
Selesai makan siang, Alchan pamit pada Gladis untuk pergi. Pria itu beralasan akan mengantar lukisan pada kliennya, padahal dia akan menemui Almaira. Bukan gadis itu yang meminta, tetapi Alchan yang berinisiatif untuk langsung mengantarkan lukisannya pada sang teman.
Dia segera membungkus lukisan, lalu mengambil jaket dalam lemari. Alchan menatap pantulan dirinya di kaca, lantas pergi saat penampilannya sudah oke.
“Aku pergi dulu ya, kamu jangan lupa istirahat,” pamit Alchan sembari mengusap rambut Gladis lembut.
“Kamu juga harus hati-hati,” pesan wanita itu. Alchna hanya mengangguk saja.
Gladis mengantar Alchan sampai depan, dia melambaikan tangan saat pria itu juga melambaikan tangan padanya. Namun, setelah Alchan pergi dengan taksinya, Gladis berlari masuk ke dalam rumah, dia langsung meraih tasnya di meja dan ke depan. Tanpa menunggu lagi, dia segera masuk ke dalam taksi yang sengaja dia pesan untuk membuntuti Alchan.
Sungguh Gladis tak habis pikir Alchan sampai begini. Andai saja pria itu jujur, pasti dia akan mengusahakan untuk tidak marah.
Sepanjang jalan Gladis terus saja melihat taksi di depannya. Membayangkan suaminya itu tengah tersenyum bahagia, karena akan bertemu sang pujaan hati. Padahal Gladis tahu, Almiara sebentar lagi akan menikah, tetapi Alchan masih nekat saja.
“Sepertinya mereka ada hubungan serius. Apa aku kerja sama aja dengan calon suami Almaira,” monolog Gladis sembari membolak-balikkan ponselnya.
“Enggak enggak, mana mungkin mau pria itu. Pasti dia akan membela Almaira, padahal dia nggak tahu, calonnya itu di belakang dia seperti apa,” sambung Gladis dengan wajah gusar.
Mobil yang dia tumpangi tiba-tiba saja berhenti, membuat Gladis langsung bertanya pada sopirnya.
“Itu Buk, mobil yang tadi katanya harus diikuti, berhenti di depan kafe itu,” ujar si sopir sambil menunjuk kafe yang letaknya tak jauh dari mobil mereka.
“Benarkah Pak? Ya sudah kalau gitu saya berhenti di sini saja,” jawab Gladis. Dia segera membayar tarifnya, lalu keluar dari taksi itu.
Langkahnya pelan sekali, Gladis menatap sekitar. Kafe ini tidak asing lagi olehnya, benar saja, Alchan pernah cerita kalau kafe ini tempat favorit pria itu dan Almaira.
Saat menoleh ke samping kanan, Gladis melihat sebuah butik dengan nama yang tak asing.
“Almaira Butik?” Dahinya mengerut dengan mata ikut menyipit. “Berarti ini milik gadis itu? Ya, benar.”
Tanpa menunggu lama lagi, Gladis memilih untuk pergi ke kafe. Dia tak ingin kehilangan jejak suaminya.
**
Sedangkan di dalam kafe. Alchan langsung menghampiri Almaira dan Alchia yang tampak sudah menunggu. Pria itu mengerjapkan matanya perlahan, lalu memandangi sang adik yang melihat dia dengan malas.
“Chia ngapain di sini?” tanya Alchan sembari menjatuhkan bokongnya secara kasar di kursi.
Tentu saja pertanyaan itu membuat Alchia malas, dia mengubah posisinya lalu menatap Alchan dengan intens.
__ADS_1
“Hello! Yang benar saja, Kak Almaira ini sudah di khitbah, mana mungkin aku biarin dia sendirian ketemu sama Kakak!” cetus Alchia sambil memutar bola matanya.
“Iya, benar juga,” lirih Alchan dengan kepala tertunduk.
Almaira yang melihat itu, segera melerai perdebatan kakak dan adik. Dia langsung meminta Alchan untuk menyerahkan lukisannya, dan dia menyerahkan bayaran untuk pria itu.
“Jadi, berapa Kak?” tanya Almaira sembari mengeluarkan dompet dari dalam tas.
“Oh, itu, nggak perlu! Aku sengaja kasih ini buat hadiah!” sahut Alchan.
“Tapi Kak Alchan, kamu itu butuh tenaga ekstra untuk melukisnya. Masa iya aku harus menerima gitu aja? Jadi terima uang ini ya, senggaknya untuk membantu,” timpal Almaira.
Alchan sudah tak bisa menolak lagi, akhirnya dia menerima uang itu dan langsung menyimpan dalam saku celana.
Mereka tak langsung berpisah karena Almaira meminta Alchan untuk minum dulu, kasihan dengan pria itu karena baru saja sampai. Sedangkan seorang wanita yang tengah mengintai, menggeram marah melihat kedekatan suaminya dengan gadis lain.
“Apa aku samperin mereka aja ya?” tanya Gladis pada dirinya sendiri.
“Tapi jangan deh, entar Alchan curiga lagi,” sambung Gladis.
Dia benar-benar pusing. Meski hatinya ingin mendatangi suaminya, tetapi akal sehatnya masih berpikir jernih. Gladis kembali menutup wajahnya dengan buku menu saat Alchan berlalu dari depannya.
“Hay Almai, Alchia,” sapa Gladis seraya melambaikan tangan, senyumnya tak pernah memudar.
“Waalaikumsalam.” Alchia membalas dengan ketus.
“Ayo duduk Kak,” ajak Almaira. Tentu saja Gladis menuruti itu.
Almaira membuka buku menu lalu meminta Gladis untuk memilih makanan. Meski dia merasa heran, karena Gladis tiba-tiba ada di sini. Namun, Almaira mengesampingkan itu.
Sedangkan gadis di dekat mereka, sejak tadi hanya menghembuskan napas kasar dan selalu memutar bola matanya. Alchia sungguh belum mau bertemu dengan kakak iparnya itu lagi, tetapi keadaan tak memihak pada dia.
“Alchia, kamu nggak boleh begitu,” bisik Almaira karena tak nyaman dengan sikap Alchia.
“Iya Kakakku cantik,” balas Alchia.
Melihat itu, hati Gladis semakin panas. Jelas saja Alchia sangat dekat dengan Almaira, semakin membuat dia tak suka.
“Kok bisa ya, kita ketemuan? Nggak nyangkah banget,” ujar Gladis berbasa-basi.
__ADS_1
“Iya juga ya. Sama, tadi kami juga ketemuan sama Kak Alchan. Kenapa bisa kebetulan ya?” Alchia membuka suara sambil menatap Gladis dengan seringai.
Gladis mati kutu mendengar itu. Dia berusaha untuk bersikap biasa saja.
“Oh, iya, kok aku nggak tahu ya?”
“Entah. Nggak ngerti juga,” sahut Alchia.
Almaira menengahi keributan di dekatnya. “Namanya juga takdir, kan nggak ada yang tahu.”
“Kamu benar Almaira. Seperti aku dan Alchan,” ucap Gladis.
Mendengar itu, Almaira hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu ketiganya tak lagi terlibat percakapan. Gladis yang ingin tahu lebih banyak lagi, mendadak bungkam. Dia tak ingin tergesa-gesa.
**
Sepanjang jalan menuju taman kota, Almaira dan Alchia terus saja bercanda. Keduanya sengaja pergi dengan jalan kaki, karena ingin menikmati udara sore hari kota Jakarta. Mereka juga akan menyempatkan diri untuk melihat senja yang akan muncul nanti.
“Masalah kamu dengan Alein gimana? Uda clear?” tanya Almaira ketika mereka berhenti di pedagang es krim.
“Makin parah Kak, dia malah semakin menjauhi aku,” jawab Alchia dengan lirih.
Almaira langsung mengusap punggung Alcia dengan lembut, dia memberikan es krim rasa strawberry itu pada gadis yang sudah dia anggap adik sendiri.
“Aku semakin penasaran deh, seperti apa wajah Alein sampai kamu uring-uringan begini,” ucap Almaira sambil menyipitkan matanya.
“Ih, Kakak. Pokoknya dia tampan deh,” sahut Alchia dengan senyum mengembang.
“Iya deh, pokonya apa yang kamu bilang, Kakak ngangguk aja,” ujar Almaira.
Lalu keduanya sama-sama tertawa sambil menikmati es krim mereka. Alchia menyipitkan matanya saat tak sengaja melihat seseorang, yang tak asing dimatanya.
“Itu Alein Kak!” teriak Alchia sambil menunjuk ke arah taman kota yang lumayan ramai.
Almaira langsung menoleh, gadis itu menyipitkan mata untuk melihat seseorang yang Alchia tunjuk.
__ADS_1