Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 20


__ADS_3

“Famali dua insan yang sudah terikat hubungan sakral, tidur berbeda kamar,” seloroh Alchan menghentikan langkah kaki Gladis.


Wanita itu berbalik, menatap Alchan dengan dahi mengerut. Bingung dengan maksud pria itu, Gladis kembali menghampiri Alchan di sofa.


“Maksud kamu?” tanya Gladis, bingung.


“Kita tidak bisa begini terus Gladis. Kamu itu istriku, dan aku suamimu. Seharusnya ... kita tidur bersama, di dalam ruangan yang sama,” ujar Alchan dengan mantap.


“Kamu ... Enggak lagi bercanda kan?” Gladis memastikan. Dia sungguh tak percaya itu.


“Maaf karena selama ini, aku belum jadi suami yang baik buat kamu. Sekarang, kita mulai semuanya dari awal lagi ya. Gladis, maukah kamu berjala beriringan denganku, menjemput hidayah itu?” Alchan mengambangkan tangannya, menunggu jabatan dari Gladis.


Melihat itu, Gladis semakin salah tingkah. Ada rasa bahagia yang tiba-tiba datang menghampirinya, tetapi juga ada rasa bersalah, karena belum bisa menjadi istri yang baik untuk Alchan.


“Makasih sudah mau mengerti, Alchan. Aku juga malu dengan diriku sendiri, belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu,” ucap Gladis seraya menundukkan kepalanya.


Alchan berdiri, dia segera menarik Gladis untuk masuk ke dalam pelukannya. Diusap lembut punggung sang istri, Alchan mendaratkan kecupan singkat di pucuk kepala Gladis.


Alchan akan berusaha untuk mencintai Gladis. Ya, dia harus melakukan itu. Apa pun yang sudah ditakdirkan untuknya, Alchan akan menerima dengan lapang dada.


“Alchan,” panggil Gladis sembari mengangkat kepalanya. Hingga tatapan keduanya bertemu.


“Ya?” Alchan menangkup pipi Gladis.


“Kenapa kamu tiba-tiba, berubah seperti ini?” tanya Gladis, belum melepas pelukannya.


Pria dengan piama tidur itu terdiam, dia juga bingung. Mungkin setelah mengetahui bahwa Almaira sudah memiliki calon pendamping hidup, Allah menyadarkan dia untuk tidak berharap pada manusia. Apalagi bukan siapa-siapanya.


“Entahlah, yang jelas hatiku berusaha untuk menerima kamu,” ungkap Alchan dengan senyum mengembang.


“Terima kasih, Chan.”


Gladis kembali membenamkan kepalanya di dada bidang Alchan, menikmati setiap harum yang  menguar dari tubuh pria itu.


“Sama-sama.”


   


                                🌟🌟🌟


 


Pukul 03.00 dini hari Almaira terbangun. Memang sudah menjadi kebiasaannya bangun dini hari untuk melaksanakan salat tahajud. Almaira segera turun dari ranjang untuk mengambil wudu di kamar mandi.


Setelahnya dia membentang sajadah dan memakai mukena, berusaha untuk khidmat dalam melakukan salat.

__ADS_1


Doa-doa baik selalu Almaira panjatkan pada Allah Yang Maha Kuasa, dia juga meminta petunjuk untuk masalah yang tengah menimpanya. Yaitu Langit, ya, dia meminta petunjuk apakah Langit pria yang memang tertulis di lauhul mahfuznya?


“Ya Allah, hamba mohon beri hamba petunjuk. Aamiin.” Almaira mengusap wajahnya menggunakan kedua tangan.


Setelah curhat pada Allah, dia mulai lebih lega. Almaira segera melipat sajadah dan mukena. Lalu menghampiri ponselnya yang bergetar sekali, menandakan ada notifikasi masuk di benda pipih itu.


Dari nomor baru, meski Almaira tak menerahkan namanya di sana, tetapi dia langsung tahu ketika membaca isi pesan itu.


[Assalamualaikum, Almaira. Aku mengirim pesan padamu hanya ingin bilang, kamu tidak perlu melakukan semuanya karena terpaksa. Aku tahu perasaanmu, pasti ini sangat tidak adil. Tapi, aku juga tak bisa melakukan apa pun.


Semoga kamu bisa mempertimbangkan ini semua ya. Dan jangan lupa untuk meminta petunjuk pada Allah, karena aku juga melakukan hal yang sama. Dari, Langit.]


Almaira mendekap erat ponsel di genggamannya. Dia masih tak percaya ini, menatap ke langit-langit kamar, Almaira mengusap kedua sudut matanya yang berembun.


“Ya Allah. Apa memang Langit sosok yang Engkau kirimkan untukku?” tanya Almaira sembari menatap langit kamar dengan sendu.


Ponsel dalam genggaman kembali menyala, tertera pesan masuk di layarnya.


[Insya Allah, kamu jawaban atas doaku.]


Langit mengirim pesan itu disertai dengan gambar sajadah yang terbuka. Almaira jadi bertanya-tanya, apakah Langit selalu meminta dia di setiap sujud pria itu?


[Semoga saja.] Hanya dua kata yang Almaira kirimkan pada Langit.


Tak lama, pria itu juga membalasnya.


[Untuk apa?]


[Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan. Bisa kan?]


Almaira mempertimbangkan ajakan pria itu, mungkin dia juga bisa menyampaikan maksud untuk menolak semua ini. Tapi Almaira menggeleng, dia tak mau mengecewakan kedua orang tuanya lagi.


[Oke, besok aku datang. Untuk mendengarkan curhatanmu.] Balas Almaira.


[Baiklah. Istirahat gih, sambil nunggu azan subuh.]


Gadis dengan raut wajah lesu itu meletakkan ponselnya di meja setelah membaca pesan terakhir dari Langit. Dia memilih naik ke ranjang, bersiap untuk tidur kembali. Bukan karena menuruti permintaan Langit untuk tidur kembali, tetapi memang Almaira masih mengantuk.


“Semoga hari esok lebih baik dari pada sebelumnya,” doa Almaira setelah membaca doa mau tidur.


 


                              🌷🌷🌷


 

__ADS_1


Sesuai permintaan Langit, Almaira datang ke kafe di dekat butiknya setelah jam makan siang tiba. Dia celingukan mencari pria itu, tetapi nihil. Di setiap penjuru ruangan kafe, Almaira tak melihat keberadaan calon suami pilihan orang tuanya itu.


Alhasil dia memilih duduk saja di kursi kosong. Sambil menunggu, Almaira memesan coffe latte panas satu beserta dessert sebagai pengganjal perut. Entah mengapa dia tak menginginkan nasi sebagai makan siang.


Liam menit setelah pesanannya datang, Almaira belum juga melihat batang hidung Langit. Sudah mencoba menghubungi pria itu, tetapi tak kunjung dijawab. Mengirim pesan juga sudah tapi tak mendapat balasan.


Menghembuskan napas kasar, Almaira memilih menikmati pesanannya meski mood-nya tiba-tiba hancur.


“Maaf ... Telat.” Mendengar suara tak asing, Almaira segera mengangkat kepalanya.


“Waalaikumsalam.” Gadis itu malah menjawab salam, membuat Langit jadi salah tingkah.


“Eh, iya lupa. Assalamualaikum,” salam Langit sambil menarik kursi untuk dia duduki.


“Waalaikumsalam,” ulang Almaira. “Macet ya?”


“Iya, mendadak lalu lintas penuh sama kendaraan,” jawab Langit dengan senyum mengembang. “Kamu sudah lama?”


“Mungkin sekitar dua puluh menit yang lalu.”


“Ah, maaf ya. Jadi nunggu.” Lagi, Langit mengucap maaf karena merasa bersalah.


Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Langit memanggil waiters untuk memesan makanan, sedangkan Almaira memilih menikmati makanannya.


“Jadi, apa yang ingin kamu katakan?” Almaira membuka suara.


“Apa kamu tertekan?” Langit malah balik bertanya.


“Tertekan kenapa?”


“Permintaan orang tua kita,” balas Langit. Matanya tak lepas pandang pada Almaira.


Tertawa kecil, Almaira menjawab, “Aku tidak tertekan. Karena Allah yang telah memberikannya.”


“Maksud kamu apa?” Langit mengerutkan dahinya, bingung.


“Sepintas wajahmu yang terlihat di mimpiku. Setelah meminta petunjuk pada Allah.” Almaira menundukkan kepalanya, pipinya terasa panas karena malu.


“Kamu ... Kamu serius?” tanya Langit menggebu. Almaira hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


“Tapi maaf, karena aku belum mencintaimu. Hatiku belum bisa menerima orang baru,” lirih Almaira.


“Aku akan berjuang untuk membuat kamu jatuh cinta. Karena sejujurnya, wajahmu juga ada dalam mimpiku. Aku tidak tahu itu petunjuk atau apa, yang jelas, sekarang ini hatiku hanya ikhlas menerima kamu.”


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2