Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 78


__ADS_3

Bara baru saja sampai di restoran pagi-pagi sekali. Pria itu langsung menuju ruangannya. Mengawasi restoran cabang lewat laptop, dia lelah untuk datang ke sana. Beberapa menit Bara duduk, pintu ruangannya diketuk.


“Masuk,” sahut Bara dingin.


Tidak ada jawaban dari luar, tetapi derit pintu terdengar. Sosok wanita dengan hijab lebar dan gamis elegan masuk. Bara belum menyadari kehadiran wanita itu sebab sibuk dengan layar laptopnya.


“Permisi Pak,” panggil Aisyah seraya mengetuk pelan meja kaca milik Bara.


Sontak pria itu mengangkat kepalanya, hingga dengan jelas dia bisa melihat siapa sosok yang baru masuk ini. Pikiran Bara langsung beralih ke beberapa hari lalu, pertemuan pertama mereka.


Mas ini lagi.


Aisyah masih menatap Bara begitu pun sebaliknya. Pria yang masih duduk di depannya, menatap dengan dingin tanpa ekspresi membuat Aisyah meringis dan segera mengalihkan pandangan.


“Saya Aisyah Humairoh. Yang memesan makanan di sini, Pak,” ucap Aisyah.


“Kenapa ke sini?” tanya Bara dingin. Dia beranjak dari duduk, mengambil kursi yang ia letakkan di dekat lemari. Lalu meletakkannya di depan meja.


“Duduk,” titah Bara. Aisyah langsung duduk dengan cepat, hingga membuat Bara terkejut karena masih berada di dekat kursi.


“Saya uda duduk Pak. Terus harus apa?” tanya Aisyah dengan polos. Bara tersadar dan segera berdehem. Dia kembali duduk di kursi miliknya.


“Seharusnya saya yang tanya. Anda ke sini ngapain?” ujar Bara.


Aisyah hanya meringis malu, menggaruk punggung tangan dengan gugup.


“Kemarin waktu saya datang ke sini, tidak bertemu Bapak. Jadi saya datang lagi, untuk memastikan kalau Bapak memang menerima pesanan saya. Dan juga, atas perintah bawahan Bapak,” jawab Aisyah dengan detail.


“Kemarin mas sekarang bapak,” gumam Bara pelan, bahkan Aisyah tak begitu jelas mendengarnya.


“Kenapa Pak?”


“Tidak. Mari saya antar ke ruangan penanggung jawab restoran ini.”

__ADS_1


Bara bangkit dari duduk, keluar dari ruangan lebih dulu yang diikuti oleh Aisyah. Wanita itu terus mengekor di belakang Bara dengan menundukkan kepala. Bisik-bisik pelayan terdengar jelas di telinganya.


‘Jangan-jangan itu calon istri pak bos.’


Aisyah hanya bisa diam sambil meremas jari saat mendengar ucapan pelayan yang berdiri di sampingnya. Sampai tidak sadar Bara sudah berhenti, alhasil dia menubruk punggung pria itu.


“Maaf Pak! Saya tidak sengaja!” pungkas Aisyah cepat. Bara hanya melirik sekilas, setelah itu memilih membuka pintu.


“Masuk,” titah Bara.


Aisyah segera masuk, duduk di kursi depan meja pak Agus. Sedangkan pria paruh baya yang sibuk menekuni berkas hanya menatap bingung.


“Dia ada perlu dengan Anda,” ucap Bara seraya menunjuk ke arah Aisyah.


“O iya. Ada perlu apa lagi ya Mbak?” tanya pak Agus pada Aisyah.


“Saya hanya ingin bilang, makanan yang kemarin saya pesan ditambah dengan dua box makanan terenak di sini juga ya Pak,” jelas Aisyah.


“Oh iya Mbak. Ada yang lain?”


“Bisa dong Mbak. Ya ‘kan Pak Bara?” Pak Agus menatap ke arah Bara yang masih berdiri tak jauh dari kursi Aisyah.


Pria itu hanya mengangguk sekilas, lalu kembali menatap ke ponsel.


“Boleh kita berkenalan Mbak. Saya Agustri, siapa tahu bisa jadi calon mertua,” ucap pak Agus sambil cekikikan. Tangannya sudah mengambang di udara menunggu jabatan dari Aisyah.


Melihat itu, Bara langsung memukul pelan punggung tangan pak Agus.


“Tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram!” ingat Bara.


“Biasanya juga Bapak tidak pernah ingat mana yang mahram dan tidak,” gumam pak Agus sambil mencebik kesal.


“Apa?” tanya Bara seraya menatap pak Agus tajam.

__ADS_1


“Tidak kok Pak. O iya, Bapak kenapa masih di sini?”


“Terserah saya. Restoran-restoran saya,” cetus Bara membuat pak Agus bungkam.


“Ah iya.”


“Fokus saja pada pelanggan, jangan membuatnya tak nyaman,” ucap Bara.


Setelah berbicara, Bara mengalihkan pandangan dari pak Agus. Dia menatap ke arah hijab Aisyah, terlihat sesuatu di sana. Bara membungkuk untuk meraih bulu yang menyangkut di hijab Aisyah.


Tapi lebih dulu wanita itu membalikkan tempat duduk.


“Tidak apa kok, Pak. Saya nya—“


Pandangan keduanya bertemu. Jemari Bara hampir menyentuh kepala Aisyah. Dengan mata yang begitu intens menatap manik hazel milik Aisyah.


Pak Agus tak ingin menyia-nyiakan momen seperti ini. Dia langsung mengambil ponsel dan mengabadikan foto Bara dan Aisyah.


“Maaf.” Bara mengakhiri kontak mata. Pria itu langsung berdiri tegak dan berulang kali berdehem.


Sedangkan Aisyah hanya menunduk, menahan malu. Dia tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Jantung Aisyah mendadak berdebar hebat, tak seperti biasanya. Padahal dia sudah sering dekat dengan pria yang dikenalkan ayahnya, tetapi tak sampai gugup seperti ini.


“Sudah tidak apa, anggap saja skenario dari Tuhan,” papar pak Agus yang langsung mendapat tatapan tajam dari Bara.


 


Bersambung


Hari ini othor bawa mas Bara sama mbak Aisyah dulu. Setelah ini baru coupel Lasma.



Mas Bara versi haluan othor. Kalian terserah mau haluin siapa aja.

__ADS_1


 


 


__ADS_2