
Tidak terasa, satu minggu berlalu dengan cepatnya. Bagaikan roda yang berputar. Amira baru saja kembali dari kafe, wanita itu menggenggam tas selempang yang ia bawa dengan erat. Senyumnya sejak tadi mengembang, Amira begitu bahagia mendapat gaji pertama. Dia berniat ingin menyimpan uang ini untuk biaya kuliah, tetapi jika nanti butuh. Dia pasti akan gunakan juga.
“Sayang!” Teriakan dari belakang membuat langkah kaki Amira terhenti. Jantungnya berpacu dengan cepat, dia bingung harus bagaimana. Sedangkan Laska sudah semakin mendekat.
“Kamu dari mana, Sayang?” tanya Laska yang udah menyejajarkan tubuhnya dengan Amira.
“Hmm, itu ... Dari minimarket. Iya minimarket,” jawab Amira gugup. Dia tersenyum layaknya orang bodoh.
“Tapi kamu gak bawa belanjaan apa-apa?” Mata Laska menyipit, mencari kebohongan dimata sang istri. Amira langsung berpaling, menghindari tatapan itu.
“Tadi cuma beli minum saja.”
“Aku gak percaya,”
“Terserah Mas deh.” Amira berjalan mendahului Laska. Wanita itu memasang wajah cemberut, pura-pura merajuk.
Sedang di belakang, Laska berlari mengejar sang istri. Dia mendadak bingung, seharusnya dia yang marah kenapa jadi Amira.
“Kalau kamu mau jujur, silakan Sayang. Jangan disembunyikan lagi,” ucap Laska.
“Jujur apa sih Mas?”
“Tentang bekerja di kafe?”
Susah payah Amira menelan ludahnya sendiri. Bagaimana bisa Laska tahu? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Sungguh sekarang ini Amira sudah tak bisa berbuat apa-apa, ide mendadak hilang begitu saja.
“Itu ... Anu,”
__ADS_1
“Apa Sayang? Jujurlah, aku tidak akan marah.” Laska mengusap rambut Amira pelan, memberikan kenyamanan untuk wanita itu.
“Maaf Mas. Amira sudah tak menurut sama keinginan Mas. Tapi, semua Amira lakukan untuk membantu ekonomi keluarga. Amira memang bodoh,” lirih Amira seraya menundukkan kepalanya.
Laska menghembuskan napas dengan pelan, menarik tubuh Amira untuk masuk ke dalam pelukannya. Dia mengusap punggung sang istri, mencium pucuk kepala Amira berulang kali.
“Mas tidak akan kecewa, jika kamu jujur dari awal. Jangan berbohong seperti ini, terlepas dari alasan kamu bekerja. Tapi Mas mohon, berhentilah dari pekerjaan kamu,” pinta Laska.
Amira melepaskan pelukannya, dia menggeleng kecil. Amira sudah nyaman bekerja di sana, gajinya pun terbilang cukup banyak.
“Tapi—“
“Sayang.”
Dengan wajah lesuh Amira mengangguk. Dia tak boleh membantah perintang Laska, ya dia harus menuruti keinginan pria itu. Amira sangat menghargai Laska sebagai suami.
“Sama-sama Mas.”
**
Suasana malam di pesta keluarga Aisyah begitu ramai, para kolage dari berbagai perusahaan datang dengan pakaiannya yang begitu elegan dan tentunya mahal. Acara yang digelar untuk merayakan hari ulang tahun papah Aisyah. Sebenarnya wanita itu menolak rencana ini, tetapi semua keluarganya setuju.
Aisyah sangat tidak suka pesta, apalagi hanya untuk merayakan ulang tahun. Mungkin, karena terlalu lama di Turki, dia menghilangkan budaya Indonesia.
Pria yang baru masuk melalui pintu utama, memandang sekitar dengan dingin. Kalau saja tidak mengingat dia punya hutang budi pada yang berulang tahun, Bara tak mungkin lelah-lelah datang ke sini.
Kebanyakan para tamu adalah orang dewasa, Bara segera mencari tempat yang jauh dari keramaian. Dia sangat tidak suka berisik.
__ADS_1
“Huff. Melelahkan,” gerutu pria itu seraya meneguk minuman yang dia ambil dari pelayan tadi.
“Pak Bara? Kenapa ada di sini?”
Bara menoleh ke samping, dia kembali menghembuskan napas lelah saat melihat Aisyah sudah berdiri tak jauh dari tempatnya berada.
“Tidur. Kamu pikir ngapain?” cetus Bara membuat Aisyah menggaruk tangannya yang tak gatal.
“Haha, maaf,” ucap Aisyah sembari menangkupkan kedua tangannya.
“Ya.”
Aisyah diam, dia bingung harus berbuat apa. Sedangkan Bara, hanya melirik ke arah wanita itu dengan kesal. Dia sedang menunggu jawaban Aisyah lagi, tapi wanita itu malah diam saja.
“Pria yang sedang bersama anak saya, Aisyah. Bisakah Anda datang ke atas panggung, ada hadiah kejutan untuk Anda.”
Suara yang menggema ke seluruh ruangan, membuat Bara dan Aisyah Buru-buru menatap ke arah panggung yang dihias dengan banyaknya bunga. Di sana sudah berdiri, pria paruh baya yang merupakan papah Aisyah.
“Untuk apa?” batin Bara.
Bersambung
Maaf dua hari othor gak up, Karena lagi sakit mata. Terlalu lama lihat hp. Jadi, mamah gak izinkan nulis dulu. Ini tadi karena merengek minta hp, makanya bisa.
Salam dari mas Bara
__ADS_1