Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 90


__ADS_3

Siang ini cuaca cukup terik. Amira dan ibunya baru saja keluar dari taksi, mereka berniat ke kafe Dimas dulu, setelah itu baru belanja kebutuhan makanan. Sebelum masuk ke dalam kafe, Amira menghembuskan napas dengan kasar, dia menggenggam erat-erat amplop yang dia bawa.


Sedangkan ibu memilih menunggu di luar, sembari menikmati kota Jakarta siang hari dengan padatnya lalu lintas. Setiap langkah, Amira mendapat tatapan bingung dari para pengunjung dan pelayan di kafe ini. Dia langsung menuju ruangan Dimas, sesuai dengan permintaan pria tersebut.


“Selamat siang, Pak,” ucap Amira sembari masuk ke dalam ruangan.


“Siang. Ada apa Amira?” tanya Dimas seraya mengalihkan pandangan dari layar monitor.


Amira memilih duduk terlebih dahulu meski Dimas belum menawari. Dia menghembuskan napas berulang kali, lalu menyodorkan amplop yang dia bawa.


“Maaf ya sudah mengganggu waktu Anda. Saya datang ke sini, ingin mundur dari pekerjaan di kafe ini,” ujar Amira. Dimas menatap tak percaya.


“Ada apa Amira? Kenapa secepat ini? Apa kamu merasa tidak nyaman bekerja di sini?” cecar Dimas dengan wajah khawatir. Dengan segera Amira menggeleng, sebagai jawaban bahwa semua yang Dimas ucapkan tidaklah benar.


“Bukan karena itu. Hanya saja, Mas Laska tidak mengizinkan untuk bekerja lagi. Dia memintaku di rumah saja, sebagai ibu rumah tangga. Kamu pasti ngerti ‘kan?”


“Iya, aku ngerti kok Ra. Kamu nurut saja apa yang suamimu minta, maafkan kami bila selama bekerja di sini. Kamu merasa tidak nyaman,” kata Dimas dengan tak enak.


“Sungguh tidak. Kalian semua baik-baik. Seharusnya aku yang minta maaf, karena sudah membuatmu kecewa. Ini terkesan tidak sopan, baru bekerja beberapa Minggu sudah mundur saja,” celetuk Amira.


“Sudah tidak apa. Nikmati harimu dengan baik, semoga kita bisa bertemu kembali.”


“Terima kasih Dimas,”


“Sama-sama.”


Setelah menyampaikan niatnya, Amira permisi undur diri. Dia segera menghampiri ibunya dan mengajak wanita itu ke supermarket untuk belanja. Uang gaji yang rencananya ingin dia tabung, Amira bawa untuk belanja hari ini. Dia tak mau egois, rumah juga butuh sayur-mayur. Amira tak ingin ibunya kesulitan mencari uang lagi, biarlah dia dan Laska yang menanggung. Sudahlah mereka menumpang, masa iya mau membebankan lagi.


Baru melangkahkan kaki beberapa meter ke dalam supermarket, sudah disambut hawa dingin AC. Hilir mudik ibu-ibu di depan Amira, dengan segera wanita itu menarik tangan ibunya.


“Ibu mau belanja apa saja?” tanya Amira ketika mereka sampai di tempat sayuran. Terlihat sayur-mayur yang sangat hijau.


“Keperluan dapur saja kayaknya Sayang,” jawab ibu seraya melihat-lihat brokoli.


“Enggak pengin yang lain lagi gitu, Bu?”


“Tidak usah Sayang. Lebih baik uang kamu ditabung saja,” saran Gina, Amira lekas mengangguk patuh.


Keduanya disibukkan dengan sayur-mayur, Amira hanya memperhatikan ibunya. Hingga dia berinisiatif untuk pergi ke bagian daging. Tiba-tiba Amira ingin makan daging sapi sore ini. Mengingat sudah lama dia tak memakan daging yang enak itu bila dimasak.


“Beli berapa ya?” Amira bingung, dia membolak balikan dua bungkus daging yang berada di tangan.


“Dua-dua saja Amira,” ucap seseorang. Amira segera menoleh ke samping, dia melihat Aisyah sudah berdiri di sampingnya dengan tersenyum manis.

__ADS_1


“Mbak Aisyah? Ya ampun, kita ketemu lagi,” ujar Amira girang. Dia langsung memeluk Aisyah yang dibalas oleh wanita itu.


“Apa kabar Mbak?” tanya Amira.


“Alhamdulillah baik. Amira sendiri, apa kabar?”


“Baik juga Mbak. Enggak nyangka ya, kita ketemu di sini.” Amira masih terus tersenyum bahagia, dia tak peduli bagaimana pertemuan terakhir mereka beberapa Minggu lalu karena masalah keluarga itu.


Gina yang baru selesai membeli sayur, mencari putrinya ke tempat daging. Dia bingung melihat putrinya tengah mengobrol dengan seorang wanita berpakaian tertutup dengan hijab lebar yang hampir menutupi seluruh tubuh. Segera mungkin Gina menghampiri.


“Ini siapa Sayang?” tanya Gina setelah sampai di samping Amira.


“Oh. Ini Mbak Aisyah, Bu. Orang baik yang Amira ceritakan itu,” jelas Amira.


“Oalah. Ini toh, yang namanya Aisyah. Cantik banget ternyata,” puji Gina membuat senyum Aisyah terbit seketika.


“Terima kasih Tante, itu sangat berlebihan.”


“Tidaklah Sayang. Kamu memang cantik.”


Mereka bertiga sama-sama tertawa renyah. Amira sangat senang bertemu dengan Aisyah, sebab wanita itu sangat menyenangkan dan tentunya baik.


“Aisyah, kamu su—“


Ucapan Bara terpotong dengan lengkingan yang keluar dari mulut Amira. Gadis itu tampak syok melihat abang temannya ada di sini. Memanggil nama Aisyah, Amira menjadi curiga. Ada hubungan apa keduanya?


“Eh, iya Mas. Ini sebentar lagi selesai kok,” jawab Aisyah seraya memperlihatkan daging yang akan dia beli pada Bara.


“Kalian ....” Amira dan ibunya sama-sama menunjuk ke arah Bara dan Aisyah menggunakan kedua jari telunjuk mereka.


“Kamu kenal Mas Bara, Ra?”


“Kenal dong Mbak. Dia ini orang paling nyebelin di muka bumi. Sepertinya aku sial karena ketemu dia,” jawab Amira memandang sinis Bara, yang dibalas oleh pria itu.


“Yang ada gue yang sial karena ketemu lo,” sahut Bara tak mau kalah.


“Mas!” Aisyah mengingatkan pria itu dengan melototkan mata, membuat Bara diam seketika.


“Kalian sudah menikah ya?” Pertanyaan Gina membuat Amira terkejut, tidak dengan Aisyah yang hanya senyum-senyum malu. Sedangkan Bara hanya tak acuh.


“Belum Tante. Rencana tiga Minggu lagi, nanti Tante, Amira dan Laska datang ya.”


“Wah, insyaAllah Sayang,” balas Gina.

__ADS_1


“Ciee... Pokoknya harus jadi suami siaga,” ejek Amira sembari menepuk pelan bahu Bara.


“Diamlah!” cetus Bara dengan tak suka.


Mereka tertawa melihat tingkah Bara, lalu kembali mengobrol mengenai daging dan sayuran dan cara pengolahannya. Bara yang tak mengerti, hanya menjadi pendengar setia saja.


**


Kelas siang ini berakhir dengan ceramah singkat dari dosen. Cinta segera menyusun semua alat tulisnya dan memasukkan ke dalam tas. Melihat semua temannya sudah keluar setelah dosen juga keluar, Cinta memilih mengikuti mereka.


Dia berjalan sendirian di lorong kampus, sembari menatap ke depan dengan fokus. Banyak mahasiswa dan mahasiswi lain di sini, sedang bercanda gurau membuat Cinta iri. Selama masuk ke kampus ini, dia memang belum memiliki teman satu pun.


“Hay Tuan Putri.” Cinta terkejut dengan kedatangan Rasya, gadis itu segera menundukkan kepalanya.


“Kok nunduk lagi? Apa Pangeran kurang tampan?” tanya Rasya dengan pedenya.


“Enggak kok Kak, eh Bang,” jawab Cinta gugup.


“Panggil Rasya saja,” pinta Rasya.


“Hmm, Rasya. Cinta duluan ya, mau ke masjid. Rasya tidak ikut?” tawar Cinta hendak pergi. Rasya menggeleng dengan wajah murung.


Cinta menjadi bingung melihat raut wajah yang berubah dari Rasya. Apa ada kata-katanya yang salah? Sungguh Cinta bingung sendiri.


“Ada apa?” tanya Cinta kembali.


“Aku belum mendapat hidayah untuk tahu siapa Tuhanku. Selama ini aku hanya tahu agamaku  yang tertulis di KTP. Islam,” jawab Rasya dengan wajah sedih. Tetapi setelah itu dia tersenyum kembali.


“Maksudnya kamu tidak mengenal Tuhanmu?”


“Pergilah Cinta. Aku akan menunggumu di luar masjid. Aku janji akan menunggu di sana.”


Rasya pergi lebih dulu meninggalkan Cinta yang masih kebingungan. Pria itu sepertinya sudah enggan menjelaskan lagi pada Cinta, membiarkan gadis itu bingung dengan ucapannya.


 


Bersambung


Hey Hey, jangan lupa tinggalkan jejak. Dengan menekan like dan meninggalkan komen walau sedikit saja. Jangan lupa vote dan berikan kembang atau kopi juga ya. Ini maksa🤣


Othor uda UP tiga bab hari ini, lanjut besok lagi ya. Sesi ketemuan sama Mbak Cinta dan Mas baru—Rasya sampai di sini saja. Kita fokus ke coupel Lasma dan Barsya. Oke.


 

__ADS_1


__ADS_2