
MM bab 8
Tidak terasa sudah satu bulan pernikahan terpaksa itu berjalan, Alchan berperan layaknya seorang suami. Sekarang dia tengah mempersiapkan lukisannya untuk dibawa ke pameran yang diadakan sang teman.
Sejak tadi Alchan tak melihat keberadaan Gladis. Entah mengapa, akhir-akhir ini Gladis tampak menghindarinya. Alchan mencoba untuk terus berpikir positif, mungkin saja Gladis sedang ada masalah dan ingin menenangkan pikiran.
Saat Alchan akan keluar, pintu utama terbuka. Terlihat Gladis dengan keadaan yang begitu kacau. Mata wanita itu tampak bengap seperti orang habis menangis, sedangkan rambutnya sudah acak-acakan.
“Kamu kenapa?” Dua kata sebagai bukti kekhawatiran Alchan. Pria itu dengan pelan memapah tubuh Gladis untuk duduk di sofa.
Bukannya menjawab, Gladis malah menangis. Sebelah tangannya membuka tas, mengambil sesuatu dari sana.
Seketika mata Alchan membola, menatap alat kehamilan dengan perasaan tak menentu.
Dia belum menyentuh Gladis sama sekali. Namun, kenapa wanita itu memiliki alat seperti itu?
“Aku hamil ...,” ucap Gladis seraya menutup wajahnya yang sudah basah.
Alchan semakin terdiam. Pikirannya mendadak buntu, apalagi mendengar ucapan Gladis.
“Aku hamil anak pria brengsek itu! Aku takut! Takut Alchan,” lirih Gladis.
“Kenapa takdir begitu jahat padaku? Setelah masa depanku hancur, sekarang aku harus hamil.”
Gladis terus saja meracau, menyalakan takdir yang menurutnya sangat tidak adil. Alchan yang berada di samping Gladis, menarik wanita itu untuk ia peluk.
“Bagaimanapun anak itu tidak bersalah. Kamu harus menerima dengan lapang dada,” ucap Alchan lembut.
“Tapi aku nggak mau Alchan. Kalau semua orang tanya, itu anak siapa? Gimana?” Gladis semakin histeris.
“Aku ... Aku suami kamu, Gladis. Biarkan aku yang menjadi Ayah sambung untuk anak itu,” sahut Alchan dengan suara pelan.
Ada rasa yang tak biasa menusuk relung hati Alchan. Lalu dia menghembuskan napas kasar, ikhlas dengan apa yang dia ucapkan. Sekarang ini, Alchan hanya bisa melakukan yang dia mampu saja.
Gladis tak habis pikir dengan Alchan. Padahal dia wanita jahat, tetapi pria itu masih mau menerimanya. Bahkan menganggap benih yang bukan miliknya sebagai anak.
__ADS_1
“Terima kasih, terima kasih Alchan,” kata Gladis berulang kali.
“Tidak usah khawatir. Aku selalu ada di samping kamu, ingatlah, aku ini hamba Allah yang siap menjaga kamu.” Alchan tersenyum.
**
Angin berembus kencang, menggoyangkan dedaunan pohon beringin di pinggir kota. Seorang gadis berhijab, tengah berjalan sembari menikmati setiap semilir angin yang menerpa wajahnya.
Almaira memilih untuk berjalan-jalan, sebab dia bosan di rumah terus. Apalagi harus memikirkan pekerjaannya, sungguh Almaira muak dengan itu.
Saat masih sibuk menikmati waktu, takdir kembali mempertemukan dua manusia yang sempat ingin saling melupa. Almaira terdiam di tempat, matanya tak henti menatap sosok pria di depannya.
“Assalamualaikum,” salam Alchan seraya menggaruk tengkuk yang tak gatal. Dia mendadak gugup saat berhadapan dengan Almaira.
Sambil menunduk, Almaira menjawab, “Waalaikumsalam.”
Keduanya kembali diam. Sepi layaknya hati mereka berdua. Angin seolah berperan penting dari pertemuan ini, berembus begitu kencang menerpa tubuh dua manusia berbeda jenis kelamin itu.
Banyak sekali kata yang tersimpan di dalam hati Almaira, tetapi dia takut untuk mengungkapkan itu pada Alchan. Apalagi kini pria itu, bukan lagi pria yang gampang dia temui.
“Jalan-jalan aja, Kak,” jawab Almaira seadanya.
“Oh.”
Sungguh keadaan seperti ini yang selalu Alchan takutkan sejak dulu. Ternyata semua menjadi kenyataan, dia dan Almaira dipertemukan dengan status yang sudah berbeda.
“Kalau gitu Almai duluan ya,” pamit Almaira sembari berjalan pelan melewati Alchan.
“Tunggu!”
Sontak kaki Almaira terhenti. Dia melirik ke belakang, hingga pandangan keduanya kembali bertemu.
“Maksudku, kita barengan,” ucap Alchan lagi.
“Bukankah tujuan kita berbeda?” tanya Almaira bingung.
__ADS_1
“Hemm. Sama kok.” Alchan mengangguk seraya tersenyum.
Akhirnya Almaira membiarkan Alchan mengikuti mereka. Namun, dia yang berjalan paling depan. Sengaja menjaga jarak dari Alchan, takut akan dipandang tak baik. Apalagi pria itu sudah menikah.
“Aku mau berhenti beli minum, Kakak mau?” Almaira membalikkan badan, sukses membuat Alchan terkejut.
“Boleh,” balas Alchan.
“Ya sudah, tunggu di sini,” pinta Almaira.
Dia masuk ke dalam kafe untuk membeli minuman. Tak lama Almaira kembali membawa dua cup jus alpukat. Satu lagi dia berikan pada Alchan, dan yang satu lagi untuknya.
Ada rasa bahagia bisa jalan bareng Alchan lagi, tetapi ada rasa kecewa yang masih mendekam di hati. Almaira sadar, ini salah. Dia tak bisa memanfaatkan waktunya bersama Alchan, hanya untuk menyakiti hati orang yang paling berperan penting dalam hidup Alchan.
“Sebaiknya Kakak jangan mengikutiku,” ungkap Almaira dengan wajah serius.
“Kenapa?” tanya Alchan bingung.
“Kita sudah tak bisa seperti dulu. Sekarang ada pembatas yang harus kita ketahui. Kakak pasti mengerti itu?”
“Apa karena aku sudah menikah? ? Maaf kalau begitu, ucapanmu memang benar. Seharusnya kita tak seperti ini,” ujar Alchan.
“Ya. Memang seharusnya tidak seperti ini. Dan kalau bisa diulang, seharusnya tak seperti ini sejak dulu,” jawab Almaira.
“Maksud kamu apa?” Alchan sedikit bingung dengan ucapan Almaira.
Untuk sejenak Almaira mengalihkan pandangannya, dan berusaha menahan air mata untuk tak jatuh. Jujur, berada di dekat Alchan juga membuatnya sedih. Kenangan yang pernah terjadi, kini berputar di ruang pikirannya.
“Kenapa Kakak menikah dengannya? Kenapa?”
__ADS_1