Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 89


__ADS_3

Tanggal pernikahan sudah ditentukan, tiga Minggu lagi Bara dan Aisyah akan melaksanakan akad dan resepsi. Sebenarnya ini cukup lama untuk Aisyah, tetapi mengingat dia dan Bara perlu pekenalan agar lebih dekat. Akhirnya dia menyetujui, begitu pun Bara.


Pagi-pagi sekali Aisyah sudah membantu mamah di dapur, dia memperhatikan wanita paruh baya itu memasak. Itung-itung mencari ilmu agar saat dia menjadi istri nanti, sudah tak kaget lagi. Meski, Aisyah sudah jago memasak, tetap saja dia ingin terus belajar dan belajar. Bila perlu, mencari resep makanan yang belum dia ketahui.


“Nanti kalau Kakak sudah jadi istri, harus bangun pagi. Menyiapkan sarapan buat suami, membantu suami menyiapkan diri sebelum ke kantor juga. Itu wajib.” Wejangan dari mamah, Aisyah dengarkan dengan baik. Dia tak ingin melewatkan satu kalimat saja.


“Dan juga, kalau suami minta ini dan itu, harus dituruti. Karena tugas istri memang melayani beliau,” sambung mamah. Dengan Segera Aisyah menganggukkan kepalanya.


“Ma, Aisyah mau tanya,”


“Boleh Sayang. Mau tanya apa?” Mamah mengalihkan pandangannya dari kompor.


“Cara membuat rumah tangga harmonis itu seperti apa?”


Hal ini yang selalu Aisyah pelajari sejak dulu, awal dia bertunangan dengan Laska. Aisyah hanya takut, dia tidak bisa membuat rumah tangganya harmonis nanti.


“Kepala rumah tangga yang bertanggung jawab dan istri yang bisa membuat rumah nyaman. Ngerti perut keluarga, Sayang pada anak dan selalu mengutamakan keluarganya. Dijamin rumah tangga akan selalu harmonis, dan jangan lupakan satu. Sesekali nikmati momen berdua sama suami, berdiskusi tentang rumah tangga. Bagaimana caranya agar suatu keluarga itu hidup dan nyaman,” jelas mamah, Aisyah tersenyum bangga. Dia tidak bisa meragukan mamah lagi, wanita itu memang memiliki jiwa yang sangat keibuan.


“Makasih, Mah. Wejangannya,” ucap Aisyah sembari memeluk wanita yang sangat dia sayangi.


Mamah hanya tersenyum dan membalas pelukan Aisyah, setelah itu beliau kembali melanjutkan memasak yang dibantu oleh Aisyah. Dia turut serta mendengar apa yang mamah inginkan, menuruti semua perintah beliau.


Sedangkan di tempat lain, Amira juga sedang menyiapkan sarapan pagi. Dia bangun lebih awal, melaksanakan salat Subuh bersama Laska. Setelah itu memilih ke dapur untuk memasak. Ibu tidak ketinggalan, meski Amira memintanya untuk duduk saja, ibu tetap kukuh ingin membantu. Akhirnya Amira hanya mengangguk, tak bisa lagi melarang.


“Sayur sop pasti sangat enak dimakan pagi-pagi begini, apalagi hawa cukup dingin juga,” ujar ibu sembari memotong-motong wortel dan kentang.


“Benar Bu, apalagi kalau ada sambalnya,” timpal Amira yang tengah sibuk dengan daging ayam.


Setelah mencuci daging ayam dan teman-temannya untuk disop. Amira menyiapkan panci dan air. Sedangkan ibu mendapat pekerjaan untuk memasukkan bumbu-bumbunya. Sambil memasak, keduanya tetap melemparkan canda dan tertawa bersama.


Melihat itu, Laska tersenyum. Dia beruntung memiliki istri dan mertua yang begitu baik. Mau menerima keadaannya yang tengah hancur begini, dan mau bersabar bersama untuk mencapai titik sukses bareng-bareng.

__ADS_1


Laska jadi ingat umi, dia rindu sosok wanita itu. Beberapa hari ini dia memang belum menghubungi Kia untuk menanyakan kabar saja. Karena padat jadwal syuting, membuatnya jarang memiliki waktu untuk sekadar menanyakan kabar pada keluarga. Laska segera mengambil ponsel dari saku, lalu berjalan keluar rumah. Dia berniat menghubungi uminya.


“Hari ini Ibu sibuk tidak?” tanya Amira ketika mereka sudah siap memasak.


“Tidak Sayang. Kenapa?”


“Amira mau ajak Ibu jalan-jalan, mau tidak?” Amira meletakkan susu yang baru saja dia buat di meja. Lalu piring yang dia ambil di lemari.


“Boleh, lagian Ibu juga bosan di rumah.”


“Kalau gitu nanti kita berangkat jam sepuluan ya Bu,” ujar Amira.


“Oke, Sayang.”


Lalu keduanya kembali disibukkan dengan membereskan dapur. Sedangkan Laska masih sibuk dengan ponsel di genggaman. Dia bahagia bisa mendengar suara umi dan abi meski hanya dari sambungan telepon.


**


Semarang


Bermimpi Alfa pergi sejauh-jauhnya dan tak pernah kembali, membuat suhu tubuh Cinta langsung tinggi karena ketakutan. Bahkan kemarin malam, dia sempat tidak bisa tidur lagi kalau saja tak mendengar suara Alfa.


Dia telepon pria itu, awalnya Cinta tak berharap telepon akan tersambung. Tapi ternyata Alfa juga belum tidur, akhirnya mereka mengobrol-ngobrol sebentar sampai Cinta tertidur tanpa memutuskan sambungan.


“Huff.” Cinta menghela napas kasar, lalu mengunci pintu rumah. Gadis itu berjalan ke depan pagar rumah, menunggu taksi sampai.


Tak selang berapa lama, taksi yang Cinta sudah pesan akhirnya sampai. Dia segera naik dan gegas meminta sopir itu untuk mengantarnya ke kampus.


Dalam perjalanan, banyak sekali pikiran yang membuat Cinta pusing, dari kisah cintanya dengan Alfa sampai pernikahan abangnya. Cinta berniat pulang ke Jakarta untuk melihat pernikahan abangnya nanti, tetapi dia urungkan karena sepertinya tak mendapat izin dari dosen.


Sedangkan kisah cintanya kini semakin rumit, meski Alfa belum melontarkan kata putus. Tetapi Cinta merasa ada yang aneh, dia selalu mendapati Alfa seperti gugup saat dia telepon. Pembahasan pria itu pun sudah sangat membuat Cinta bingung.

__ADS_1


Tak terasa Cinta sudah sampai di kampus, dia segera menuju bangunan fakultas kedokteran. Sampai di lorong kampus, langkahnya terhenti saat pria dengan pakaian urakan menghadang jalan Cinta.


“Hay Cinta Amara, apa kabar?” tanya pria itu.


Cinta memandang sekilas, dia begitu risih melihat celana yang pria di hadapannya gunakan. Sobek-sobek dibagian lutut. Begitu pun telinga yang terdapat anting. Rambut yang tak tersisir rapi, juga membuat Cinta bergidik.


“Maaf. Kamu siapa?” tanya Cinta balik. Dia memang tidak kenal dengan pria tersebut. Karena ini kali pertama dia bertemu dengannya.


“Rasya,” jawab pria itu cepat.


“Tahu nama saya dari mana?” tanya Cinta lagi.


“Mahasiswi terpintar di bagian fakultas kedokteran, siapa sih yang tidak kenal? Hanya saja, kamu cuek,” ujar pria itu. Cinta mengerutkan keningnya bingung.


“Masa sih?”


“Nanya mulu. Iya. Dah tuh,” sewot pria bernama Rasya tadi.


“Maaf.” Cinta menundukkan kepalanya. Menghindari tatapan Rasya.


“Eh, kenapa nunduk? Angkat kepalamu, jangan biarkan mahkota indah itu jatuh. Ayo Tuan Putri, angkat kepala kamu. Pangeran tampan ini ingin melihat wajah cantik itu,” goda Rasya membuat senyuman kecil terbit di bibir Cinta.


Meski awalnya Cinta merasa aneh dengan Rasya, tetapi sepertinya pria ini sangat humble dan baik.


“Kalau gitu, Cinta duluan,” pamit Cinta seraya beranjak dari tempat. Tetapi Rasya segera menghalangi lagi jalan Cinta.


“Aku cuma mau bilang. Tolong nanti tanyakan pada Tuhanmu ya, kenapa bisa menciptakan gadis secantik ini. Bahkan bidadari saja kalah.”


Cinta segera berlari meninggalkan Rasya dengan jantung yang sudah berdebar hebat. Senyum tak pernah memudar dari bibir Cinta. Dia merasa terbang hanya dengan mendengar gombalan Rasya saja.


Bersambung

__ADS_1


Ada personil baru, anak othor yang baru keluar dari open. Tenang, gak kaku dan dingin kok🤣


 


__ADS_2