
Alchia dan Almiara berada di dalam mobil yang sama, mereka berdua akan pergi ke butik. Keduanya kelihatan begitu senang, bahkan saling bercanda saat berada di perjalanan.
Mobil keluarga Almaira berhenti di halaman butik, segera dua gadis berhijab itu keluar dari sana. Lalu berjalan untuk memasuki butik yang sudah buka.
Tak jarang Alchia ikut Almaira bekerja, gadis itu sangat senang bila melihat gadis yang dia anggap kakak itu menggambar. Apalagi kalau mendengar penjelasan Almaira, tentu saja Alchia sangat sangat senang.
Tapi sekarang raut wajah Alchia sedikit murung, membuat Almaira bingung. Tak biasanya gadis itu seperti itu, karena Alchia terkenal akan riang dan selalu gembira.
“Ada apa?” Almaira menepuk pelan bahu Alchia ketika gadis itu berdiri di depan rak buku miliknya.
“Nggak kok Kak,” jawab Alchia berbohong.
“Kalau ada masalah, bisa cerita dengan Kakak. Jangan takut Chia, Kakak nggak akan ngomong ke siapa-siapa kok,” ujar Almaira.
Sedangkan Alchia memejamkan matanya, menghembuskan napas dengan kasar. Mungkin dia harus menceritakan ini pada Almaira, syukur-syukur rasa penasaran di hati segera terobati.
“Jika seseorang itu menghindar tanpa alasan apa pun, itu kenapa ya Kak?” Akhirnya Alchia membuka suara.
Terlebih dahulu Almaira mengajak gadis itu untuk duduk, agar dia juga lebih nyaman untuk menjawab.
“Ada banyak hal, yang bisa membuat orang menghindar. Pertama, bisa jadi sikap kita. Kedua, pola pikir kita yang tak sesuai dengan dia, dan yang terakhir, bisa saja karena sesuatu yang lebih berharga,” jawab Almaira.
“Harta?” tebak Alchia. Almaira hanya mengedikan bahunya.
“Aku dan Alein memang berbeda, kami lahir dari keluarga yang tak sama. Ekonomis juga sudah sangat sangat berbeda, tetapi aku tak mempermasalahkan itu. Dia juga, selama ini tak pernah membanding-bandingkan,” papar Alchia.
“Ya sudah, berarti bukan tentang harta. Positif thinking saja Chia, mungkin teman kamu itu pengin sendiri. Atau dia ada masalah dan tak ingin semua orang tahu, makanya menghindar,” jelas Almaira lagi.
“Tapi Kak, aku nggak mau kaya’ gini. Kalau Alein menghindar, terus aku sama siapa. Cuma dia satu-satunya temanku,” lirih Alchia seraya menundukkan kepala.
“Kasus kamu sama kaya’ Kakak ya.”
“Maksud Kakak?” tanya Alchia bingung.
Menatap ke langit-langit ruangan, Almaira menghembuskan napas perlahan. Lalu menghirup kembali, hingga aroma mawar yang menguar di ruangan ini, masuk ke dalam indera penciumannya.
“Tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan, mungkin saja ini teguran dari Allah. Hingga menjauhkan teman kita dari kita,” ucap Almaira.
__ADS_1
“Ketika Kak Alchan pergi dari sisiku, rasa sakit itu begitu terasa. Kecewa, marah dan hancur sudah pasti ada di hati. Aku jadi terus berpikir, apa yang salah dengan aku? Hingga Alchan tak menjadi jodohku. Tapi sekarang aku sadar, itulah takdir. Bisa jadi, temanmu juga tak ingin terus-terusan kamu berharap pada dia, karena jika kalian terpisah, maka sakitlah yang akan terasa,” tutur Almaira.
“Aku sangat kehilangan dia Kak, aku begitu kehilangan Alein ketika dia menghindar. Aku sadar, aku cinta sama dia,” ucap Alchia dengan deraian air mata.
“Ya sudah kalau gitu, kamu jujur saja sama dia,” sahut Almaira.
“Tapi dia nggak mau aku ganggu lagi. Alein ngelarang aku buat dekat dia,” lirih Alchia.
Almaira segera mengusap punggung gadis yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. “Kalau gitu, tanya sama dia. Apa alasan dia menjauhi kamu seperti ini.”
Alchia tampak bimbang, tetapi dia segera mengangguk.
**
Pukul 11.00 WIB, Alchia sampai di kampus. Sengaja dia pergi siang karena kelasnya akan masuk di jam siang.
Gadis itu berjalan pelan di lorong kampus, dengan pandangan fokus ke depan. Sesekali embusan napas Alchia terasa saat dia tak sengaja melihat orang-orang menatapnya dengan aneh.
Sejak dulu dia selalu saja dipandang begini, orang-orang seakan ingin terus mengejek dirinya. Hingga Alchia teringat akan pembulian saat dulu dia masih duduk di bangku SMP.
Alchia tersadar saat seseorang lewat di sampingnya, itu Alein. Dengan langkah cepat Alchia mengejar pria itu.
“Alein tunggu!” teriak Alchia.
Dia masih berusaha untuk mengejar Alein, dengan sekuat tenaganya. Alchia terus berusaha hingga tangannya bisa mencengkal pergelangan tangan Alein.
“Tunggu Al!”
“Apa lagi sih Chi?” bentak Alein berusaha melepaskan genggaman tangan Alchia.
“Kamu harus jelasin sama aku dulu,” pinta Alchia.
“Jelasin apa lagi? Uda nggak ada yang perlu dijelasin,” tangkas Alein cepat.
Alchia terus menggeleng, genggamannya semakin dia eratkan. Agar Alein tak bisa lepas lagi, atau kabur dari hadapannya.
“Tentang kamu jauhi aku. Tentang kamu ngelarang aku buat ganggu kamu juga, sebenarnya ada apa? Salah aku apa Lein?” cecar Alchia dengan tatapan sendu.
__ADS_1
Untungnya hanya ada mereka di sana, jadi tak perlu ada yang tahu dengan masalah keduanya. Alein membuang wajah, tak sanggup melihat tatapan Alchia. Dia juga tak ingin menjauhi Alchia, tapi mau bagaimana lagi, semua dia lakukan demi ibunya dan harga diri keluarganya.
“Kan sudah aku bilang, kamu itu nggak salah apa-apa,” tegas Alein.
“Kalau aku nggak salah, kenapa kamu gini?” Alchia masih belum puas dengan jawaban pria di depannya itu.
“Chi stop! Stop! Tolong jangan ganggu aku!” bentak Alein keras membuat Alchia kaget.
“Ka-kamu ... bentak aku?”
Alchia sungguh tak percaya dengan ini. Mereka telah bersama sejak lama, tetapi tak ada masalah yang terjadi. Tapi kini, Alein berubah, pria itu menjauhi dia tanpa alasan bahkan membentaknya.
Tidak, Alchia tidak bisa pasrah begitu saja. Dia sudah tak punya teman, dan Alchia tak ingin Alein pergi juga.
“Sekarang, lepasin tanganku,” pinta Alein seraya menatap Alchia dengan tajam.
“Enggak! Enggak mau! Sebelum kamu jelasin, aku nggak bakalan lepasin kamu!” teriak Alchia.
“Chia lepas!” Alein menyentak kuat tangannya hingga terlepas dari genggaman Alchia.
Segera mungkin Alein ingin pergi dari sana, tetapi ucapan gadis di belakang dia membuat langkah lebar milik Alein terhenti.
“Aku cinta sama kamu Lein!” teriak Alchia dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipi.
“Aku cinta sama kamu, aku mohon kamu jangan kaya’ gini,” sambung Alchia, belum beranjak dari tempatnya.
Seketika keadaan di sana menjadi tegang, Alein sibuk dengan pikiran dan jantungnya yang berdebar hebat. Alein tak bisa menyangkal, hatinya juga sebenarnya memiliki rasa pada gadis itu.
“Alein,” panggil Alchia.
“Maaf ... aku nggak cinta sama kamu. Jadi tolong, jangan ganggu aku lagi,” cetus Alein seraya pergi dari sana.
Alchia semakin menangis tersedu-sedu, gadis itu sudah terduduk di tanah dengan tatapan sendu. Gurat sakit di matanya begitu terasa.
__ADS_1