
Suasana kota Jakarta Selatan kini begitu cerah, kendaraan berlalu lalang di atas aspal hitam. Saling mengedahului demi untuk sampai di rumah atau tempat kerja. Bara baru saja keluar dari restoran miliknya, berniat masuk ke dalam mobil. Tetapi langkahnya terhenti saat melihat dua orang tengah berjalan ke arahnya.
“Assalamualaikum Pak Bara,” sapa Aisyah seraya menampilkan senyum manisnya.
“Waalaikumsalam,” jawab Bara dingin. Matanya fokus pada pria di sebelah Aisyah.
“Hay.” Hari yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara saat melihat Bara begitu intens melihatnya.
“Ya.”
Aisyah hanya bisa meringis, saat melihat ekspresi Bara begitu tak bersahabat. Sepertinya pria itu sedang ada masalah, wajahnya selalu dingin dan datar. Begitu pun dengan suaranya. Sangat-sangat membuat Aisyah takut.
“Ada perlu apa?” tanya Bara setelah cukup lama dia hanya diam saja.
“Tidak ada kok Pak. Kami hanya ingin makan di sini,” balas Aisyah.
Bara mengangguk, lalu pamit pulang lebih dulu. Pria itu langsung masuk ke dalam mobil. Dia tak menghidupkan mesin mobilnya, memilih melihat apa yang akan Aisyah dan pria itu lakukan.
__ADS_1
Tak lama, Aisyah masuk ke dalam restoran bersama Hari, Bara langsung keluar. Dia tak jadi pulang, melainkan kembali masuk ke dalam restoran. Membuntuti ke mana perginya dua orang tadi.
“Benar saja, mereka akan makan,” gumam Bara masih terus melihat Aisyah dan Hari.
Dengan lunglai Bara berjalan keluar, membiarkan sapaan yang mengudara untuknya. Dia lagi tidak mood menjawab sapaan dari siapa pun, dikepalanya terus berputar-putar wajah Aisyah dengan senyuman yang begitu indah di pandang.
**
Setelah menyelesaikan take ke dua, Laska langsung pergi ke ruang istirahat. Meski hanya berfoto-foto saja, juga melelahkan. Namun Laska tetap bersyukur, masih ada perusahaan yang membutuhkan kerja kerasnya.
Awalnya Laska tak yakin saat mengajukan berkas lamaran kerja beberapa hari lalu. Meski dia masih ingat bagaimana dosen ya mengajari cara menjadi aktor yang baik, meski dalam per-iklanan atau pun drama. Tetap saja Laska tak percaya diri, dia masih takut akan memulainya kembali. Tapi semua teratasi setelah mendapat dukungan dari sang istri, Amira begitu baik dan tentunya sangat Laska cintai.
“Hay juga, Mbak Alen,” balas Laska.
Wanita yang Laska panggil Alen, menarik kursi lalu meletakkan di dekat Laska. Wanita itu terus tersenyum memperhatikan wajah tampan Laska.
Alen adalah teman kerja Laska, mereka berdua menjadi brand ambassador perusahaan kosmetik ini. Foto keduanya begitu indah terpasang di dinding ruang foto.
__ADS_1
Wanita yang kini mengenakan pakaian kurang bahan, terus menatap Laska dengan tatapan memuji.
“Kamu keren banget, damage kamu juga tidak terkalahkan,” puji Alen membuat Laska tertawa renyah.
“Tidak perlu dipuji begitu Mbak, saya tidak sebagus yang Mbak Alen katakan,” ucap Laska.
“Jangan merendah. Kamu memang bagus. Aku beruntung bisa bekerja denganmu,” ungkap Alen.
“Ya sudah, kalau gitu terima kasih.”
Laska tersenyum, dalam hati dia menggerutu. Sebab wanita ini malah semakin menatap wajahnya dengan binar pujian. Laska sangat risih dilihatin begitu, dia tidak suka orang-orang memujinya meski itu tentang pekerjaan. Cukup Amira saja.
“Saya keluar duluan Mbak,” pamit Laska seraya berjalan meninggalkan ruang istirahat. Pria itu memilih pergi ke kafe di dekat perusahaan.
Laska menjatuhkan kepalanya di tumpukan kedua tangan. Senyum tak pernah memudar dari bibirnya saat mengingat kemarin malam. Kisah yang tidak akan pernah dia lupakan. Bahagia Laska bisa mendapatkan apa yang selama ini Amira jaga, dia juga tak sabar menanti benihnya yang akan tumbuh di rahim wanita itu.
Bersambung
__ADS_1
Othor kejam, othor oke.