
Tiga minggu yang lalu, Bara datang ke perusahaan Abraham Group. Dia mendapat undangan dari pimpinannya, mau tak mau Bara datang. Meski awalnya dia ingin tak peduli.
Sosok pria paruh baya, duduk di depannya. Memutar-muat pena sembari menatap Bara dengan intens. Sedangkan pria muda itu, hanya memutar bola mata malas.
“Masih ingatkah pada hutang budimu?” tanya Abraham—papah Aisyah seraya meraih gelas yang tergeletak di meja.
“Tenang saja, saya pasti ingat,” jawab Bara mantap. Abraham tersenyum.
Abraham tepuk tangan, dia sudah beranjak jadi berdiri di belakang kursi yang Bara duduki.
“Bagus anak muda, ternyata daya ingatmu begitu kuat.”
“Katakan saja apa yang Anda inginkan, jangan berbasa basi,” ucap Bara dengan ketus. Dia sangat tidak suka memperlambat waktu.
“Ternyata kamu begitu tak sabaran,”
Bara geram melihat pria paruh baya ini, kalau saja tak ingat umurnya lebih tua. Sudah pasti Bara akan pergi begitu saja meninggalkan ruangan ini.
“Nikahi anak saya, sebagai balas budimu.” Ucapan Abraham membuat Bara terkejut. Pria itu langsung berdiri, menatap Abraham dengan tak percaya.
“Maksud Anda apa? Saya menolak!” tegas Bara.
“Bara Bara. Ada apa?”
“Pernikahan bukan hal yang mudah, jangan menjadikan itu sebagai balasan budi. Saya bisa memberikan uang seberapa pun Anda mau.”
“Saya hanya ingin kamu menikahi putri saya. Uang tidak saya butuhkan!”
Kedua tangan Bara terkepal, giginya saling bergemeletuk. Dengan amarah yang sudah di ubun-ubun, Bara pergi meninggalkan ruangan Abraham. Dia sudah tak bisa menahannya, pria paruh baya itu benar-benar membuat dia gila. Percuma dia membawa uang, sesuai dengan yang dulu dia pinjam. Kalau Abraham malah memintanya untuk menikahi sang putri, yang tak lain adalah Aisyah.
Bukan hal mudah Bara menyanggupi itu, masalahnya, dia baru saja dihancurkan oleh cinta. Pacarnya pergi dengan selingkuhan wanita itu, meninggalkan dia dan cintanya yang begitu tulus.
__ADS_1
Bara tersadar dari lamunannya saat mendengar dering ponsel, dia lekas mencari benda pipih itu. Satu pesan masuk, dari nomor yang tak ia kenal. Tapi, saat membaca isinya, Bara sudah bisa menebak siapa sang pengirim.
[Bapak jadi datang?]
Seperti itulah isinya, Bara tahu itu adalah Aisyah. Siapa lagi yang memanggil dia bapak kalau bukan Aisyah dan sekretarisnya.
Tring
Pesan kembali masuk dari nomor yang tadi.
[Maaf kalau lancang, sudah meng-chat tanpa izin. Oh ya juga, nomor ini, Aisyah dapat dari penanggung jawab restoran milik bapak. Maaf ya pak,]
Dengan malas Bara mengetikkan sesuatu, untuk menjawab pesan dari Aisyah.
[Hmm] Balasan dari Bara.
[Hmm itu iya kan pak? Jadi, jam berapa bapak akan datang ke sini?] Lagi balasan dari Aisyah.
[Tidak tahu]
Merasa ada yang tidak beres, Bara mengecek balasannya sendiri. Ternyata ada kata yang mampu menyakiti hati, tidak seharusnya Bara mengirim pesan “Tidak tahu” itu sama saja, dia membohongi Aisyah.
Dengan gerakan cepat Bara membuka lemari, mencari baju yang cocok untuk dia kenakan. Sudah ada lima pasang jas beserta kemeja, tetapi tak ada yang pas untuk Bara. Semua terkesan biasa saja. Bara begitu bingung, dia yakin kalau Cinta ada di sini, pasti masalah baju akan cepat selesai.
Bara mengambil ponsel, mencari kontak di sana. Dia langsung menghubungi orang kepercayaannya.
“Bawakan sepuluh stel jas dan kemeja, dalam waktu sepuluh menit,” ucap Bara setelah telepon tersambung, setelah itu dia memutuskannya secara sepihak.
Benar saja, sepuluh menit dia menunggu. Dua pria berbadan kelar datang membawa pesanan Bara. Pria itu semakin di buat bingung, tak ingin ambil pusing, Bara mempotretnya.
[Menurut kamu mana yang cocok?] Bara mengirim pesan, sekaligus dengan gambar baju.
__ADS_1
@Aisyah
[Yang benar saja, bapak bertanya padaku?]
@Bara
[Menurutmu aku bertanya pada siapa? Setan?]
@Aisyah
[Terserah deh.]
@Bara
[Kenapa harus marah? Apa aku ada salah? Aku hanya bertanya, mana yang cocok.]
@Aisyah
[Tapi itu sama saja, tidak surprise.]
@Bara
[Memangnya baju harus surprise? Dasar aneh!]
@Aisyah
[Bapak kaku, dingin dan sangat keras kepala! Setelah ini jangan tanya, permata yang bagaimana cocok untuk aku.]
Bara melepaskan ponselnya dan terjatuh ke kasur. Benar saja, dia belum membeli permata apa pun. Ini sungguh membuat Bara kewalahan sekaligus pusing sendiri. Apa orang lain yang akan melamar, juga begini?
__ADS_1
Bersambung
Apa cuma mas Bara, mau ngelamar nanya dulu sama calonnya?