Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 30


__ADS_3

Sebuah lukisan rumah minimalis, baru saja Alchan asingkan. Senyum di bibir pria itu terus tercetak, menggambarkan bahwa dia amat bahagia hari ini.


Hanya karena sebuah lukisan, mood Alchan bisa berubah dalam sekejap. Yang tadinya sedih, kini bahagia. Pun sebaliknya.


Sebelum kembali melukis yang baru, dia menatap lukisan rumah yang estetik. Sejak dulu dia ingin melukis itu, tetapi enggan karena suatu hal. Namun sekarang, Alchan berusaha untuk bisa, karena lukisan ini akan dia berikan sebagai hadiah untuk seseorang.


Baru saja akan menggerakkan kuas ditangan, getaran pada ponsel menghentikan aktivitas Alchan. Pria itu segera bangkit dan mencari keberadaan ponselnya.


Deretan pesan masuk dari nomor bernama ‘Langit’. Tanpa pikir panjang lagi, Alchan segera membuka pesan itu karena penasaran apa isinya.


Dari awal baca, tidak ada yang janggal karena ini tentang lukisan. Tapi di kalimat terakhir, dahi Alchan mengerut. Bahkan dia sampai membaca itu berulang kali.


[Apakah kamu mencintai istrimu?]


Alchan ingin mengabaikan karena menganggap Langit tak perlu tahu dengan perasaannya. Namun, hatinya tidak. Dia juga bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa dia mencintai Gladis? Atau semua yang dia lakukan ini, hanya bukti pertanggung jawaban sebagai suami? Antahlah, Alchan sendiri bingung dengan perasaannya.


“Allah maha membolak-balikkan hati manusia. Mungkin saja hari ini aku tidak menyukai itu, tetapi di hari berikutnya, bisa saja aku langsung menyukainya.” Alchan menguatkan diri dengan terus mengucap kalimat itu.


Sesuatu yang sering mamahnya nasihatkan pada dia, ketika Alchan dulu benci sesuatu. Bahkan hal kecil seperti, kucing.


Tubuh atletis, wajah tampan dengan alis rapi dan mata sipit. Memiliki hidung mancung dan dagu agak lancip. Namun, semua tak membuat Alchan bangga, meski sering dipuji-puji banyak orang.


Selama ini dia tak terlalu peduli dengan sekitar, karena waktunya hanya sibuk dengan lukisan saja. Alchan pun hanya sesekali keluar dari rumah, jadi tak jarang para tetangga sering mempertanyakannya.


Alchan tak ada kemampuan di bidang perusahaan, dan hal-hal lain tentang pengusaha. Dia hanya tahu, kuas, cat dan cara melukis saja. Meski tidak disukai seseorang karena gaji yang sedikit, tetapi Alchan tetap menjalankannya. Dia akan mengusahakan sesuatu yang hanya dia sukai, begitu pun masa depannya.


Selesai membaca pesan dari Langit, Alchan beralih membuka kamera untuk memotret lukisannya. Dia tersenyum saat melihat foto hasil jepretannya, dan berharap seseorang di seberang sana juga bahagia melihat ini.


Lalu kini Alchan beralih membuka aplikasi WhatsApp kembali, dia mencari nomor seseorang. Ya, seseorang yang meminta dia melukis ini beberapa tahun lalu, yaitu Almaira.


[Aku menepati janjiku, melukis rumah minimalis keinginanmu beberapa tahun lalu. Maaf, karena baru bisa sekarang.]

__ADS_1


Alchan mengirim pesan itu pada Almaira disertai dengan gambar lukisan yang dia ambil tadi. Senyumannya masih mengembang seiring menunggu balasan dari seberang sana.


Tanpa disadari, ada seseorang di belakangnya yang tengah melihat ke arah layar ponselnya. Ketika akan mengantar minum untuk suaminya, Gladis merasa penasaran saat melihat Alchan terus tersenyum melihat ponselnya. Hingga membuat jiwa keingintahuan Gladis semakin besar.


Seketika wajah Gladis berubah masam saat melihat nama Almaira di sana, dan dia juga bisa melihat pesan yang baru saja Alchan kirim. Gladis tak habis pikir, Alchan akan memberikan lukisan itu pada Almaira. Dia pikir untuk pajangan di rumah mereka.


“Ehem. Alchan.” Gladis sengaja berdehem karena sudah tak sanggup berpura-pura lagi. Membuat Alchan kaget dan langsung mengalihkan pandangan.


Pria itu juga secepat kilat menyembunyikan ponselnya di saku celana, lalu tersenyum melihat Gladis.


“Ini jusnya, Chan,” ucap Gladis seraya meletakkan segelas jus di meja.


“Iya, makasih ya Gladis,” balas Alchan masih mengembangkan senyumnya.


Dia berusaha tak khawatir takut Gladis melihat dia mengirim pesan pada Almaira. Karena Alchan yakin, istrinya itu pasti baru saja datang. Padahal, Gladis sudah tahu semuanya.


“Kamu ... lagi ngapain?” tanya Gladis pura-pura tidak tahu.


Gladis berjalan melihat-lihat ke arah semua lukisan, hingga matanya terhenti pada sebuah lukisan rumah minimalis yang terlihat sangat estetik. Bahkan dia pun merasa sangat terpesona dengan daya tarik lukisan itu, yang terlihat hidup.


“Ini mau kamu jual juga?” Gladis menunjuk lukisan di samping kanan dia berdiri.


“Iya. Ada klien aku, minta dibuatin lukisan itu.” Alchan terpaksa berbohong pada Gladis.


Dia hanya tak ingin wanita itu marah, apalagi Alchan bisa melihat hubungannya dengan Almaira tidak terlalu dekat.


Wanita itu ber’oh’ ria saja, tetapi dengan hati yang kecewa. Tidak habis pikir Alchan akan membohonginya.


“Ya sudah, aku keluar dulu ya. Kalau mau makan siang, bilang. Nanti aku siapkan,” ujar Gladis seraya ingin pergi.


“Iya, makasih Gladis.”

__ADS_1


Alchan mengusap dadanya sambil terus beristigfar. Merasa bersalah, tetapi dia terpaksa melakukan ini.


**


Almaira baru saja kembali dari kafe setelah makan siang. Gadis itu langsung menuju ruangannya karena siang ini tak ada jadwal ketemuan dengan pelanggan yang sudah membuat janji.


Sesampainya di ruangan, Almaira langsung menjatuhkan tubuhnya pada sofa panjang. Gadis itu menyandarkan kepalanya di kepala sofa, dengan mata terpejam. Ada lelah yang terus menggerogoti tubuhnya, seolah-olah meminta dia untuk beristirahat barang sejenak, sambil menunggu salat Zuhur datang.


Sayang, sudah beberapa menit berusaha memejamkan mata. Almaira malah tak bisa tidur, akhirnya dia memilih untuk bermain ponsel saja.


Saat data seluler sudah dia hidupkan, banyak sekali pesan-pesan masuk dari aplikasi hijau berlogo gagang telepon itu. Lekas Almaira memencetnya untuk masuk.


Dari semua pesan yang masuk, hanya satu yang mampu menarik perhatian Almaira. Yaitu, Alchan. Dahinya mengerut, matanya juga ikut menyipit. Karena bingung, tumben Alchan mengirim dia pesan setelah satu bulan lalu.


Ketika sudah membaca pesan itu, tanpa diminta senyum Almaira terbit begitu saja. Dia mengagumi lukisan ini, yang sangat dia inginkan sejak dulu. Ternyata pria itu masih ingat, dan mau melukiskannya untuk dia.


“Rumah yang dulu aku harapkan bisa kita tinggali berdua, bahkan bersama anak kita. Hahaha, memang sebegitu besar harapan aku, Kak,” ucap Almaira sembari mengusap layar ponselnya. Mengamati setiap warna yang tertuang di lukisan.


Tanpa pikir panjang lagi, Almaira segera membalas pesan dari Alchan.


[Aku akan membayarnya. Terima kasih sudah mau melukiskan itu untuk aku.]


Almaira meletakkan ponselnya kembali pada meja, dia masih tersenyum-senyum membayangkan lukisan itu akan dipajang di kamarnya, pasti sangat indah. Namun detik berikutnya senyum Almaira pudar, ketika mengingat wajah Gladis.


Dia jadi merasa tidak enak dengan wanita itu, meski niat dia akan membayar berapa pun pada Alchan. Tetap saja, Gladis pasti akan berpikiran lain tentangnya.


“Semoga saja tidak apa. Aku tahu, Kak Gladis pasti baik,” ujar Almaira sambil tersenyum. Dia harus positif thinking.


 


 

__ADS_1


__ADS_2