
Atmosfer di ruangan ini sangat mencekam. Jemari Amira masih terus memilin rok panjang yang dia pakai. Begitu pun mulut, terus menghembuskan napas karena gugup. Apalagi kini kakek Laska terus menatap ke arahnya.
“Ayo diminum dulu tehnya, Sayang,” ucap Kia yang baru saja meletakkan tiga gelas teh di meja.
“Iya, Mi,” jawab Amira sekenanya. Bahkan saat minum saja, matanya melirik-lirik ke arah kakek.
Otak Amira mendadak buntu. Dia bingung mau mengucapkan apa, bibir pun terasa amat kelu. Kia yang duduk di sebelahnya, terus mengusap punggung Amira. Mungkin wanita itu tahu, bahwa menantunya sedang gugup.
“Apa yang bisa kamu lakukan sebagai seorang istri?” Pria sepuh yang duduk tak jauh dari tempat Amira berada, membuka suara.
Sebelum menjawab, Amira mengucap bismillah berulang kali. Dia hanya takut jawabannya ini akan salah, di mata dan pendengaran sang kakek.
“Alhamdulillah, Amira bisa menyiapkan sarapan pagi, baju Mas Laska dan memenuhi kebutuhan lainnya. Meski Amira bukan wanita karier, tetapi Amira akan terus berusaha menjadi istri yang baik dan terus lebih baik,” papar Amira mendapat senyuman dari Kia.
“Apa saya bisa mempercayai itu?” Kakek kembali bertanya. Amira bingung, dia menatap Kia. Dan wanita itu mengangguk.
“Ya. Karena apa yang Amira ucapkan. Benar.”
“Kalau begitu, buatkan saya nasi goreng. Ini memang sangat gampang, tapi saya ingin. Kamu membuatnya seperti di kafe-kafe, rasa yang begitu enak,” tantang kakek.
Amira bingung, bisakah dia membuatkan nasi goreng itu. Karena biasanya jika dia membuat nasi goreng, rasanya tak terlalu enak. Tapi kali ini Amira harus berusaha, dia ingin memberikan yang terbaik. Agar kakek Laska bisa menerimanya dengan baik. Mungkin.
“Baik. Amira akan buatkan untuk Kakek.”
Pria sepuh itu mengangguk, lalu mempersilakan Amira untuk segera ke dapur. Amira menuruti, dia segera pergi. Membuka kulkas, mata Amira berbinar. Apa yang dia inginkan ada di sini.
Cumi-cumi masih segar, dia akan membuat nasi goreng cumi. Seperti nasi goreng yang dibuat di kafe Dimas. Dia masih ingat bahan-bahan apa saja yang saat itu chef gunakan.
Perjuangan yang dilakukan bersungguh-sungguh, pasti akan membuahkan hasil yang luar biasa.
__ADS_1
**
Setelah makan, Aisyah segera menaruh piringnya kembali di nampan. Agar bisa segera dikembalikan. Mereka masih di hotel, Bara belum mau pulang.
“Kamu mau tahu, wanita yang saat itu menabrakku di restoran? Masih ingat kan?” Tiba-tiba Bara membuka suara, membuat Aisyah langsung menoleh.
“Ingat. Aisyah bukan orang yang gampang melupakan,” jawab Aisyah dingin. Moodnya jadi tidak baik, ketika mengingat kejadian itu lagi.
“Coba tebak. Dia siapa?” Bara sengaja membuat istrinya cemburu atau memang ingin menyakiti Aisyah? Antahlah, Aisyah jadi kesal pada pria itu.
“Pacar Mas,” jawab Aisyah asal. Seketika tawa Bara terdengar, Aisyah terkejut. Dia belum pernah melihat pria itu tertawa. Tapi sekarang, Bara memperlihatkannya.
“Kalau dia pacar saya. Mana mungkin saya menikahimu. Lebih baik memilih pacar saya,” ucap Bara membuat Aisyah kesal.
“Ya sudah sana, nikah sama dia!”
“Mas!”
Aisyah membalikkan badan sambil melipat tangannya di dada, membuat tawa Bara semakin terdengar. Pria itu segera memeluk istrinya dari belakang, meletakkan dagunya di bahu Aisyah.
“Dia itu mantan, Mas. Ya, mantan yang tak perlu lagi diingat. Karena masa depanku, ada di kamu,” jelas Bara membuat pipi Aisyah hangat.
“Kenapa bisa putus?” Aisyah masih penasaran.
“Karena dia selingkuh dan lebih memilih pergi. Ya sudah, Mas lepaskan.” Enteng. Padahal sekarang ini hati Bara sedikit sakit, ketika mengingat kejadian satu tahun lalu.
“Apa nama dia masih ada di hati Mas?” Aisyah bertanya sambil menatap mata Bara dalam.
“Memang tidak gampang melupakan seseorang yang sudah lama kita cintai. Tapi, Mas akan berusaha membuang segala memori tentang dia. Karena sekarang ini, yang harus Mas pikirkan adalah kamu, dan bagaimana bisa menumbuhkan benih dengan cepat,” ucap Bara yang langsung mendapat cubitan di pinggang.
__ADS_1
“Mas mesum,” ujar Aisyah.
“Sama istri sendiri. Gak masalah. Sayang, yuk. Biasanya pagi-pagi gini enak.”
“Mas ih!”
Aisyah pasrah saat tubuhnya dibopong oleh Bara ke tempat tidur. Aisyah hanya bisa mengucap bismillah terus menerus. Ini pengalaman pertama, dia harus memberikan yang terbaik untuk Bara.
Tut! Othor masih di bawah umur. Skip.
**
Jantung Amira bertedak dengan kencang saat menunggu tanggapan kakek tentang masakan ya. Sedangkan umi, terus menenangkan dia. Melihat ekspresi yang ditampilkan kakek Laska, membuat Amira meringis.
Dia hanya takut, masakannya tidak sesuai dengan yang kakek inginkan.
“Lumayan.”
Amira tersenyum mendengar jawaban itu, meski lumayan. Dia yakin, ini pasti pertanda baik.
“Mungkin selama ini saya telah berpikiran buruk tentang kamu. Ingin memisahkan takdir yang jelas-jelas sudah ditentukan oleh yang Maha Kuasa. Saya minta maaf, Amira.” Ucapan Kakek membuat air mata Amira mengalir begitu saja, sama halnya dengan Kia.
“Terima kasih Kakek. Sudah mau menerima Amira, Amira janji akan menjadi menantu yang baik untuk keluarga ini.”
“Saya percaya itu.”
Benar ucapan Cinta. Bahwa semua yang kita lakukan dengan hati rendah, akan berakhir indah. Sekarang ini Amira rasanya ingin segera bertemu Laska. Memeluk pria itu dan mengatakan bahwa dia sudah diterima di keluarga ini.
__ADS_1