
Evan terbangun dengan pemandangan yang sangat indah. Tirai-tirai kamar yang terbuka dan pintu beranda yang terbuka lebar. Angin sejuk dan sinar mentari pagi menusuk kulit nya yang terbungkus selimut putih.
Evan duduk nengendarkan pandangan nya di seisi kamar dan melihat tepat di meja samping tempat tidur nya ada sepasang kemeja dan celanan panjang untuk Evan.
Evan lalu turun dari ranjang dan mengambil celana yang sudah di siap kan oleh Araya lalu memakainya dan berjalan ke beranda kamar. Baru kali ini Evan terbangun dengan suasana yang sangat indah karena biasa nya Evan terbangun dengan sebuah ikatan tangan dan rasa sakit di sekujur tubuh nya.
Evan berdiri di beranda kamar sembari menghirup udara segar namun suara Vina membuat nya terperanjak. "Morning kak Evan" sapa Vina dari beranda kamar nya juga yang hanya di batasi oleh dinding.
Evan hanya diam tanpa membalas sapaan adik tiri nya dan malah ingin kembali masuk kedalam kamar namun suara Vina menghentikan langkah nya.
"Ayolah kak Evan. Sampai kapan kau akan terus berpura pura seperti ini"
"Urus saja urusan mu" kata Evan dengan sinis.
"Itu sama saja kau tidak menghargai pengorbanan kak Ivan" kata Vina dengan menatapa langit biru dengan sendu.
Evan terdiam cukup lama lalu kembali melangkah masuk ke dalam kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
****
FLASH BACK SAAT IVAN KECELAKAAN.
Ivan yang saat itu sedang berkunjung ke mansion Evan dengan senang nya memberi kabar bahagia jika sebentar lagi diri nya akan di angkat menjadi Ceo di perusahaan sang ayah.
Dan beberapa bulan ke depan akan ke Prancis untuk melakukan perjalanan bisnis sekaligus bertemu dengan Vina sang pujaan hati.
Namun entah mengapa saat pulang dari mansion Evan tiba-tiba saja mobil yang di kendarai oleh Ivan mengalami rem blong dan mengakibatkan mobil Ivan jatuh ke jurang yang sangat dalam saat menghindari sebuah mobil yang berlawanan arah dengan nya.
Sedangkan saat itu Nyonya Lusy dan Tuan Abraham sedang berada di luar negri dan butuh waktu dua hari untuk sampai di indonesia karena banyak nya kendala.
Namun siapa sangka setelah Ivan berada di rumah sakit, Vina datang dari Prancis untuk menjenguk sang kakak sekaligus penyemangat hidup nya.
Di sebuah ruangan Ivan terbaring dengan alat medis yang sangat banyak dan luka di sekujur tubuh nya.
Vina masuk ke dalam ruangan dengan kaki yang sangat lemas namun tetap melangkah menghampiri ranjang Ivan lalu duduk di samping ranjang Ivan
Dengan air mata yang terus mengalir dan tubuh yang bergetar Vina mengelus rambut Ivan dengan lembut. "Aku datang kak, bangun lah" kata Vina dengan suara yang bergetar lalu menunduk agar tangisan nya tidak terlihat oleh Ivan.
"Jangan menangis" Ivan mengelus rambut Vina perlahan lahan dengan tangan yang bergetar.
"Kak Ivan" Vina tidak bisa lagi menahan tangis nya dan menangis histeris di depan sang kakak sakaligus sang pujaan hati nya.
"Jika aku tidak selamat, tolong berikan mata ku untuk Evan biar kan dia melihat indah nya alam" kata Ivan dengan terbata bata dan suara yang berat.
"Jaga diri kamu baik-baik, kakak sangat mencintai mu" kata Evan dengan nafas yang tersenggal senggal.
__ADS_1
"Tidak! Kak Ivan pasti akan sembuh dan kembali berkumpul bersama kita semua" tangis Vina semakin menjadi jadi di pelukan Ivan. Hingga akhirnya Ivan menghembuskan nafas terakhir di pelukan Vina.
"Kak Ivaaaaannnn" teriakan Vina menggema di ruangan Ivan membuat Alvin yang saat itu bertugas mengurus Ivan sontak berhenti di depan pintu ruangan Ivan dan melihat bagaimana terpuruk nya Vina saat itu dan tanpa Alvin sadari air mata juga mengalir di pelupuk mata nya melihat sang adik yang begitu rapuh saat ini.
Alvin yang saat itu hendak masuk ke dalam ruangan Ivan mengurungkan niat nya lalu kembali melangkah ke dalam ruangan pribadi nya.
Hampir satu jam Vina berada di ruangan Ivan tanpa ingin melepaskan tangan Ivan dari genggaman nya hingga akhir nya Vina juga ikut berbaring di samping Ivan. "Apakah kakak kedinginan" bisik Vina pelan di telinga Ivan lalu merapikan rambut Ivan yang berantakan menggunakan tangan nya sendiri.
"Bangun lah kak" Vina memakai kan selimut pada tubuh Ivan lalu memeluk nya dengan erat.
"Aku sangat mencintai mu kak, bangun lah demi aku" lirih Vina seperti wanita putus asa yang tidak bisa melalukan apapun.
Vina yang hampir saja kehilangan kesadaran menekan keras perasaan kacau dan kehancuran yang hampir membuat nya hilang akal.
Perlahan lahan Vina mencium kening Ivan agak lama dengan air mata yang berlimpah dan tangan yang bergetar. "Bukan kah kakak merindukan ku? Ayo bangun dan lihat aku kak, aku sekarang berada di samping kakak" Vina berusah menahan tangis nya.
"Dek kamu yang sabar" kata Alvin sangat lembut membuat Vina kembali menitikan air mata tanpa suara dan dengan cepat Alvin memeluk tubuh Vina memberikan sedikit kekuatan untuk sang adik.
Vina diam menatap wajah tampan Ivan yang penuh dengan luka dan tangan yang juga penuh luka tanpa sadar Vina kembali menangis di pelukan Ivan dengan tersendu sendu.
Beberapa menit kemudian Vina mencerita kan pada Alvin permintaam terakhir Ivan yaitu mendonorkan mata nya untuk Evan. Awal nya Evan tidak terima tapi dengan rayuan dan bujukan dari Vina yang mengatakan jika ini adalah keinginan Ivan alhasil Evan pun setuju untuk melakukan operasi.
FLASH BACK OFF Hari ini sangat sial bagi Gibran karena insiden tadi pagi Gibran jadi terlambat mengikuti upacara dan malah di hukum oleh guru bk membersihkan toilet.
"Hahaaha" Terdengar suara tawa seseorang saat melihat ketua geng motor Azragon sedang membersihkan toilet.
Gibran menatap mereka dengan dingin. "Ngak usah nangis lo! Sini bantuin gue" Kata Gibran sembari menyodorkan kain pel kehadapan adhyt.
"Siapa yang nangis njir. Gue lagi ketawa" Jawab nya dengan sewot.
"Bodoh amat. Cepat bantu gue"
Mau tidak mau terpaksa Adhyt bantuin Gibran membersihkan toilet. "Gib, lo udah tau belum kalau Anzel ngajak lo balapan lagi?" Kata Ryan yang sedang bersandar di dinding sembari memasukan tangan nya ke dalam saku celana layak nya seorang bos.
"Udah" Jawab Gibran singkat sembari menyalah kan sebatang rokok dan memperhatikan Adhyt yang sedang mengepel.
"Lo Terima tantangan Anzel?"
Gibran tersenyum melirik Ryan. "Tentu saja" Ucap Gibran sembari menghembuskan asap rokok dari mulut nya.
"Nyesel gue kesini, kalau tadi tau mau bersihkan toilet gini mending gue ke kantin tadi sama Ryan" Oceh Adhyt.
"Buruan beresin setelah itu gue traktir makan di kantin"
"Serius lu gib?" tanyak Adhyt memastikan.
__ADS_1
"Buset kagak percaya lu sama gue"
"Iya iya"
Beberapa menit kemudian Adhyt sudah selesai mengepel toilet dan sekarang mereka bertiga berjalan menuju kantin.
*****
Tanpa terasa langit sudah berubah warna menjadi hitam pekat di atas awan di temani bintang dan bulan yang bersinar terang. "Pak Revan makan malam yuk" Alana mengetuk pintu kamar cukup keras.
"Saya ngak budeg, ngapain ketuk pintu keras gitu" Kata Revan lalu menepis badan Alana yang berdiri di depan kamar.
"Ihh nyebelin" Alana berdecek lalu mengikuti langkah Revan menuju ruang makan menemui si kembar.
Seperti biasa, Alana selalu mengambil kan nasi dan lauk ke dalam piring makan Revan. "Nih pak" Alana menyodorkan piring yang sudah penuh dengan lauk pauk ke hadapan Revan.
Setelah mengambil kan untuk Revan makanan kini giliran si kembar untuk di ambilin makanan lalu di suapin.
Mereka pun makan dengan tenang tanpa ada berbicara namun saat sedang menyantap makanan tiba tiba saja suara bel rumah berbunyi sontak mereka berdua pun saling pandang. "Biar saya yang buka" Kata Alana lalu berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Cari siapa mbak?" Tanyak Alana sembari mengamati penampilan wanita itu dari atas ke bawah.
Wanita itu juga melakukan hal sama, mengamati penampilan Alana lalu tersenyum dan berkata. "Mas Revan nya ada?" Tanyak wanita tersebut.
Mendengar wanita ini memanggil dengan sebutan Mas Alana bisa menebak jika wanita ini pasti mantan istri Pak Revan. "Mbak Adel, bukan?" Sapa Alana dengan ramah.
Bukan nya menjawab ucapan Alana, wanita itu malah menepis tubuh Alana lalu masuk kedalam rumah mencari keberadaan Revan. "Mas Revan" Teriak Adel sok imut.
Wajah Adel berbinar setelah melihat Revan yang sedang berjalan menuju diri nya dan dengan cepat Adel berhamburan ke pelukan Revan di depan Alana.
Revan terlihat biasa saja dan membiarkan Adel memeluk nya bahkan Adel juga menciun bibir Revan di depan Alana tanpa rasa malu sedikit pun.
Tapi bukan Alana nama nya jika harus tinggal diam menyaksikan keromantisan mereka berdua.
Alana menarik pelan tangan Adel agar melepaskan pelukan nya pada Revan. Tarikan itu sukses membuat Adel menatap Alana dengan sinis. "Oh ini yang nama nya Mbak Adel" Alana tersenyum lalu bergelayut di lengan Revan. "Kenalin, aku Alana istri muda nya pak Revan" Kata Alana memperkenalkan diri nya sembari tersenyum dengan manis.
Revan menepis pelan tangan Alana lalu berkata. "Bawah anak anak ke dalam kemar" kata nya tanpa perduli perasaan Alana.
Revan lalu mengajak Adel duduk di sofa ruang tamu nya. Entah kenapa ingin rasa nya Alana menangis namun dia tahan dan berusaha tegar demi si kembar..
Mereka berdua duduk berdampingan. "Harus nya saya yang duduk di sana" Batin Alana menatap risih kedua insan tersebut dari kejauhan.
Namun seolah Adel sengaja memperlihatkan kedekatan nya dengan Revan. Adel dengan manja nya bergelayut di lengan Revan dan Revan hanya diam saja membiarkan Adel melakukan apapun yang dia mau. Sungguh Alana sudah muak dan memutuskan untuk mengajak si kembar ke dalam kamar nya.
.
__ADS_1
.
.