
Hay guys, hari ini othor up agak sorean atau malam ya. Nah, selagi othor belum up, boleh banget ni mampir ke karya othor yang ada di *******. Judulnya, Derajat Cinta Wanita.
Nama pena dekLla12.
Cuplikan
Derajat Cinta Wanita bab 1
Jika harus dibandingkan, senja masih kalah indah dengan cinta. Di mana kita merasakan degupan jantung yang bekerja dua kali lebih cepat, kecanggungan tiada tara, bahkan malu saat bertatap dengannya. Tetapi, semua hanya khayalanku semata.
Pria yang kupikir mencintai, nyatanya hanya seorang pembohong yang berani merusak kebahagiaan diri ini. Demi sebuah keegoisan, dia mempersunting Kirana Dwina. Ya, aku.
Baru beberapa jam menjadi suami, dia sudah berbuat hal yang benar-benar melukai diri ini, mengikis cinta yang seharusnya semakin bertambah.
“Mungkin kalau bukan karena mamah yang sedang sakit parah, aku tidak akan menikahimu!” Kata-kata itu bagaikan anak panah yang menghunjam hati, benar-benar membuatku sangat sakit.
Aku pikir sikap baiknya selalu tampak, bukan hanya di depan orang tuaku saja. Tapi nyatanya tidak.
“Jadi aku harus apa?” Aku mencoba biasa saja seperti tak ada masalah sedikit pun.
__ADS_1
“Berhenti berharap, dan buang jauh-jauh cintamu itu!”
“Jika aku tidak berhasil membuang cinta itu, lantas aku harus bagaimana?” tanyaku lagi, kaki jenjang ini sudah melangkah maju mendekati dia.
Ini adalah malam pertama kami, dan dia mengacaukannya. Bukankah seorang pria memiliki birahi yang sangat tinggi, tapi kenapa dia malah tak tergoda?
Padahal aku sudah memakai lingeri tipis yang transparan, tak lupa rambut panjang ini aku sanggul hingga menampakkan leher jenjang yang putih dan mulus. Apa mungkin dia kelainan? Hingga tak tergoda sedikit pun.
“Stop! Ingat ini, aku tidak sudi berada satu ruangan denganmu!” Tanpa permisi dia pergi meninggalkan aku, raga dan jiwa ini.
Kenapa? Kenapa dia harus meluruhkan air mata yang sudah lama tersembunyi di balik pelupuk? Kenapa sejahat ini?
Kini hanya bulan yang mampu menemani aku, mungkin juga hari-hariku ke depannya.
**
Pukul 06.00 makanan sudah tersaji di meja makan, aku juga sudah membersihkan dapur kembali. Di rumah ini belum ada pembantu yang diperkerjakan.
Tapi, soal bahan-bahan yang akan dimasak, sangat banyak. Bahkan tersusun rapi di dalam kulkas. Aku bergegas ke kamar setelah selesai di dapur. Berniat membersihkan diri terlebih dahulu, setelah itu baru membangunkan suamiku, yang tak pernah mencintaiku.
__ADS_1
Hijab kasual dan gamis rumahan sudah melekat indah di tubuh rampingku, bahkan make up tipis sudah terpoles sempurna di wajah.
Langkah kaki yang semula bergerak cepat, kini melemah saat tubuh tegap nan tinggi berdiri di depan, menghalangi jalanku.
“Mas Dirga,” cicitku pelan. Kepala yang semula menunduk, terangkat menatap pahatan wajah tampannya.
Wajahnya sudah kelihatan segar pagi ini, bahkan tak ada tanda-tanda kemarahan di sana. Baru saja aku ingin mengatakan sesuatu kembali, tubuh itu sudah menghilang di balik pintu utama.
Rasanya udara berhenti berembus, hingga aku hampir kehilangan napas untuk beberapa detik. Hingga akhirnya kembali tersadar, entah sudah ke berapa kalinya air mata ini kembali luruh.
Kutumpahkan segala kesedihan di kamar, duduk bersujud di lantai. Hatiku remuk redam. Usaha. Usaha untuk memberikan makanan yang terbaik telah aku lakukan, tapi mengapa untuk menghargai saja dia tak bisa. Kenapa mas Dirga?
Apa kamu pikir hati ini terbuat dari batu?
Tidak. Aku tidak boleh terpuruk terus begini. Aku harus bangkit, buktikan pada mas Dirga, bahwa hatiku kuat menahan semua perkataannya itu. Baiklah, jika dia tak ingin mencoba masakanku, biarkan aku saja yang memakan semuanya.
**
Terima kasih buat yang mau mampir, othor gak maksa kok😉🤭🥰
__ADS_1