
Mobil menjadi saksi bisu atas tumpahnya air mata Almaira. Dia berusaha menahan, tetapi tetap saja tak bisa. Almira bukan gadis kuat, dia hanya perempuan lemah yang hatinya terluka.
Almaira semakin tersedu-sedu saat melihat Alchan dan Gladis yang baru saja keluar dari rumah Langit, dengan senyum merekah di wajah masing-masing. Membuat hatinya semakin sakit.
“Ya Allah, maafkan hambamu ini yang sangat lemah. Tidak bisa ikhlas begitu saja,” lirih Almaira sembari mengusap wajahnya.
Kedatangan Langit ke hidupnya, Almaira pikir akan membuat hatinya membaik. Namun, semua itu salah. Alchan terus saja menampakkan diri di depannya, membuat hati Almaira seketika goyah yang ingin berusaha mencintai Langit karena pria itu calon suaminya.
Jadi, sekarang dia harus apa. Almaira tidak bisa berpikir jernih kalau sudah begini, bayangan masa-masa kebersamaannya dengan Alchan membuat Almaira tak bisa berpikir.
“Astagfirullah!” Almaira segera mengusap wajahnya sambil terus beristigfar.
Akhirnya dia kembali keluar, Almaira memilih untuk masuk kembali ke dalam rumah Langit. Siapa tahu bundanya sedang khawatir mencari dia di sana.
“Ternyata kamu di sini.” Suara itu mengagetkan Almaira, dia dapat melihat Langit di depannya dengan wajah khawatir.
“Maaf, memangnya kenapa ya?” tanya Almaira bingung.
“Tadi Bunda kamu nyariin, dipikir kamu entah pergi ke mana. Akhirnya aku juga khawatir,” jelas Langit.
“Oh, itu, maaf aku tadi dari mobil,” balas Almaira.
“Lain kali kalau mau ke mana-mana, kamu harus bilang. Meski bukan anak kecil lagi, tetapi itu cukup membuat orang-orang khawatir,” saran Langit.
“Iya. Kalau gitu aku ke tempat Bunda. Nggak baik berduaan,” ujar Almaira sembari berjalan meninggalkan Langit.
Pria itu tersenyum, setidaknya khawatir dia telah reda melihat wajah Almaira. Entah mengapa Langit jadi takut kehilangan begini, apa karena sebentar lagi Almaira akan menjadi bagian dari hidupnya.
**
Sinar matahari mulai meredup, hampir berganti dengan senja yang indah. Gadis dengan balutan dress jingga berjalan di depan pelataran toko di kota. Sesekali matanya menatap ke kanan dan kiri, seakan memastikan tak ada sesuatu yang aneh di sekitarnya.
Gadis itu adalah Alchia. Dia pergi dari rumah setelah pembahasan bersama keluarga tadi, sungguh Alchia muak dengan apa yang kakek neneknya ucapkan. Selalu saja menyangkut akan perjodohan, yang membuatnya geli sekaligus benci.
Menurut Alchia di zaman seperti ini, perjodohan sudah jarang terjadi. Namun, entah mengapa kakek dan kakek buyutnya selalu saja membahas perihal itu.
Alchia bergidik ngeri, membayangkan bila dia yang harus dijodohkan seperti itu. Sungguh Alchia tidak menginginkannya.
__ADS_1
“Ibu, ayo ambil balonku! Ibu!” Tangisan dan suara itu membuat Alchia langsung menoleh, melihat apa yang terjadi.
Seorang ibu dan anak kecil kira-kira yang usianya empat tahunan, berdiri di bawah pohon rindang di dekat jalan ini. Sedangkan anak perempuan itu terus menangis sambil menunjuk-nunjuk ke arah dahan pohon.
“Astagfirullah, kenapa itu?” Alchia jadi penasaran, dia hendak menghampiri. Namun langkahnya terhenti, saat seorang pria lebih dulu datang ke sana, mendekati ibu dan anak itu.
“Alein?” monolog Alchia tidak percaya. Seketika senyumnya mengembang.
Akhirnya dia bisa melihat wajah pria itu lagi, apalagi kini Alein kelihatan sangat tampan dengan hoodie yang pria itu pakai. Tanpa pikir lama lagi, Alchia langsung berlari untuk menghampiri ketiganya.
“Semangat Alein! Kamu harus bisa ambil balon itu!” teriak Alchia sambil menunjuk ke arah balon yang tersangkut di dekat dahan pohon.
Sedangkan Alein yang tengah memanjat, terkejut mendengar teriakan itu. Dia langsung menoleh ke bawah, dan langsung disuguhkan dengan senyuman Alchia yang sangat manis.
“Kenapa harus ketemu sih?” tanya Alein pada dirinya sendiri.
“Ayo Om, cepetan ambil balon aku!” teriak anak perempuan itu, membuat Alein tersadar dari lamunannya.
“Iya iya, ini Om pagi usaha,” jawab Alein seraya memanjat lebih tinggi kembali.
Harap harap cemas, Alchia terus berdoa agar Alein turun dengan selamat. Dia takut sekali melihat pria itu memanjat sangat tinggi demi mengambil balon anak kecil ini, padahal Alchia tahu Alein pasti tidak kenal mereka.
“Pelan-pelan Lein,” ucap Alchia ketika pria itu akan turun.
Alein hanya diam, tetapi terus turun dengan balon ditangannya.
“Alhamdulillah. Ini balon kamu.” Alein segera menyerahkan balon pada pemiliknya.
“Makasih Om baik,” ucap anak kecil itu seraya mengembangkan senyumnya.
“Makasih ya Mas.” Di susul sang ibu.
Alein segera mengangguk. Lalu membiarkan ibu dan anak tadi pergi dari sana. Kini hanya tinggal dia dan Alchia saja, sejak tadi gadis berhijab jingga tersenyum-senyum sembari menatap ke arah dia.
“Kamu keren banget loh,” puji Alchia sambil mengacungkan dua jempol tangannya.
“Biasa aja,” cetus Alein sembari beranjak dari tempat.
__ADS_1
“Lein! Tunggu dulu.” Alchia ikutan lari, mengejar pria itu.
“Ada hal penting yang mau aku bicarakan,” ujar Alchia.
Tapi Alein tak peduli, dia terus berjalan mengabaikan teriakan Alchia.
“Ok kalau kamu nggak peduli. Berarti, kalau aku mati, kamu juga nggak peduli?”
Sontak langkah yang cepat tadi, terhenti seketika. Alein tak berbalik, tetapi dia memejamkan mata seraya menghembuskan napas dengan kasar. Sangat tidak menyangka dengan perkataan Alchia, bisa-bisanya gadis itu berbicara seperti itu demi dia.
“Aku tahu kamu. Orang pintar sepertimu, tidak mungkin melakukan hal bodoh.” Alein berbicara tanpa membalikkan badannya.
“Tapi orang pintar bisa melakukan sesuatu, karena terus dibodoh-bodohi,” sahut Alchia tak mau kalah.
“Maksud kamu?” Alein membalikkan badannya, mengerutkan dahi hingga membuat alisnya saling bertaut.
“Kalau kamu masih cuek dan terus menghindar dari aku, maka aku akan nekat. B-u-n-u-h d-i-r-i.”
Ejaan terakhir dari Alchia mampu membuat Alein terdiam. Jantungnya seakan berhenti berdetak, apalagi ketika melihat Alchia jalan ke arah jalan raya.
“Kamu gila ya?” tanya Alein frustrasi.
“Iya! Aku gila karena kamu!” jawab Alchia dengan tegas.
“Terserah. Kalau kamu mau mati, silakan. Aku nggak pernah ngelarang orang buat menyusul ajalnya. Tapi aku ingetin, mati itu nggak enak, sendirian tanpa teman,” ucap Alein seraya kembali berjalan.
Mata Alchia melotot sempurna, mendengar ucapan Alein. Dia jadi merinding. Akhirnya gadis itu menjauh dari jalan raya, dan mengejar Alein dengan perasaan takut.
Niat ingin menakut-nakuti Alein agar pria itu luluh, malah sebaliknya. Dia yang ditakuti oleh Alein, mana bahasannya tentang mati benaran lagi.
“Alein tunggu! Aku nggak jadi bunuh diri!” teriak Alchia.
“Kamu jangan menghindar dong. Lihat aja ya, entar aku nikahi kamu, biar nggak bisa pergi ke mana-mana. Baru tahu rasa,” umpat Alchia kesal sukses membuat senyum di wajah Alein terukir.
Dasar gadis aneh!
__ADS_1