Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 59


__ADS_3

Di dalam kelas, Amira masih terus menangis. Gadis itu merasa sangat sakit, hatinya seperti tergores karena menjadi bahan perbincangan seperti ini. Sejak beberapa menit yang lalu, Cinta belum kembali juga dari membeli minum. Entah ke mana gadis berhijab itu, Amira tidak tahu.


Kriet


Bunyi pintu didorong mau tidak mau membuat Amira mengangkat kepalanya. Cinta berdiri di sana seraya menampilkan senyum manis gadis itu.


“Ini minumlah, agar kamu lebih baikkan,” tutur Cinta seraya menaruh botol air mineral di meja.


“Terima kasih, Cinta,” lirih Amira.


Gadis itu menenggak sedikit minum yang Cinta bawa, lalu menaruhnya kembali di meja. Sedangkan Cinta, sejak tadi gadis berhijab putih itu terus memerhatikan Amira. Dia semakin mengepalkan tangannya yang terdapat kertas.


Tadi saat akan kembali ke kelas, dia melihat kertas bertulisan tak mengenakkan di mading sekolah. Cinta langsung mengambil sebelum Amira benar-benar melihat. Dia tahu siapa yang melakukan ini, tetapi enggan untuk memberi tahu Amira.


“Kamu kenapa Ta?” tanya Amira bingung karena melihat Cinta seperti gelisah.


“Tidak kok,” jawab Cinta cepat sambil cengengesan. Dia pura-pura merogoh uang dari saku baju padahal untuk menyembunyikan kertas tersebut.


“Ya sudah.”


Cinta mendekati Amira, dia menarik kursi dan mendekatkan pada Amira. Lalu Cinta duduk di sana, dengan pandangan tak lepas dari temannya.


“Amira, kamu tidak perlu merasa sendiri. Ada aku, om Laska dan ibumu. Kamu tidak perlu khawatir,” ucap Cinta mencoba meyakinkan Amira bahwa semua baik-baik saja.


“Aku hanya syok. Berita begitu cepat hingga sampai ke sekolah ini. Apa ada siaran langsungnya?”


“Bukan siaran langsung Amira, tetapi kertas perbuatan orang jahat itu,” jawab Cinta dalam hati.


Cinta tidak menjawab, dia memilih menatap Amira seraya tersenyum, agar gadis itu tak lagi memikirkan masalah ini. Memang sangat sulit untuk mempercayainya, tetapi Cinta tahu Amira itu kuat.


“Anak nara pidana masuk sekolah guys!” teriak seseorang dari luar pintu. Membuat Amira dan Cinta terkejut.


Tidak lama, terlihat Glora masuk ke dalam kelas beserta murid-murid yang lain.


“Haha, kasihan banget sih. Udah ayahnya dipenjara, kini rumahnya disita juga sama Bank,” cibir Glora sambil tertawa mengejek.


“Siapa dia guys?!”

__ADS_1


“Anak nara pidana!” teriak siswa-siswi yang berada di belakang Glora dengan senyum mengejek mereka.


Amira memalingkan wajah, menahan amarah yang semakin meluap didada. Sekuat tenaga Amira berusaha menahan, tetapi tidak bisa. Saat Amira akan berdiri, Cinta menahan tangan gadis itu.


“Kamu hanya perlu belajar dengan giat di sini, jangan pedulikan mereka yang akan membuatmu hancur. Dan jangan meladeni mereka, kamu yang akan terkena masalah,” bisik Cinta pada Amira, yang dibalas anggukan kecil dari temannya.


Glora memandang Amira dan Cinta dengan pandangan merendahkan. Dia merasa belum puas karena Amira tak melawan, akhirnya Glora maju satu langkah ingin menghampiri Amira.


“Kalian tahu tidak, perusahaan yang menjadi sasaran ayah gadis gila ini adalah perusahaan papahku. Sudah dikasih kerjaan enak, malah mengorupsi uang perusahaan!” teriak Glora dengan suara bernada keras, sengaja agar semuanya dengar.


“Wah, jahat banget ya ayahnya si Amira. Pantes anaknya begitu,” celetuk teman Glora yang mendapat anggukan dari semua siswa.


Amira tidak bisa menahan lagi, dia ingin berlari sekencangnya dan meninggalkan kelas ini. Namun, dia teringat akan pesan Laska. ‘Jangan pernah dengarkan omongan yang akan menjatuhkanmu, tetaplah diam’.


“Apa pantas kalian menilai orang dengan pandangan mata kalian? Belum tentu apa yang kalian katakan itu adalah kenyataan, jadi, jaga mulut kalian. Karena mulutmu adalah harimaumu.” Alfa berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap didada. Pandangan matanya begitu tajam mengarah ke Glora, membuat gadis itu harus menelan ludah dengan susah payah.


“Itu ... itu benar Beby Alfa. Ayahnya memang seorang penipu!” ucap Glora kembali, berusaha meyakinkan Alfa.


“Lantas, kamu menjadikannya sebagai bahan bullyan?” tanya Alfa sambil menarik turunkan alisnya.


“Aku hanya mengatakan kebenaran, bukan membulinya,” tangkas Glora.


Alfa berjalan mendekati Amira dan Cinta. Dia menatap dua gadis itu dengan dingin.


“Tidak perlu menangis lagi Amira, mereka hanya orang bodoh,” ujar Alfa seraya menaruh seplastik makanan di meja Amira.


“Tapi yang mereka katakan itu benar,” jawab Amira masih menundukkan kepala.


“Tenanglah. Kita bisa menyelesaikan masalah ini, jangan beri tahu Laska bahwa kamu dibuli,” pinta Alfa yang langsung diangguki Amira. Dia juga tidak mau membebankan semuanya pada Laska.


Cinta mengangguk paham saat Alfa menatapnya. Pria itu segera berlalu karena bel masuk sebentar lagi berbunyi.


“Sudah, jangan menangis lagi ya. Aku tahu ini memang sulit diterima, tetapi aku yakin kamu kuat. Gadis yang tangguh,” seru Cinta sembari mengepalkan tangannya memberi semangat, yang dibalas senyuman manis oleh Amira.


**


Pria berpakaian kantor, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Matanya memejam, dengan deru napas normal. Laska baru saja menyelesaikan berkas yang dipinta oleh abinya, dan dia baru bisa istirahat sekitar lima menit yang lalu.

__ADS_1


Tangannya meraih benda pipih di meja, melihat ke arah layar yang sudah memunculkan gambar Amira tengah tertidur. Begitu menggemaskan dimata Laska.


“Kau terlalu bekerja keras, aku membawakanmu kopi,” ujar Hari yang baru saja masuk dan meletakkan satu gelas kopi di meja Laska.


“Terima kasih,” balas Laska pelan. Dia masih setia menatap ke arah ponsel.


“Kamu tidak lelah, Laska?” tanya Hari seraya memandang ke arah Laska.


Pria itu menegakkan tubuhnya, lalu meletakkan ponsel di meja. Sebelum menjawab pertanyaan Hari, Laska memilih menyesap kopinya terlebih dahulu.


“Aku lelah, tetapi keadaan yang memintaku seperti ini,”


“Seharusnya kamu istirahat, pekerjaanmu terlalu banyak. Apa ada yang bisa kubantu?” tawar Hari yang mendapat gelengan cepat dari Laska.


“Tidak perlu! Aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri,”


Hari memilin diam, dia enggan berdebat dengan Laska hanya karena masalah pekerjaan. Pria itu memilih menyesap kopi miliknya, setelah itu memandang sekitar.


“Bagaimana keadaan Amira?” tanya Hari.


“Sudah baik-baik saja. Kenapa bertanya?” sewot Laska membuat Hari tertawa.


“Kau terlalu sensitif. Dengar ya Laska tampan, aku tidak akan merebut Amira-mu itu, karena pilihanku tetap jatuh pada gadis berhijab cantik yang kita temui kemarin.” Hari menopang dagunya sambil tersenyum-senyum tak jelas, membuat Laska bergidik ngeri.


“Maksudmu Cinta?”


“Aku tidak tahu namanya, tetapi dia begitu cantik hingga membuatku kecantol begini,” ungkap Hari lagi.


“Kau akan berhadapan dengan Alfa, karena gadis itu adalah pacarnya,” tukas Laska cepat membuat Hari tersadar.


“Apa? Yang benar saja?”


“Iya.”


“Aku tidak jadi jatuh cinta! Sangat malas melawan Alfa yang sifatnya lebih ganas dari ular!”


“Bagus.”

__ADS_1


 


__ADS_2