Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 16


__ADS_3

Alchan baru saja sampai di rumah orang tuanya. Keadaan di dalam hening, hanya ada dia dan Amira saja.


“Mamah apa kabar?” tanya Alchan setelah menyalami mamahnya.


“Alhamdulillah baik, Nak,” jawab Amira.


Meski masih kecewa dengan putra sulungnya. Amira tak bisa berbohong bahwa rasa rindu lebih menggebu untuk pria tampan itu. Dia tak peduli, walau harus dimarah oleh mertua karena menemui Alchan. Karena Amira tak bisa lagi bertahan untuk melepas rindu.


Tidak ada seorang ibu yang sanggup marahan dengan buah hati. Karena dia yang mengandung, membesarkan dan memberi semua ilmu yang dia punya pada anaknya. Sebenci apa pun seorang ibu, tak akan pernah tega memusuhi anaknya sendiri.


“Kamu sudah makan Sayang?” Amira membuka suara kembali.


“Sudah Mah, tadi Gladis masak cepat,” balas Alchan. “Mamah sendiri sudah makan apa belum?”


“Sudah kok Sayang. Kamu tenang saja,” sahut Amira sembari mengembangkan senyumnya.


Entah mengapa Alchan jadi canggung, mau berbicara saja mulutnya susah terbuka. Lagi-lagi dia teringat akan kesalahannya, sudah membuat mamahnya marah.


“Mah,” panggil Alchan.


“Iya Nak?”


“Alchan minta maaf. Karena Alchan, Mamah pasti dimarahi Papah,” lirih Alchan dengan kepala tertunduk.


Memang tidak gampang menghilangkan rasa kecewa itu, tetapi Amira mencoba menepis. Bagaimanapun, Alchan sudah berulang kali meminta maaf padanya. Sudah seharusnya dia sebagai ibu, memaafkan.


Amira berjalan ke arah Alchan, lalu memeluk putranya itu dengan erat. Tak terasa setetes air mata jatuh dari kedua sudut matanya.


“Sudah Nak, sudah. Mamah sudah memaafkan kamu,” ucap Amira seraya mengecup kening putranya.


“Makasih Mah.”


“Iya Nak, sama-sama.”


Senyum mengembang di bibir keduanya. Alchan terus saja menempel pada Amira, dia memang amat rindu pada wanita itu. Ingin menghabiskan waktu dengan bercerita banyak tentang lukisan.


**


“Ini, tadi aku beli roti. Kamu mau?”


Sodoran roti dan sebuah pertanyaan, membuat Almaira menghentikan aktivitas menggambarnya. Gadis itu menoleh ke samping dan mendapati wajah cerah milik Langit.


Ya, pria itu belum kembali. Karena uminya sedang berjalan-jalan dengan bunda Almaira, jadi dia yang menunggu gadis itu di ruangan ini.


Awalnya Langit menolak, karena tak mau mencipta aib atau memang tidak boleh. Tapi Aisyah percaya dia lelaki baik-baik, akhirnya Langit mau.


“Nggak perlu langit, aku sudah kenyang,” tolak Almaira pelan, seraya mendorong roti itu kembali.

__ADS_1


“Oh, iya. Tidak apa. Maaf,” lirih Langit. Dia berjalan ke arah sofa dan menjatuhkan bokongnya di sana.


Sesekali Langit melirik ke arah Almaira, memastikan gadis itu baik-baik saja sampai bundanya dan uminya kembali. Meski ada rasa takut Almaira akan risi dengannya, tetapi Langit menepis kuat.


“Kenapa Bunda lama sekali?” tanya Almaira setelah menyimpan kertas miliknya di meja.


“Tidak tahu.” Hanya dua kata, setelah itu Langit diam.


“Memangnya tadi mau ke mana?” Lagi, Almaira bertanya.


“Enggak tahu,” jawab Langit dengan suara sedikit pelan.


Antara gemas dan ingin memaki pria itu. Almaira menahannya, meski baginya Langit sangat menyebalkan. Dia bertanya dengan banyak kata, tetapi pria itu selalu menjawab dengan dua kata andalannya itu.


Hufff. Akhirnya Almaira hanya bisa menghembuskan napas kasar. Dengan tertatih dia turun dari ranjang, berniat ke kamar mandi.


“Kamu mau ke mana?” Nada suara Langit terdengar begitu khawatir. Dia langsung beranjak dari duduk, berniat membantu Almaira.


“Aku hanya ingin ke kamar mandi. Kenapa? Mau ikut?” tanya Almaira dengan jutek.


Langit segera menggeleng dengan wajah malu. “Tidak.”


“Dasar pria aneh!” gumam Almaira.


Akhirnya Langit kembali duduk, tetapi matanya tak pernah lepas dari pintu kamar mandi. Memastikan Almaira baik-baik saja ketika keluar nanti. Namun, sudah hampir sepuluh menit, gadis itu belum juga keluar. Membuat dia jadi khawatir.


“Langit!”


“Langit! Sini!” panggil Almaira lagi dari dalam kamar mandi.


“Untuk apa? Aku tidak mau!” jawab Langit.


“His! Ada perlu ini. Tapi kamu tempelin aja telingamu di daun pintu,” pinta Almaira masih belum keluar dari dalam.


Karena tak ingin gadis itu marah, akhirnya Langit mendekat. Dia menuruti keinginan Almaira dengan menempelkan telinganya di daun pintu kamar mandi.


“Iya, aku sudah di sini. Ada apa ya Almaira? Atau kamu sakit?” cecar Langit menggebu.


“Aku cuma mau minta tolong,” jawab Almaira.


“Tolong apa?”


“Tolong ... belikan pembalut dong,” pinta Almaira dengan suara yang sengaja dia kecilkan dikit.


Pembalut? Langit terdiam dengan napas tak beraturan. Jantungnya berdebar hebat, mendengar permintaan Almaira yang memang sudah tak asing lagi bagi dia.


Karena Langit sering membelikan itu untuk umi. Namun, sekarang ini sangat beda. Yang meminta Almaira, gadis yang dia sukai.

__ADS_1


“Langit! Kamu masih di situ kan?” panggil Almaira.


“Langit!”


“Iya iya Almaira. Aku di sini,” sahut Langit.


“Cepetan beliin dong. Pliss, aku minta tolong banget.”


Mengambil napas sejenak, Langit menjawab, “Iya aku beliin. Bentar ya. Tapi kamu jangan ke mana-mana.”


“Oke.”


**


“Mana istri Kakak?” tanya Alchia yang baru saja turun dari kamar.


“Ada, di rumah Dek,” balas Alchan dengan senyum mengembang.


Alchia hanya ber’oh’ ria saja. Setelah itu dia pergi ke dapur untuk mengambil minum. Karena dia turun memang sejatinya karena haus, bukan kesengajaan untuk bertemu Alchan.


Alchia masih kecewa dengan kakaknya, jadi dia tak mau dulu berbicara banyak pada pria itu.


“Bagaimana dengan pekerjaan kamu, Sayang?” Amira membuka suara setelah menyesap teh miliknya.


“Alhamdulillah Mah, masih berjalan lancar. Axel pun menerima dengan baik,” tutur Alchan.


“Alhamdulillah. Kamu jangan patah semangat ya, Mamah yakin, sesuatu yang kamu kerjakan ini. Akan berbuah besar di kemudian hari,” celetuk Amira dengan senyum.


“Aamiin ya Allah.”


Melirik arloji yang menempel di pergelangan tangan, Alchan berniat untuk pamit pulang. Sudah terlalu sore, dia takut Gladis akan mencarinya. Meskipun dia sudah bilang pada wanita itu, akan pergi ke rumah orang tuanya.


“Kalau gitu Alchan pamit pulang ya, Mah,” pamit Alchan seraya mendekati mamahnya.


“Kok cepet banget sih Nak?” protes Amira karena dia merasa, waktunya baru sebentar dengan Alchan.


“Soalnya sudah sore Mah, Alchan takut Gladis akan khawatir. Insya Allah besok Alchan datang lagi, kalau misalnya Mamah mau,” papar Alchan dengan pelan.


Amira menghembuskan napas, lalu melepas tangannya dari lengan Alchan. Seharusnya dia mengerti, sekarang putranya sudah memiliki istri. Pasti sangat sulit bila terlalu lama bersamanya.


“Ya sudah, tetapi kamu hati-hati di jalan ya?”


“Iya Mah. Aman itu,” ujar Alchan.


Dia menyalami mamahnya dan mengecup kening wanita itu. Barulah Alchan pergi dari sana. Dia berjalan ke depan, mencari taksi yang sudah dia pesan lewat aplikasi di ponsel.


 

__ADS_1


 


__ADS_2