
Pernikahan yang tak diinginkan terjadi. Keluarga Alchan merasa sangat malu sekarang. Terutama Amira dan Laska, mereka masih tidak percaya dengan perbuatan Alchan.
“Kenapa kamu berbuat seperti ini Nak?” Air mata Amira tidak berhenti mengalir sejak tadi.
“Maaf, Mah.” Hanya itu yang bisa Alchan ucapkan. Mulutnya terasa kelu untuk menjawab lebih panjang lagi.
Kini mata pria itu mengedar ke seluruh ruangan, semua orang membenci dia. Alchan benar-benar sudah membuat malu keluarganya, terutama sang papah yang sudah mengajarkan dia tentang Islam.
Sedangkan Gladis, istri Alchan. Hanya diam sejak tadi, sejujurnya dia ingin mengungkapkan semuanya pada satpam malam itu. Tapi sayang, dendamnya kembali muncul, dan Alchanlah yang menjadi sasaran.
“Lihatlah putramu, Laska. Dia begitu bodoh! Nama baik Lencana hancur gara-gara dia!” teriak nenek Alchan.
“Papahmu sedang dirawat, tetapi bocah ini malah menghancurkan semuanya. Ah! Sudahlah!” timpal nenek lagi.
Alchan hanya bisa menundukkan kepala, semua sudah terjadi. Dan dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, ini semua musibah.
“Gladis, kamu bisa lebih dulu masuk ke kamar,” ucap Alchan pada Gladis. Wanita itu mengangguk dan beranjak dari ruang keluarga.
Menghembuskan napas berulang kali, Alchan membuka suara kembali, “Aku akan pergi dari rumah ini. Aku janji Pah, Alchan pasti akan membersihkan nama keluarga kita. Maaf karena sudah membuat kalian kecewa, bukan seperti ini mau Alchan. Namun takdir Allah, tidak bisa Alchan hindari lagi.”
Semua orang juga tidak mau berada di posisi Alchan. Namanya buruk, kariernya hancur dan menikah dengan seseorang yang tak dicintai. Bahkan Alchan juga tidak mengenal seluk beluk wanita itu.
Setelah berucap seperti itu, Alchan pergi dari sana. Dia menyusul sang istri di kamar. Semua barang Alchan bereskan, dari baju sampai alat lukisnya.
“Maaf sudah membuatmu hancur. Aku memang bodoh Alchan! Aku bodoh!” ucap Gladis sambil memukul kepalanya.
“Berhenti melakukan itu, semuanya sudah terjadi. Apa lagi yang harus kita sesali? Allah adil, ada hikmah yang dapat kita petik dari semua ini,” ucap Alchan. Dia kembali menyusun barang-barangnya.
Gladis menatap Alchan dengan sendu. Kata-kata ‘andaikan’ terus dia lontarkan dalam hati. Merasa sangat bersalah pada semua orang, terutama Alchan yang begitu pasrah menerima takdir ini.
“Ayo kita pergi,” ajak Alchan seraya menarik koper miliknya.
Wanita itu mengikuti langkah Alchan, mereka berjalan menuruni anak tangga. Amira hanya bisa menangis, meski sudah ditenangkan oleh Alchia tetap saja menangis.
Alchan menghampiri Amira, mengecup punggung tangan wanita itu dengan takzim. Tak terasa air mata Alchan mengalir, mengenai kulit Amira.
“Sekali lagi maaf, Mah,” ucap Alchan menatap Amira sendu.
Sayangnya, Amira masih kecewa dengan Alchan. Dia membiarkan putra kesayangannya pergi bersama sang istri. Hatinya sakit, dia berat mengikhlaskan Alchan, tetapi rasa kecewa itu lebih besar dari semuanya.
__ADS_1
Di halaman rumah, Alchan memelankan langkah kaki saat melihat seorang gadis yang tengah berlari melewati gerbang. Untuk yang ke sekian kalinya, air mata Alchan mengalir deras membasahi pipi.
Sama halnya dengan Almaira, gadis itu juga menangis. Tubuhnya lemas, jiwanya hancur dan hatinya terluka parah.
“Ayo Gladis, kita harus cepat!” Alchan menarik tangan Gladis, membuat wanita itu terkejut.
Perasaan Almaira semakin hancur, matanya tak lepas memandang Alchan dan Gladis yang sudah pergi melewati dia.
“Aku yang menemanimu, tetapi dia yang berada di sampingmu.”
“Sejak dulu, aku selalu cemburu jika kamu dekat dengan gadis lain. Tapi sekarang, bahkan kamu menggenggam tangannya.” Isak tangis Almaira tak bisa tertahan.
Tubuhnya merosot jatuh, Almaira terduduk di tanah dengan perasaan yang sudah entah. Almaira kecewa, dia kecewa dengan takdir yang tak bisa menyatukannya dengan Alchan.
**
Sebuah apartemen lengkap dengan isinya, hasil dari perjuangan keras seorang Alchan. Dia menaruh kopernya di dalam kamar, membiarkan tanpa berniat untuk membereskan.
Alchan berjalan ke balkon kamar, menatap langit sore yang kelihatan mendung. Sepertinya sebentar lagi langit akan menangis, seperti hatinya yang juga menangis.
Tring
Tring
Tring
Deretan demi deretan pesan dari Almaira terlihat saat Alchan membuka kontak gadis itu. Dari sebuah kalimat penuh semangat, kata iba untuk kakeknya. Dan kata-kata penuh kekecewaan yang Alchan sendiri tak bisa mengukurnya.
[Semua yang terjadi ... itu tidak benar kan Kak?! Tolong beritahu aku!]
“Kamu orang baik Almaira. Mungkin ini cara Allah, untuk menjauhkan kamu dari orang buruk sepertiku,” ucap Alchan. Matanya terpejam, sedangkan jemarinya memencet kata hapus pada pesan yang Almaira kirim.
“Sejak kecil, aku memang sudah dianggap buruk oleh sebagian orang. Dan kamu ... kamu adalah orang pertama yang menguatkan aku.”
“Tapi sekarang, aku melukaimu. Aku memang bejat, tidak tahu berterima kasih!” sambung Alchan.
Bayangan-bayangan masa kecilnya dengan Almaira berputar indah di kepala Alchan. Seolah semua seperti film yang sedang dimainkan.
“Titik terendah seseorang, saat dia tidak bisa melihat nikmat yang seharusnya dia syukuri. Jadi, jangan patah semangat Kak, jangan jadikan kekuranganmu yang terdepan, tetapi rasa syukur.”
__ADS_1
“Kalau aku punya pesawat, aku bakalan ajakin Kakak buat pergi ke surga bareng-bareng. Sama Alchia juga, bunda dan ayah, mamah dan papah. Dan semuanya pokoknya!”
Suara Almaira kecil berdengung ditelinga Alchan. Pria itu menutup telinganya, berusaha untuk menghilangkan semua yang mengganggu dirinya.
“Alchan, aku udah siapin makanan.” Gladis berdiri di ambang pintu kamar Alchan, yang memang tak tertutup.
“Iya, nanti aku keluar,” balas Alchan. Gladis mengangguk dan pergi dari sana.
Dengan cepat Alchan menghapus bulir bening yang baru jatuh dari sudut mata, lalu membuka koper yang dia bawa.
Alchan mengeluarkan semua isinya, termasuk foto keluarga. Jemarinya bergerak mengusap foto sang mamah, seketika rasa rindu dan bersalah menyeruak dalam kalbu.
“Love you, Mah.”
Kini Alchan beralih ke foto masa kecilnya. Ada Alchia di sana, adik yang paling Alchan sayangi. Juga ada Almaira, teman yang selalu ada di samping Alchan saat dia susah maupun senang.
“Tidak ada yang berharga, kecuali keluarga.”
**
Suasana ruang makan terlihat menegangkan, tidak ada yang berniat membuka suara. Alchan fokus pada makanannya, begitu pun Gladis. Wanita yang beberapa jam lalu Alchan nikahi.
“Gadis tadi, itu pacarmu?” Gladis membuka suara, membuat Alchan langsung mengangkat kepalanya.
“Tidak. Dia temanku, sekaligus sahabat yang sudah aku anggap seperti saudara,” jawab Alchan.
“Pasti dia sangat marah. Maaf, karena aku, semua orang marah padamu.” Gladis menundukkan kepalanya.
“Sudahlah, jangan bahas itu lagi.”
“Aku janji tidak akan mengurusi hidupmu. Terserah kau mau berbuat apa. Aku juga tidak perlu dinafkahi, biarkan aku bekerja untuk diriku sendiri,” lirih Gladis.
“Sekarang aku suamimu, dan sudah menjadi tanggung jawabku untuk menafkahimu,” tandas Alchan.
“Aku janji Alchan, akan segera pergi dari hidupmu.”
Gladis menatap Alchan seraya menganggukkan kepala.
__ADS_1