
Pemandangan kota Cidodol begitu indah, ditambah gemerlap lampu kota. Amira menatap pemandangan di depannya dengan takjub.
Ternyata benar perkataan Laska, perasaannya merasa baik bila dia pergi ke pasar malam. Dan buktinya, dia sekarang sedang bahagia.
“Makasih, Om. Sudah membawaku ke sini,” ucap Amira sembari menatap wajah Laska.
“Sama-sama,” jawab Laska pelan. Pria itu berjalan dengan tangan masih di dalam saku celana.
Amira mengikuti dari belakang, tetapi dia merasa langkah kaki Laska semakin cepat. Hingga membuatnya mau tak mau harus berlari, jemarinya langsung menahan ujung hoodie milik Laska.
“Aku tertinggal jauh,” papar Amira sambil cengengesan.
“Mau naik apa?” tanya Laska sembari menatap ke depan, diikuti oleh tatapan Amira juga.
Gadis itu memandang takjub, sebelah tangannya menutupi mulut. Bianglala di depannya berputar indah, dengan lampu kerlap-kerlip yang cantik. Namun, seketika pandangan Amira beralih ke samping.
“Kuda-kudaan,” jawab Amira antusias, membuat Laska terdiam.
“Itu permainan anak-anak, pilihlah yang lain,” sahut Laska cepat.
Amira mendengkus kesal, sebenarnya bukan dia tak ingin naik bianglala. Hanya saja takut, akan ketinggian.
“Om aja yang naik, Mira lihatin dari bawah,” ujar Amira akhirnya.
“Takut?” cibir Laska sambil tertawa, membuat Amira kesal.
“Tidak! Siapa yang takut? Ayo naik bianglala itu!”
Putaran pertama, Amira terus menutup matanya. Bibirnya terkatup rapat dengan getaran yang begitu terlihat, sedangkan jemarinya saling meremas. Menyalurkan kekuatan.
Melihat itu, Laska tertawa kecil. Amira terlalu gengsi untuk mengakui kalau dia takut, hingga berakhir seperti ini.
“Buka matamu Amira, lihatlah ke depan. Pemandangannya begitu indah,” pinta Laska sembari menyentuh jemari Amira.
Amira menggeleng, keringat dingin sudah membasahi pelipisnya. Terlihat sebesar biji jagung.
“Jika kamu takut, seharusnya bilang saja. Jangan karena gengsi kamu jadi begini,” lontar Laska.
“Aku tidak takut, iya tidak takut.”
“Kalau tidak takut, buka matamu,”
“Baiklah.” Amira membuka matanya perlahan, seketika dia langsung menggenggam erat lengan Laska.
Terlihat jelas, bahwa Amira benar-benar takut. Laska menggenggam jemari istrinya, menyandarkan kepala Amira dibahunya. Saat putaran membuat mereka berada di bawah, Laska langsung meminta penjaga untuk memberhentikan bianglalanya. Setelah berhenti, Laska langsung membimbing Amira untuk turun.
“Aku ingin muntah rasanya, Om,” ungkap Amira sambil menutup mulutnya. Gadis itu langsung berlari ke tempat gelap, mengeluarkan semua makanan di perutnya.
__ADS_1
Laska memijat tengkuk Amira dengan pelan, dia mengambil sapu tangan dari saku celana. Lalu menyodorkan pada sang istri.
“Ini, lap mulutmu. Dan ini, minumlah.” Laska memberi minuman botol pada Amira, langsung diambil oleh gadis itu.
“Terima kasih, lain kali tidak akan merepotkan Om,” ujar Amira.
“Hmm. Dan sebaiknya juga tidak perlu gengsi.” Pria itu tertawa kecil, membuat Amira mendengkus kesal.
Setelah mengeluarkan semua makanan dalam perut, Amira berjalan pelan mendahului Laska. Hasrat untuk bermain yang lain sudah musnah, dia terlanjur pusing. Melihat pedagang makanan yang berjejer rapi, pun tak membuatnya berselera.
Laska menggenggam jemari Amira, membimbing sang istri agar tidak terjatuh karena gadis itu kelihatan limbung.
“Mau beli makanan?” tawar Laska pada Amira, yang dijawab gelengan oleh istrinya.
“Aku belikan untuk ibu dulu,” sambung Laska dan berjalan meninggalkan Amira.
Karena merasa sudah sangat pusing sekali, Amira pergi lebih dulu ke mobil. Gadis itu berjalan dengan tertatih-tatih karena menahan pusing. Saat dia hampir sampai, dua orang pria menghadangnya. Sontak membuat Amira ketakutan.
“Siapa kalian?” tanya Amira khawatir, dia memundurkan langkahnya.
“Kami? Pencuri wanita,” jawab salah satunya sambil tertawa keras. Semakin membuat Amira ketakutan.
“Pergi! Jangan ganggu aku!” teriak Amira dengan lantang. Dia berusaha menghindari tangan-tangan penjahat itu yang mau berbuat leceh padanya.
“Tenanglah Sayang, kami baik kok,”
“Pergi! Tolong! Om Laska, tolong Amira!” teriak Amira kembali. Dia terus meronta.
Karena tempatnya minim cahaya, membuat Laska kesusahan melihat ke depan. Dia tak kehabisan akal, mengambil ponsel dan menghidupkan senternya. Hingga akhirnya dia bisa melihat Amira tengah ditarik oleh dua orang berpakaian berandalan.
“Lepaskan dia!” teriak Laska membuat langkah ketiganya terhenti.
Dua penjahat itu tertawa kecil, meremehkan Laska yang mulai berjalan mendekat. Sedangkan Amira, gadis itu melangkah mundur, bersembunyi di balik mobil.
“Siapa kamu? Jangan sok jadi pahlawan!” jerit penjahat itu.
“Aku suaminya!” jawab Laska lantang, dia meletakkan plastik berisi makanan dan menggelung lengan hoodienya hingga siku.
Baru saja akan berbicara kembali, Laska langsung menendang perut penjahat satu persatu. Membuat mereka mengaduh kesakitan. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Laska kembali meninju wajah keduanya dengan brutal. Hingga mereka terjatuh ke tanah.
Saat akan melayangkan pukulan kembali, Amira menahannya. Dia menggeleng, setelah itu menunjuk ke arah beberapa orang yang tengah berjalan ke arah mereka.
“Tolong kami!” teriak Amira dengan keras.
Beberapa orang yang akan menuju kendaraan mereka, menghampiri Amira dan Laska dengan tergopoh-gopoh.
“Tolong kami, mereka telah berbuat jahat,” ucap Amira pada orang itu, membuat mereka langsung memegangi tangan penjahat yang tengah kesakitan.
__ADS_1
“Kami akan membawa mereka berdua ke kantor polisi.”
“Terima kasih, Mas,” ucap Amira kembali sambil menangkupkan kedua tangannya didada.
Setelah semuanya pergi, Amira langsung menarik tangan Laska untuk masuk ke dalam mobil. Sejak tadi pria itu terus bungkam, apa dia marah karena Amira menghentikan aksinya yang hampir selesai?
“Om, ada yang sakit?” tanya Amira sambil melihat seluruh tubuh Laska.
“Tidak ada,” jawab Laska dingin.
“Kenapa menjawab dengan dingin, Om? Apa Amira melakukan kesalahan?”
“Tidak. Lain kali, pergilah bersamaku. Meski kamu merasa sudah sangat lelah, tunggu aku. Karena aku tidak mau kejadian seperti ini terulang kembali, aku khawatir Amira,” ucap Laska panjang lebar, membuat Amira melongo tak percaya.
“Ini benaran Om?” tanya Amira kembali seraya menyentuh pipi Laska.
“Aku sedang tidak bercanda Amira, berhentilah bersikap seperti itu.”
“Ah, iya maaf Om. Amira janji tidak akan mengulanginya, jangan marah lagi ya. Entar Amira ciu—“
“Kita harus segera pulang, cepat pakai sabuk pengamanmu!” Laska memotong ucapan Amira, membuat gadis itu tertawa.
Dasar Om gengsian.
**
Di ruang keluarga, Alfa beserta kedua orang tuanya tengah mengobrol. Pria itu terus menggenggam jemari uminya dengan lembut.
“Bagaimana sekolah kamu, Nak? Apakah lancar?” tanya Kia seraya mengusap kepala Alfa pelan.
“Alhamdulillah, lancar Mi,” jawab Alfa.
“Bagus. Pokoknya kamu jangan main terus, rajin-rajin belajar,” pesan Kia yang langsung diangguki oleh Alfa.
“Aman itu, jangan khawatir.”
Akbar yang sejak tadi diam, kini mulai menyusun kata untuk ia ungkapkan pada anak bungsunya. Meski dia tahu, ini akan sangat menyakiti Alfa.
“Kamu juga harus ingat sama perjodohannya, Nak. Sebentar lagi kakekmu kembali,” tutur Akbar yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kia.
Alfa terdiam, dengan hati yang amat sakit. Dia ingin melupakan, tetapi keadaan memaksa untuk mengingatnya. Jika boleh memilih, dia lebih baik tinggal di Korea saja dari pada harus kembali ke Indonesia dan membahas masalah perjodohan yang sangat dia benci.
Bersambung
Maaf guys, tadi malam tidak ada signal. Dan baru pagi ini ada. Selamat membaca.
__ADS_1