saat dia terpuruk, Almaira orang pertama yang berada di sampingnya.

__ADS_1


“Jika kamu emang cinta sama dia, ungkapin aja.” Suara yang tak lagi asing, membuat Alchan langsung membalikkan tubuhnya.


“Gladis? Kamu sudah lama?” tanya Alchan, mengalihkan topik pembicaraan.


Gladis mendengkus kesal, lalu menyodorkan satu botol minuman pada Alchan. “Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku tahu kamu suka gadis itu. Sepertinya dia baik,” ujar Gladis.


“Dia memang baik, sangat baik,” sahut Alchan.


Pria itu berjalan ke arah bangku yang berada di bawah pohon rindang, sengaja dibuat untuk istirahat pejalan kaki. Atau tempat melihat indahnya malam hari saat di kota.


“Mengapa kamu malah menikahi aku, bukan dia?” Lagi Gladis bertanya.


“Takdir.”


“Lagi pula, kami tidak cocok,” sambung Alchan.


Dia menikmati minuman yang Gladis berikan, sembari menatap banyaknya mobil di atas aspal hitam yang berlomba-lomba untuk duluan.


“Nenek Almaira tidak menyukaiku, lebih tepatnya pekerjaanku sebagai seorang pelukis. Meski kami sudah berteman sejak kecil, bahkan orang tua kami juga berteman. Namun, tak memutus kemungkinan kalau memang nenek Almai sangat membenciku,” jelas Alchan tanpa Gladis minta.


Kisah cinta Alchan ternyata juga sulit, pikir Gladis. Bukan hanya dia yang memiliki kisah seperti itu, Alchan juga.


“Kenapa memilih menjadi pelukis?” tanya Gladis saat suasana mulai bagus.


“Sejak kecil aku suka menggambar, dan saat SMP. Aku bertekad ingin menjadi seorang pelukis. Entahlah, semua terjadi begitu saja. Bahkan kakek pernah menentang cita-citaku ini, tetapi aku tetap melanjutkannya.”


“Kadang kita memang perlu menjadi diri sendiri. Pekerjaan kamu tidak salah,” ujar Gladis.


“Benar.”


Karena cuaca semakin terik, akhirnya Alchan mengajak Gladis untuk pulang. Sepasang suami istri itu memilih naik taksi yang Alchan pesan.

__ADS_1


Bukan sengaja Gladis mengikuti Alchan, hanya saja, tadi dia ingin pergi ke kafe tempat biasa dia menenangkan pikiran. Dan pulangnya melihat Alchan, akhirnya dia memilih melihat dari jauh. Sampai Almaira pergi karena perdebatan keduanya, yang Gladis tak tahu apa permasalahannya.


Di dalam mobil Gladis tak ada membuka suara, dia menatap ke luar jendela. Sedangkan Alchan, pria itu masih memikirkan Almaira. Khawatir ke mana perginya gadis itu.


Alchan stop! Jangan memikirkan Almaira terus! Dia pasti akan baik-baik saja.


Antara hati dan pikiran, terus saja berdebat.


“Kamu nggak mau berhenti untuk makan?” tawar Gladis.


Alchan menoleh, lalu menggelengkan kepala. “Aku masih kenyang. Kalau kamu mau makan, aku temani.”


“Ah, tidak. Aku masih kenyang juga kok.”


“Ya sudah.”


Alchan hanya tersenyum. Lalu dia kembali fokus pada luar jendela. Dering ponsel membuat Alchan harus mengalihkan pandangannya pada bangunan pencakar langit yang baru mereka lewati.


@Chia


[Kak Almai masuk rumah sakit. Tifusnya kumat. Tadi pingsan saat dia masih berada di jalan]


Pesan singkat dari Alchia mampu membuat Alchan terkejut. Pria itu langsung meminta sopir untuk putar balik. Gladis hanya diam, bahkan saat wajah Alchan terlihat begitu khawatir.


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2