Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 46


__ADS_3

Amira terus berlari setelah membuka pintu rumah orang tuanya, gadis itu tak memedulikan lagi teriakan sang ayah. Dia hanya ingin segera sampai di kamarnya, mengurung diri di sana dan menangis dengan sepuasnya.


Saat sampai di kamar, Amira langsung menutup pintunya dan menguncinya. Dia menyender di belakang pintu dengan air mata yang masih membingkai indah. Tubuhnya merosot ke bawah, dia menutup wajahnya dengan tangan.


Dadanya terasa sakit, seperti terimpit banyak benda berat. Perasaannya pun juga hancur berkeping-keping, sekarang dia merasa sudah seperti barang yang akan diperjual belikan.


“Amira! Buka pintunya!” Teriakan sang ayah terus terdengar, tetapi Amira enggan membukanya. Dia tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa.


“Amira! Awas kamu ya!”


Berjalan gontai, Amira menuju ranjang. Gadis itu membaringkan tubuhnya di sana, menatap langit-langit kamar dengan perasaan begitu sakit. Dia masih kecil, remaja yang saat ini sudah mendapat masalah begitu besar. Jika bisa, dia ingin bertukar takdir dengan orang lain, tetapi dia tak ingin berpisah dengan Laska.


Lagi-lagi pria itu, dia segalanya buat Amira. Hatinya tak bisa membenci karena dia juga bersalah, Amira memukul-mukul kepalanya sendiri. Meluapkan kesalahan atas apa yang telah dia lakukan.


“Om, Amira rindu tapi Amira jahat sudah buat om kecewa,” monolognya seraya menatap ke arah jam dinding yang terus bergerak.


**


Pria paruh baya masih bolak balik di depan pintu kamar anaknya. Ayah Amira masih berusaha agar anak gadisnya itu mau keluar. Tentunya ditemani oleh sang istri.


“Ayah sudah, lebih baik biarkan dulu Amira tenang. Dia butuh waktu,” ucap Gina—ibu Amira pada suaminya.


“Tidak! Pokoknya Amira harus keluar!” sangkal sang suami, Gina hanya bisa menghembuskan napas kasar.


Jujur dia tak bisa berbuat apa-apa, saat ini dia hanya bisa menurut dan menurut. Suaminyalah yang berkuasa, memerintah semua orang yang ada di rumah ini.

__ADS_1


“Amira! Buka pintunya!” teriak ayah Amira kembali, namun tak mendapat jawaban dari dalam.


“Mungkin Amira sudah tidur ya, ayo kita turun saja,” bujuk Gina. Akhirnya sang suami menurut dan pergi.


Sedangkan di dalam kamar, Amira masih berbaring dengan mata terbuka. Air mata gadis itu terus mengalir, memikirkan apa lagi yang harus dia lakukan setelah ini. Apa dia harus mengikuti keinginan ayahnya dan melukai hatinya sendiri?


Rasanya semua bagai mimpi, kemarin malam dia masih mesra-mesraan dengan Laska, tetapi sekarang justru dia sendiri. Tak ada satu pun orang yang mengerti dengan keadaannya.


Amira beranjak, dia mengambil handuk dalam lemari dan lekas masuk ke dalam kamar mandi. Dia butuh siraman air untuk merelakskan pikirannya.


**


Cahaya matahari masuk melewati cela-cela gorden, gadis yang masih damai dalam ranjangnya menggeliat. Mata bulat yang masih setia tertutup mengerjap pelan, memandang dan menyesuaikan keadaan.


“Amira, kamu sudah bangun Nak?” Itu suara ibunya, Amira bergegas turun dari ranjang. Dia membuka pintu kamarnya.


“Ya sudah cepetan mandi, ‘kan mau sekolah,” ucap Gina seraya mengantar anaknya untuk masuk ke dalam kamar.


“Dia tidak sekolah! Karena aku akan memindahkannya!” Ucapan sang ayah lagi-lagi menggores luka di hati Amira. Gadis itu segera menggeleng cepat.


“Aku tidak akan pernah menurut jika itu mau Ayah! Aku akan tetap sekolah, di tempat lama!” tegas Amira dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Sang ayah menggerutu kesal. “Bagaimana kamu mendidik anakmu itu. Dasar tidak becus!” umpatnya. Gina hanya menunduk, menahan air mata agar tak jatuh.


“Dia sudah besar, dan berhak memilih jalannya sendiri,” jawab Gina.

__ADS_1


“Tidak! Dia tetap harus mengikuti perintahku!” tekan sang suami langsung pergi meninggalkannya.


Tak terasa bulir bening menetes dari sudut mata Gina. Dia mencoba meredam sesak didada dengan menekan menggunakan tangan. Setelah itu dia pergi dari kamar Amira tak lupa juga menutup pintunya.


Amira yang baru saja selesai mandi dan berganti, menatap sekitar. Kamarnya sudah terasa asing buat dia. Ia hanya ingin kamar di rumah Laska, dan juga bertemu pria itu. Dengan gerakan cepat Amira mencari ponselnya di meja, tetapi nihil, benda pipih persegi panjang itu tak ada.


“Aku rindu om. Tolong jemput aku,” lirih Amira dengan air mata yang sebentar lagi akan turun.


“Aku janji akan jadi istri yang baik lagi dan selalu menurut sama om. Mira mohon.”


“Aku pasti bisa keluar dari rumah ini, ya, aku pasti bisa,” bisik Amira dalam hati. Dia tersenyum.


Selesai merapikan rambut, Amira mengambil tasnya yang dulu—yang dia tinggal di rumah ini. Plus dengan buku baru juga, dia segera meninggalkan kamar untuk segera pergi ke sekolah.


Sayangnya, ayah yang dia pikir sudah pergi bekerja. Kini berdiri tak jauh dari pintu utama.


“Kamu ingin sekolah bukan? Mereka yang akan mengawasi dan menjagamu agar tak bertemu dengan Laska,” jelas ayahnya. Sungguh Amira ingin menangis.


“Sampai segitunya Ayah melarang aku. Om Laska itu suami Amira, jadi aku berhak bertemu dengannya!” teriak Amira frustrasi.


“Sebentar lagi kalian akan bercerai. Jadi, berusahalah untuk ikhlas dan menerima. Karena jodohmu, adalah anak teman Ayah,” ungkap sang ayah dengan nada lemah lembut, justru itu semakin membuat Amira benci.


“Tuhanku di atas, aku percaya Dia akan melindungiku dari orang-orang kejam di sekitar. Takdirku bukan ditangan Ayah,” ucap Amira tegas, setelah itu dia berlari memasuki mobil diikuti oleh lima orang bertubuh besar dan kekar.


“Dasar anak tidak berguna!”

__ADS_1


Bersambung


Othor masih sekolah, jangan minta up lagi dulu😀😁😂


__ADS_2