
“Maksud kamu apa?!” bentak sang ayah.
Melihat suaminya akan mengeluarkan amarah, dengan cepat ibu Amira menenangkan sang suami dengan memegang lengan lelaki itu dan terus menggelengkan kepalanya.
“Lepaskan! Aku sedang bicara dengan Amira?” Sentakan kuat dari ayah Amira membuat ibunya terjatuh ke lantai.
Dengan perasaan yang juga kalut melihat itu, Amira langsung berlari memeluk tubuh ibunya dengan erat. Akbar dan Kia tak bisa berbicara apa-apa, mereka pun bingung ingin melakukan apa sebab takut amarah ayah Amira semakin menjadi.
“Jawab pertanyaan Ayah, apa yang kamu lakukan Amira?!”
“Dia tidak hamil.” Ucapan yang keluar dari mulut seseorang mengalihkan semua pandangan semua orang yang berada di ruang keluarga.
Laska turun dari tangga dengan wajah dinginnya, pria itu berjalan mendekati uminya tanpa memandang ke arah Amira.
“Maksud kamu apa?! Setelah menghamili anakku, kamu dengan seenaknya bilang bahwa dia tidak hamil. Iya? Jawab Alaska!” teriak ayah Amira dengan tatapan menusuk.
Membuang napas kasar, Laska menatap ke arah istrinya. Gadis itu tampak terus menangis, memohon padanya lewat gelengan kepala.
“Amira, jelasin,” pinta Laska dengan suara lembut. Namun tak beranjak dari duduknya.
“Tidak apa Sayang, ayo berdiri, bantu ibumu juga. Tenangkan diri kamu dan jelaskan semuanya,” ucap Kia sembari membantu Amira dan ibunya untuk duduk. Dua perempuan itu terus menangis dengan saling berpelukan.
Sejenak mereka semua terdiam, Amira masih berusaha menormalkan detak jantungnya dan deru napasnya. Setelah itu, dia mengambil napas dengan rakus terlebih dahulu sebelum mengucapkan kata yang mungkin akan berujung takdir memilukan untuk dia.
“Ya, aku berbohong. Sebenarnya aku tidak hamil, aku melakukan ini semua karena ada alasannya, Yah, Bu,” jelas Amira dengan pelan, dia tak berani mengangkat kepalanya. Sang ibu yang mendengar itu menutup mulut tak percaya.
Plak
Air mata yang sempat ingin disembunyikan kini mengalir semakin deras, Amira semakin terisak sembari memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan sang ayah. Tangis pilu sang ibu juga terdengar memenuhi ruangan, wanita itu menjerit ketika suaminya melayangkan sebuah tamparan yang tak pernah gadis itu dapatkan.
Kia dan Akbar saling pandang dengan perasaan berkecamuk, begitu pun Alfa. Pria itu ingin melindungi Amira, tetapi dia tak berani. Sedangkan Laska, dia memejamkan matanya. Menahan sesak didada yang semakin terasa mengimpit.
“Kamu sungguh memalukan kami sebagai orang tuamu! Di mana jalan pikiranmu Amira?! Kenapa melakukan hal bodoh seperti ini, apa uang dan segalanya yang Ayah beri belum cukup?! Hingga kamu berbohong agar menikah dengan pengusaha kaya!”
“Amira melakukan ini karena tidak mau dijodohkan dengan anak teman Ayah itu! Amira gak mau Ayah!” teriak Amira lantang tak mau kalah.
__ADS_1
“Diam kamu!” bentak ayahnya.
“Maaf, Pak. Lebih baik kita selesaikan masalah ini baik-baik. Jangan pakai otot,” lerai Akbar sembari membantu Amira untuk duduk kembali.
“Anak keras kepala ini tidak bisa dibaikin! Dia pasti akan terus melunjak!”
“Setidaknya jangan seperti ini, kasihan Amira,” sambung Akbar lagi mencoba membela menantunya.
“Tidak perlu!” Ayah Amira berjalan ke arah anaknya. Dengan kasar lelaki itu menarik tangan Amira hingga membuatnya mengaduh sakit.
“Ayah lepaskan! Aku tidak mau!” tolak Amira meraung-raung pada ayahnya. Tetapi sepertinya sang ayah menulikan pendengaran hingga terus berjalan ke arah pintu utama.
“Ayo pulang! Dasar anak pembuat malu! Lebih baik kamu cerai dengan Laska! Dasar anak tidak berguna!” umpat ayahnya membuat mata Amira melotot sempurna, dia lekas menggelengkan kepalanya.
“Enggak! Om tolong aku!” pinta Amira seraya memandang ke arah Laska, tetapi pria itu hanya diam saja.
Laska dilema, di satu sisi hatinya sakit melihat Amira seperti itu, tetapi di sisi lain dia juga kecewa. Kata-kata ceria terus berdengung ditelinganya hingga membuat Laska terus menundukkan kepala.
“Ayah Ibu! Tolong jangan bawa aku pulang, aku masih ingin di sini! Aku mohon!” teriak Amira terus meminta mohon. Namun sayang, ayahnya sudah kalap, tak peduli lagi dengan apa yang anaknya katakan.
Sang ibu tidak bisa berbuat apa-apa, dia langsung masuk mobil bagian penumpang dengan Amira yang masih terus meraung-raung memanggil nama Laska.
“Apa salahku begitu besar? Hingga Ayah tega berbuat seperti ini padaku? Kenapa, kenapa aku tidak mati saja dulu, kenapa Yah?” lirih Amira diikuti Isak tangis yang semakin terdengar memilukan, ibunya segera memeluk sang anak.
“Kau tahu siapa keluarga Alaska? Kalaupun kau sudah minta maaf, mereka tidak akan menerimaku, jadi lebih baik kalian bercerai. Dan kau bisa menikah dengan anak teman Ayah,” tekan lelaki yang masih mengemudi mobil ini, membuat kepalan di kedua tangan Amira mengerat.
“Apa Ayah senang sekarang? Aku hancur dan Ayah bahagia dengan keinginan Ayah. Apa Ayah pernah berpikir bahwa keinginan Ayah ini menyakiti banyak orang?!”
“Diam Amira! Kubilang diam!”
Amira sudah tak berani berkata-kata lagi, gadis itu memilih memeluk ibunya masih terus terisak. Dia juga kecewa dengan Laska, bukankah pria itu suaminya. Setidaknya bisa membela atau menahan dia agar tak dibawa oleh sang ayah.
Aku memang jahat Om. Tapi, kamu juga lebih jahat.
**
Di dalam ruangan, empat orang yang menyaksikan kekejaman sang ayah terhadap anaknya masih berada di sana. Tak ada yang membuka percakapan, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
Hingga akhirnya Alfa yang sejak tadi menahan amarah, mendekati Laska dan memberikan bogeman mentah untuk pria itu.
“Dasar pria brengsek! Bagaimanapun kejadiannya, dia tetap istrimu! Bukannya menolong, kau diam saja! Dasar!” maki Alfa masih terus membogem Laska bertubi-tubi.
Melihat itu, Akbar segera menarik Alfa. Kia hanya bisa menangis, melihat anak-anaknya.
“Apa salah, jika aku kecewa?” tanya Laska sembari memegangi ujung bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
“Kau masih bertanya? Hah! Tentu! Kau itu bajingan!”
“Alfa sudah!” teriak Kia akhirnya, membuat kedua anaknya langsung terdiam.
“Kalian jangan kaya’ gini, Umi enggak suka lihatnya. Masalah ini bisa kita selesaikan baik-baik, tolong jangan pakai kekerasan,” pinta Kia.
“Maaf Umi,” lirih Laska. Setelah itu dia berjalan ke arah tangga untuk pergi ke kamar.
“Kalau lo gak mau jemput Amira, biar gue! Iya biar gue Laska! Lo dengar itu! Bukan karena gue dan dia ada hubungan, tapi karena gue tahu, dia tertekan tinggal dengan orang tuanya!” teriak Alfa membuat langkah kaki Laska terhenti.
“Jangan campuri urusanku, urus saja urusanmu sendiri!”
“Cih. Jadi ini sosok yang selalu dibanggakan banyak orang?” Alfa berdecih seraya melepaskan genggaman abinya. Dia lekas berlari menaiki tangga mendahului Laska untuk menuju kamarnya.
“Aku punya caraku untuk menyelesaikan ini semua. Setidaknya sampai kecewa di hati mereda. Aku pasti akan jemput dia, karena dia bagian dari hidupku,” lirih Laska dengan kepala menunduk. Mendengar itu, Alfa berhenti sejenak.
“Sampai kapan? Dia disiksa oleh ayahnya?!”
“Dia takdirku, Allah sudah menggariskannya untukku. Jadi biarkan Allah yang berencana dan aku yang menjalankannya.”
Bersambung
Yang mau benci mas Laska, sok atuh.
Jangan lupa bacanya sambil dengerin lagu Ayat-Ayat Cinta by Rossa.
Dah, segini dulu. Besok lagi🙏
__ADS_1