
Uhuk!
Uhuk!
Evan terus saja terbatuk tanpa henti lalu dengan cepat Araya menghampiri Evan dan menyodorkan segelas susu. "Minumlah susu ini Tuan agar anda merasa lebih baik" tanpa pikir panjang Evan meraih gelas susu itu lalu meneguk nya hingga habis
Ruang dan waktu terasa hanya milik mereka berdua saat kesunyiaan menyapa satu sama lain di antara mereka berdua.
"Aku sudah kenyang" Evan berdiri berjalan menuju tepi jendela lalu duduk di atas sofa sembari membelakangi Araya.
Wajah Evan yang tampan, rahang yang kuat, mata tajam yang mengagumkan, hidung nya yang mancung dan cara nya tersenyum membuat Araya terpesona tiap kali menatap Evan apalagi saat ini Evan terlihat seperti kucing jantan yang sedang malu-malu.
Araya diam-diam tersenyum di belakang Evan. Jantung Araya seakan ingin keluar dari tempat nya karena terus berdebar sejak tadi.
"Keluarlah"
Mendengar ucapan Evan membuat Araya dengan cepat menggeleng menepis semua pikiran nya lalu mengambil obat dan berjalan ke belangkan Evan. "Anda harus minum obat dulu". tanpa sadar tangan Araya memegang pundak Evan dan tangan yang satu nya menyodor kan sebuah obat ke hadapan Evan.
Evan bergetar saat merasakan sentuhan istri kecil nya di pundak nya. "Singkirkan tangan mu".
"Ah iya, maaf" dengan cepat Araya menarik tangan nya dari pundak Evan tapi tangan yang satu nya tetap mengulurkan obat untuk Evan.
"Aku sudah meminum nya, pergilah" Evan lagi-lagi mengusir Araya dari kamar nya tanpa menoleh ke arah Araya. Namun gadis nakal itu tetap tidak mau beranjak dari tempat nya dan terus menatap Evan dari samping.
"Gadis bodoh"
"Hah!" Araya terperanjak saat suara jantan Evan menusuk indra pendengaran nya.
Evan lalu berdiri menghadap pada Araya yang juga duduk di sofa bagian sebelah. Perlahan lahan Evan membuka kancing kemeja nya tanpa rasa malu di hadapan Araya.
Mata Araya langsung tertuju pada tubuh Evan yang sangat luar biasa tanpa berkedip. "Jangan menatap ku seperti itu bodoh". Araya terkejut saat kemeja wangi milik Evan mendarat di wajah nya.
Dengan cepat Araya menggeleng lalu mengambil kemeja itu dan berbalik menatap Evan. "Apa yang anda lakukan" tanyak Araya panik saat melihat Evan sedang membuka kedua pengait yang melekat pada ujung resleting celana nya.
"Membuka celana" jawab Evan membuat Araya kembali membalik kan badan agar tidak melihat pemandangan yang akan merusak mata nya.
"Mengapa berbalik"
Araya berpura pura tidak mendengar ucapan Evan dan malah sibuk memperhatikan bunga yang berada di atas meja.
Evan menarik lengan Araya dengan kasar menghadap kan tubuh nya pada tubuh Evan. "Aku sudah menyuruh mu untuk pergi, mengapa kau tidak pergi juga dari sini" genggaman Evan terlalu kuat hingga membuat Araya meringis kesakitan.
"Aaww"
Mendengar Araya meringis kesakitan dengan cepat Evan melepas kan genggaman di lengan Araya. "Apakah itu sakit" tanyak Evan seolah merasa khawatir. Awal nya Evan melakukan ini agar Araya merasa takut pada nya namun di luar dugaan.
Araya melongo melihat tingkah Evan yang tiba-tiba saja lembut dan perhatian. Padahal selama ini yang Araya tahu jika Evan adalah pria dingin, angkuh dan sangat arrogant.
"Aku baik-baik saja Tuan" jawab Araya dengan ragu-ragu.
"Aku tidak sengaja" kata Evan lembut sembari mengusap lengan Araya yang sakit.
Araya hanya mengangguk. Entah mengapa Araya merasa jika Evan begitu khawatir pada nya.
"Syukurlah" setelah memastikan jika Araya baik-baik saja Evan pun perlahan lahan mundur ke kebelakang dan meninggalkan Araya yang sedang diam mematung.
Araya terus menatap Evan yang sedang berjalan menuju kamar mandi dengan perasaan takut dan gugup serta jantung yang terus berdebar karena sikap Evan yang tidak menentu.
Brukk..
"Akh.."
"Tuan" Araya spontan berlari menghampiri Evan yang tiba-tiba saja terjatuh di depan kamar mandi. "Anda baik-baik saja kan" tanyak Araya tanpa sadar saat ini ia sedang menggengam lengan yang penuh dengan otot-otot milik sang suami.
Evan yang kesakitan mengarahkan tatapan pada istri kecil nya yang terlihat perhatian. "Aku ingin mandi, pergilah" Evan lalu berdiri dan melangkah ke kamar mandi dengan sempoyongan.
Araya yang merasa khawatir dengan keadaan Evan dengan lancang ikut masuk ke dalam kamar mandi walaupun jantung nya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
.
.
.
Pemandangan pertama yang Araya lihat saat pertama kali masuk adalah Evan yang sedang berendam dan bersandar di bathum sembari memejam kan kedua mata nya.
Araya perlahan lahan mendekati Evan lalu menyentuh rambut Evan. "Tuan, anda baik-baik saja kan".
"Hem" Evan hanya berdehem menjawab pertanyaan Araya namun kedua mata nya masih terpejam.
Setelah memastikan Evan baik-baik saja Araya pun hendak beranjak keluar dari kamar mandi namun Evan malah menahan tangan Araya. "Mau kemana" tanyak nya dengan menatap wajah Araya.
Araya tidak menjawab. "Pakai kan aku shampoo" kata Evan lalu kembali memejam kan mata nya tanpa melepas genggaman tangan Araya.
"A_apa kata nya" Araya merasa terkejut dengan perintah Evan namun mau tidak mau Araya tetap melakukan nya.
Araya benar-benar melakukan perintah yang Evan suruh namun mata Araya terus menatap Evan dan melihat sedari tadi tangan Evan terus bergetar dengan suara napas yang tersenggal senggal seperti menahan rasa sakit.
"Akh"
"Tuan, anda baik-baik saja kan" tanyak Araya panik saat mendengar Evan merintih kesakitan dan dengan spontan Araya membantu Evan untuk duduk dengan baik.
__ADS_1
Evan dapat merasakan jika Araya saat ini sedang merasa khawatir. "Keluarlah" kata Evan lirih. "Aku ingin sendiri" lanjut Evan lalu memalingkan wajah nya.
Namun gadis nakal itu malah nekat menyentuh pipi Evan lalu mengarahkan wajah Evan tepat di depan wajah nya. "Aku tidak akan keluar sebelum anda juga ikut keluar".
Mereka berdua seakan saling tatap dalam diam dengan waktu cukup lama. Araya tidak bisa berkedip saat menatap wajah Evan yang sangat gagah. Rambut Evan yang tebal, alis yang lebat serta bulu mata yang panjang dan lentik.
Namun yang paling Araya suka adalah bibir indah Evan. lalu tanpa sadar Araya menyentuh bibir Evan yang basah.
Evan yang sedari tadi hanya diam kini menatap tangan gadis nakal itu yang berani menyentuh bibir nya. "Kau melakukan pelanggaran.. Gadis bodoh" lirih Evan membuat Araya tersadar apa yang sedang dia lakukan sekarang.
"Ma_maaf Tuan" kata Araya lalu segera berdiri dengan pipi yang bersemuh merah seperti tomat.
Araya dengan cepat keluar dari kamar mandi yang membuat nya hampir kehilangan kesadaran namun sebelum keluar Araya sempat menyimpan dua handuk kecil di samping Evan.
Araya yang merasa malu dengan ulah nya tadi terus berguling kesana kemari di atas ranjang membuat ranjang itu sangat berantakan.
Brukk..
"Aww" karena terus berguling kesana kemari tanpa sengaja Araya terjatuh ke lantai lalu dengan cepat naik kembali ke atas ranjang. "Akh araya kau sangat bodoh" kata Araya lalu menutupi tubuh nya dengan selimut lalu sedetik kemudian Araya tersenyum genit mengingat momen itu.
Tanpa Araya sadari sedari tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan nya hingga pria itu tersenyum di balik pintu saat melihat tinggah Araya yang sangat menggemaskan.
"Kau memang bodoh dan agresif" suara berat Evan membuat Araya terperanjat dan senyuman Araya berganti dengan expresi takut dan gugup. Araya perlahan lahan mengintip Evan dari balik selimut.
Araya melihat Evan sedang duduk pinggir ranjang sebelah. "Keringkan rambut ku". Evan melempar handuk kecil ke wajah Araya.
"Hah!" Araya melotot.
Evan lalu menoleh seakan menatap Araya dengan tatapan tajam membuat Araya semakin takut dan gugup. Araya mengambil nafas sejenak lalu berdiri dengan kedua lutut nya tepat di balakang Evan agar tinggi badan mereka seimbang.
Perlahan lahan Araya mengusap rambut Evan menggunakan handuk kecil. "Mengapa kau ingin menikah dengan pria buta seperti ku".
Entah mengapa tiba-tiba saja Evan menanyakan ini pada Araya dan seketika tangan yang tadi nya mengusap lembut rambut Evan berhenti saat mendengar pertanyaan Evan.
Araya diam tanpa ingin menjawab pertanyaan Evan lalu kembali mengusap rambut Evan.
Brukk..
Evan berbalik lalu menindih tubuh istri kecil nya dengan bertelanjang dada membuat jantung Araya semakin tidak karuan. "Katakan" kata Evan.
Bukan nya menjawab pertanyaan Evan, Araya malah panik saat melihat hidung Evan mimisan. "Tuan, anda mimisan" Araya merasa panik saat melihat cairan merah keluar dari hidung Evan.
"Jangan peduli pada ku" Evan memalingkan wajah nya.
Dengan berani Araya memegang pipi Evan dengan lembut. "Mengapa aku tidak bisa perduli sedangkan aku ini istri anda" kata Araya lalu mengusap darah yang keluar dari hidung Evan dengan tangan nya sendiri.
Evan menatap wajah Araya dalam-dalam agak lama hingga Akhir nya sebuah kecupan singkat Evan berikan pada bibir Araya. Evan kembali menatap Araya namun gadis nakal itu hanya bungkam tanpa menolak ciuman singkat Evan.
Sekali lagi Evan kembali mencium bibir mungil Araya membuat kedua nya larut dalam indah nya malam. Perlahan lahan ciuman Evan turun ke leher Araya dan dada bagian atas milik Araya.
Araya hanya meremas sprei dengan kuat sembari menahan sebuah desa-han yang akan membuat nya malu.
"Tidurlah" kata Evan lalu berbaring di samping Araya sembari memeluk tubuh mungil istri nya. Araya yang tadi nya hampir melayang kini di jatuh kan begitu saja oleh Evan dan di tenggelam kan di dada bidang milik Evan.
Di satu sisi Araya sangat senang karena tidak menyangkah Evan akan memeluk nya seperti malam ini padahal Araya tahu jika Evan paling tidak suka di sentuh oleh siapa pun.
Pagi ini sangat cerah desiran angin meniup tirai-tirai kamar kedua insan yang masih terlelap dalam tidur nyenyak nya.
Perlahan lahan Araya membuka mata nya. "Emm sudah pagi yah" kata Araya masih setengah sadar lalu menoleh samping dan kembali memejam kan mata nya.
"Ya ampun" dengan spontan puing-puing kesadaran Araya lansung kembali saat sadar jika sekarang dia masih berada di pelukan Evan. Araya mendongak dan melihat Evan masih tertidur dengan nyenyak.
Sungguh pemandangan pagi yang sangat indah menurut Araya. Evan masih tertidur di samping Araya dengan tangan yang dari semalam terus melingkar di pinggang kecil Araya.
Araya terus menatap wajah Evan yang sangat teduh dan tampan saat sedang tidur. Kulit Evan sangat bersih dan mulus cukup lama Araya memandangi wajah Evan hingga sebuah senyuman manis terukir di wajah cantik nya. "Kalau seperti ini rasa nya kita seperti suami istri beneran" kata Araya dengan tersenyum lebar.
Perlahan lahan Araya menurun kan tangan Evan dari pinggang nya lalu turun dari ranjang dengan hati-hati agar Evan tidak terbangun.
Baru lima langkah, Araya kembali menghampiri Evan lalu mencium kening Evan dengan lembut dan agak lama. "Good morning my husband" Araya mengelus kening Evan lalu kembali melangkah menuju kamar mandi.
Setelah kepergian Araya, Evan diam-diam tersenyum. "Gadis bodoh" kata Evan lalu kembali memejam kan mata nya.
Sebenarnya Evan lebih dulu bangun di banding Araya namun enggan untuk beranjak dari ranjang dan malah keenakan memeluk tubuh kecil istri nya sembari terus mengendus rambut Araya.
Tak butuh waktu lama bagi Araya untuk segera bersiap dan keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaiaan yang sudah rapi. "Tuan masih tidur" kata Araya saat melihat Evan masih tertidur pulas.
Setelah membuka horden jendela Araya keluar dari kamar untuk menenangkan pikiran dan rasa malu saat mengingat kejadian semalam. Namun langkah Araya terhenti saat berpapasan dengan Nyonya Lusy dan Tuan Abraham.
"Araya" baru saja Araya ingin memutar badan nya dan kembali berjalan menaiki anak tangga namun suara Tuan Abraham menghentikan langkah Araya.
"Ya Tuan" jawab Araya dengan gugup.
"Mengapa masih memanggil ku dengan sebutan itu? Panggil aku Ayah" kata Tuan Abraham dengan tegas.
"Baik ayah" kalimat ini membuat Nyonya Lusy menatap Araya dengan sinis. "Araya mari ikut dengan ku" Nyonya Lusy berjalan lebih dulu menghampiri sebuah sofa lalu duduk dengan angkuh nya sedangkan Tuan Abraham masuk ke sebuah ruangan.
"Sini duduk" Nyonya Lusy menepuk sofa kosong di sebelah nya. Araya duduk di samping Nyonya Lusy dengan keraguan.
"Bisa tolong lepaskan sepatu ku? Kaki ku sangat pegal setelah olahraga" kata Nyonya Lusy dan menggeser tubuh nya sedikit menjauh lalu dengan lancang menaikan kaki nya di atas paha Araya.
Araya yang polos hanya memberikan senyuman paling manis lalu perlahan lahan melepas sepatu Nyonya Lusy namun tiba-tiba saja Nyonya Lusy menyemburkan air di wajah Araya dengan sengaja.
__ADS_1
"Akh maaf sayang, aku tidak sengaja"
"Tidak apa-apa bu" Araya melap wajah nya dengan tisu kering. Araya tau jika Nyonya Lusy memang sengaja melakukan nya tapi Araya hanya diam.
"Nona sebaiknya anda ganti pakaiaan dulu" Lili yang melihat kejadian ini dari jauh segera menghampiri Araya.
"Tidak usah, kau pakai baju kering atau basah kau tetap saja terlihat miskin" Nyonya Lusy tersenyum ramah pada Araya namun kata-kata nya sangat menyayat hati Araya.
"Oh iya, bisa tidak kau buat kan sarapan untuk kita semua" kata Nyonya Lusy sembari tersenyum manis.
"Apa!" Araya melongo.
"Apa kau tidak pintar memasak?" Nyonya Lusy menatap Araya. "Rasa nya tidak mungkin, kau kan tidak punya koki atau pembantu di rumah dan otomanis semua pekerjaan kau lakukan termasuk memasak kan?" Nyonya Lusy kembali tersenyum dengan ramah.
Araya mencoba menarik dalam nafas nya. "Anda ingin makan apa bu" Araya mencoba menekan perasaan kesal dan sedih bersamaan.
"Terserah" Nyonya Lusy menatap semua para pelayan. "Kalian jangan ada yang membantu nya! Aku tidak ingin tangan kalian mengotori masakan menantuku, faham" tegas Nyonya Lusy.
.
.
.
Evan terbangun dengan pemandangan yang sangat indah. Tirai-tirai kamar yang terbuka dan pintu beranda yang terbuka lebar. Angin sejuk dan sinar mentari pagi menusuk kulit nya yang terbungkus selimut putih.
Evan duduk nengendarkan pandangan nya di seisi kamar dan melihat tepat di meja samping tempat tidur nya ada sepasang kemeja dan celanan panjang untuk Evan.
Evan lalu turun dari ranjang dan mengambil celana yang sudah di siap kan oleh Araya lalu memakainya dan berjalan ke beranda kamar. Baru kali ini Evan terbangun dengan suasana yang sangat indah karena biasa nya Evan terbangun dengan sebuah ikatan tangan dan rasa sakit di sekujur tubuh nya.
Evan berdiri di beranda kamar sembari menghirup udara segar namun suara Vina membuat nya terperanjak. "Morning kak Evan" sapa Vina dari beranda kamar nya juga yang hanya di batasi oleh dinding.
Evan hanya diam tanpa membalas sapaan adik tiri nya dan malah ingin kembali masuk kedalam kamar namun suara Vina menghentikan langkah nya.
"Ayolah kak Evan. Sampai kapan kau akan terus berpura pura seperti ini"
"Urus saja urusan mu" kata Evan dengan sinis.
"Itu sama saja kau tidak menghargai pengorbanan kak Ivan" kata Vina dengan menatapa langit biru dengan sendu.
Evan terdiam cukup lama lalu kembali melangkah masuk ke dalam kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
****
FLASH BACK SAAT IVAN KECELAKAAN.
Ivan yang saat itu sedang berkunjung ke mansion Evan dengan senang nya memberi kabar bahagia jika sebentar lagi diri nya akan di angkat menjadi Ceo di perusahaan sang ayah.
Dan beberapa bulan ke depan akan ke Prancis untuk melakukan perjalanan bisnis sekaligus bertemu dengan Vina sang pujaan hati.
Namun entah mengapa saat pulang dari mansion Evan tiba-tiba saja mobil yang di kendarai oleh Ivan mengalami rem blong dan mengakibatkan mobil Ivan jatuh ke jurang yang sangat dalam saat menghindari sebuah mobil yang berlawanan arah dengan nya.
Sedangkan saat itu Nyonya Lusy dan Tuan Abraham sedang berada di luar negri dan butuh waktu dua hari untuk sampai di indonesia karena banyak nya kendala.
Namun siapa sangka setelah Ivan berada di rumah sakit, Vina datang dari Prancis untuk menjenguk sang kakak sekaligus penyemangat hidup nya.
Di sebuah ruangan Ivan terbaring dengan alat medis yang sangat banyak dan luka di sekujur tubuh nya.
Vina masuk ke dalam ruangan dengan kaki yang sangat lemas namun tetap melangkah menghampiri ranjang Ivan lalu duduk di samping ranjang Ivan
Dengan air mata yang terus mengalir dan tubuh yang bergetar Vina mengelus rambut Ivan dengan lembut. "Aku datang kak, bangun lah" kata Vina dengan suara yang bergetar lalu menunduk agar tangisan nya tidak terlihat oleh Ivan.
"Jangan menangis" Ivan mengelus rambut Vina perlahan lahan dengan tangan yang bergetar.
"Kak Ivan" Vina tidak bisa lagi menahan tangis nya dan menangis histeris di depan sang kakak sakaligus sang pujaan hati nya.
"Jika aku tidak selamat, tolong berikan mata ku untuk Evan biar kan dia melihat indah nya alam" kata Ivan dengan terbata bata dan suara yang berat.
"Jaga diri kamu baik-baik, kakak sangat mencintai mu" kata Evan dengan nafas yang tersenggal senggal.
"Tidak! Kak Ivan pasti akan sembuh dan kembali berkumpul bersama kita semua" tangis Vina semakin menjadi jadi di pelukan Ivan. Hingga akhirnya Ivan menghembuskan nafas terakhir di pelukan Vina.
"Kak Ivaaaaannnn" teriakan Vina menggema di ruangan Ivan membuat Alvin yang saat itu bertugas mengurus Ivan sontak berhenti di depan pintu ruangan Ivan dan melihat bagaimana terpuruk nya Vina saat itu dan tanpa Alvin sadari air mata juga mengalir di pelupuk mata nya melihat sang adik yang begitu rapuh saat ini.
Alvin yang saat itu hendak masuk ke dalam ruangan Ivan mengurungkan niat nya lalu kembali melangkah ke dalam ruangan pribadi nya.
Hampir satu jam Vina berada di ruangan Ivan tanpa ingin melepaskan tangan Ivan dari genggaman nya hingga akhir nya Vina juga ikut berbaring di samping Ivan. "Apakah kakak kedinginan" bisik Vina pelan di telinga Ivan lalu merapikan rambut Ivan yang berantakan menggunakan tangan nya sendiri.
"Bangun lah kak" Vina memakai kan selimut pada tubuh Ivan lalu memeluk nya dengan erat.
"Aku sangat mencintai mu kak, bangun lah demi aku" lirih Vina seperti wanita putus asa yang tidak bisa melalukan apapun.
Vina yang hampir saja kehilangan kesadaran menekan keras perasaan kacau dan kehancuran yang hampir membuat nya hilang akal.
Perlahan lahan Vina mencium kening Ivan agak lama dengan air mata yang berlimpah dan tangan yang bergetar. "Bukan kah kakak merindukan ku? Ayo bangun dan lihat aku kak, aku sekarang berada di samping kakak" Vina berusah menahan tangis nya.
"Dek kamu yang sabar" kata Alvin sangat lembut membuat Vina kembali menitikan air mata tanpa suara dan dengan cepat Alvin memeluk tubuh Vina memberikan sedikit kekuatan untuk sang adik.
Vina diam menatap wajah tampan Ivan yang penuh dengan luka dan tangan yang juga penuh luka tanpa sadar Vina kembali menangis di pelukan Ivan dengan tersendu sendu.
Beberapa menit kemudian Vina mencerita kan pada Alvin permintaam terakhir Ivan yaitu mendonorkan mata nya untuk Evan. Awal nya Evan tidak terima tapi dengan rayuan dan bujukan dari Vina yang mengatakan jika ini adalah keinginan Ivan alhasil Evan pun setuju untuk melakukan operasi.
__ADS_1
FLASH BACK OFF