
“Kita akan pergi ke rumah calon tunangan kamu siang ini,” celetuk seseorang yang duduk tak jauh dari tempat Alfa berada.
Pria itu terkejut, dia ingin mengajukan protes tetapi lebih dulu disangkal oleh abinya.
“Iya, Pah. Kami menurut saja,” jawab Akbar membuat Alfa geram.
Padahal dia sudah berjanji pada Cinta, akan mengantar gadis itu sampai bandara. Namun, kini dia harus menelan pil pahit karena keinginan kakeknya lebih penting bagi semua orang.
Laska yang melihat wajah murung sang adik, merasa kasihan. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa, karena hidupnya kini juga berada di tangan sang kakek. Dia juga pusing memikirkan cara untuk melepas diri dari pria sepuh di dekatnya itu.
“Setelah pertunangan, kita lanjut dengan pernikahan Laska. Tidak baik lama-lama dengan status tunangan, lebih baik langsung halalil saja,” ucap Hendra—papah Akbar.
“Kek, Laska tengah mengerjakan proyek sekarang ini. Apa tidak ditunda lagi dulu, Laska masih sibuk,” sanggah Laska membuat Hendra langsung menatap tajam ke arahnya.
“Sudah cukup lama kita menunda, sebaiknya dilakukan dengan cepat!”
Laska terdiam. Bibirnya sudah kelu dan tak tahu harus mengucapkan apa lagi. Dia memilih diam dan mengabaikan semua orang. Ini seperti mimpi, dia harus dihadapkan dengan keadaan yang dia sendiri tidak tahu akhirnya nanti bagaimana.
Hendra sudah meninggalkan ruang keluarga, hanya tersisa Laska, Alfa, Akbar dan Kia saja. Mereka masih sama-sama diam, belum ada yang membuka suara sampai Alfa akhirnya angkat bicara.
“Aku ada janji dengan Cinta siang ini. Tidak mungkin membatalkannya.”
“Tapi keinginan kakekmu itu lebih penting, Alfa,” sahut Akbar.
“Penting untuk kakek tidak untukku. Mau bertunangan dengan siapa pun, aku tetap mencintai Cinta. Tidak ada gadis yang bisa menggantikan dia!” tegas Alfa membuat Akbar terdiam.
“Bukankah Cinta akan pergi ke Semarang untuk melanjutkan pendidikannya? Lebih baik kamu menerima saja pertunangan itu. Yang penting pernikahan dilakukan lama lagi,” usul Laska membuat Alfa menggeram marah.
Pria itu berdiri menghampiri Laska, Alfa menarik kerah baju Laska dengan keras.
“Aku bukan kamu yang bisanya hanya nurut dan menyakiti hati demi hati dan keinginan lain!” tekan Alfa sebelum pergi meninggalkan ruang keluarga.
Laska memandang kepergian adiknya dengan wajah murung. Yang dikatakan Alfa sangat benar. Dia pria bodoh, sangat bodoh. Laska langsung beranjak, dia harus menemui Amira. Pasti gadis itu sangat bingung karena dia sama sekali belum datang ke hotel.
**
__ADS_1
Amira sudah kembali ke hotel setelah acara santai-santai dengan teman barunya selesai. Dia langsung menemui sang ibu, memberikan beberapa camilan yang dia beli tadi. Sebenarnya Amira berniat ikut mengantar Cinta, tetapi gadis berhijab itu menolaknya. Karena tak ingin Amira kecapaian dan berakhir sakit.
“Laska belum mengabari kamu, Sayang?” tanya Gina pada Amira ketika mereka berada di sofa kamar hotel.
“Belum Bu,” jawab Amira seadanya. Wajahnya sudah kelihatan sangat murung dan sedih.
“Mungkin masih sibuk bekerja,” ucap Gina mencoba menenangkan hati Amira agar tak sedih kembali.
Amira memilih masuk ke dalam kamarnya, dia ingin menyendiri dengan perasaan yang sudah ... entah. Hotel yang Laska pesan memang sangat besar, ada dua kamar dalam satu unit.
Baru saja ingin berbaring, Amira dikejutkan dengan kehadiran seseorang. Dia langsung berhambur ke pelukan Laska yang dibalas oleh pria itu.
“Om ke mana aja? Amira rindu tau!” rajuk Amira membuat Laska gemas. Dia mencubit pelan pipi istrinya.
“Maaf Sayang, aku sibuk,” jawab Laska tak memudarkan senyumannya.
Amira mengajak Laska untuk berbaring di ranjang. Gadis itu langsung masuk ke dalam pelukan Laska kembali, menghirup dalam-dalam harum tubuh Laska yang sangat maskulin.
“Om,” panggil Amira seraya mencolek pipi Laska.
“Enggak ada yang Om sembunyiin dari Amira ‘kan?” tanya Amira membuat Laska terbatuk.
Laska mendadak bingung ingin menjawab apa, dan lebih memilih mengalihkan pandangan ke samping. Menghindari tatapan penuh binar milik Amira.
“Tidak ada kok. Kamu kenapa tanya begitu?”
“Aku hanya penasaran saja. Tiba-tiba kita pindah ke sini, dan aku tidak boleh ke rumah hanya untuk melihat saja,” ucap Amira.
“Bahaya Sayang. ‘Kan lagi direnovasi, takutnya entar terjadi apa-apa. Gimana?” Laska mencolek hidung Amira.
“Hemm, iya deh.” Amira tersenyum dan langsung menenggelamkan wajahnya di dada bidang Laska.
Lama mereka saling melepas rindu, hingga akhirnya Amira tertidur karena kelelahan. Laska memandangi wajah istrinya, dia tersenyum saat melihat wajah damai Amira. Sangat tenteram.
“Sabar Sayang, kita pasti bisa melewati ini bersama.” Laska kembali mengecup kening Amira sebelum beranjak pergi. Dia harus ikut keluarganya ke rumah calon tunangan Alfa.
__ADS_1
**
Bandara Soekarno Hatta
Seorang gadis bolak balik menatap sekitar dengan perasaan khawatir. Mencari sosok yang setengah jam ini dia tunggu, tetapi tak muncul. Cinta merasa kecewa juga khawatir, dia tak bisa mendeskripsikan lagi suasana hatinya.
“Ada seseorang yang kamu tunggu?” tanya Bara seraya mengusap pelan kepala adiknya.
“Enggak ada kok Bang,” jawab Cinta cepat.
“Bukan Amira ‘kan?” tanya Bara lagi, dengan cepat Cinta menggeleng.
Saat mendengar pengumuman bahwa pesawat menuju Semarang sebentar lagi akan lepas landas, Cinta menatap ke belakang sebentar. Berharap sosok Alfa ada di sana, tetapi nihil. Pria itu belum juga datang.
Cinta mengusap ujung matanya yang sudah berair, dia langsung menarik koper menuju pesawat yang diikuti oleh Bara.
“Jika kamu memang lagi menunggu Alfa datang, mungkin sebentar lagi dia sampai.” Bara membuka suara membuat langkah kaki Cinta terhenti.
“Udalah Bang, Kak Alfa enggak bakalan datang kok,” jawab Cinta sambil melangkahkan kakinya kembali.
Dia merasa sedih, orang yang ia cintai bahkan tak ada di sini. Saat dia akan pergi untuk masa depan. Dan Cinta mencoba memaklumi itu, dia tak bisa memaksa Alfa untuk tetap datang.
“Selamat tinggal Jakarta ... dan kak Alfa,” lirih Cinta dalam hati.
Dia tersenyum sebelum benar-benar masuk ke dalam pesawat.
Bersambung
Oke, Cinta sudah pergi. Sekarang giliran siapa lagi?
Othor lagi bad mood, gak tau ini bab seru atau gak.
__ADS_1