
“Dimas!”
“Amira!”
Gadis yang sejak tadi duduk tak percaya melihat sosok Dimas, sang mantan. Sampai-sampai Amira bangkit dan memutari tubuh Dimas karena pria itu kelihatan sangat beda.
“Ini benaran kamu ‘kan?” tanya Amira memastikan.
“Iya. Kamu pikir siapa?” Dimas mengangkat sebelas alisnya.
Perubahan Dimas membuat Amira pangling. Gaya pria itu kini kelihatan seperti orang kantoran. Sangat jauh dengan bocah remaja yang baru tamat SMA.
Bahkan cara duduk pria itu sudah berubah, Amira terus mengamati dengan kagum. Dia bertepuk tangan saat Dimas mengakhiri gayanya dan kembali seperti masih SMA. Amburadul istilahnya.
“Keren banget! Kudu diacungi jempol se-provinsi!” teriak Amira kegirangan membuat Dimas tertawa.
“Ehem. Mbak mantan yang sudah menikah, fokus saja dengan kedatangan Anda ke sini. Kok malah ngeledekin aku,” tegur Dimas membuat Amira bungkam dan segera memperbaiki posisi duduknya.
“Ah, iya Bapak Dimas terhormat. Kedatangan saya ke sini ingin melamar kerja sebagai seorang waiters. Apakah ada lowongan untuk saya?” Meski ingin tertawa, tetapi Amira tahan saat mendengar bisik-bisik orang dari luar.
Dimas mengerjap berulang kali, masih tidak percaya dengan apa yang Amira ucapkan. Yang benar saja, gadis manja seperti Amira melamar kerja, sebagai seorang pelayan kafe? Dimas tertawa kecil dalam hati. Bayangan-bayangan Amira kerja memenuhi kepalanya.
“Ada kok Mbak. Kalau mau, mulai hari ini Mbak bisa bekerja,” jawab Dimas.
“Serius Pak? Alhamdulillah!”
“Syut Mbak. Jangan berisik! Entar dikira ada pembagian kupon gratis lagi!” tukas Dimas sambil tertawa lepas.
Amira langsung duduk, bibirnya tak henti-henti mendumal. Dia sedikit benci sosok Dimas yang sekarang. Sangat bergaya padahal hanya seorang pengusaha kafe saja.
“Makasih banget Pak. Kalau gitu saya keluar dulu,” pamit Amira.
“Stop!”
“Apa lagi?”
“Berkasnya. Sini, pura-pura kita tidak kenal,” ujar Dimas. Amira mencebik kesal lalu menyerahkan berkasnya pada Dimas.
Gadis itu langsung keluar dari ruangan Dimas menuju ruang ganti. Semangat Amira begitu membara meski dia tidak yakin pekerjaan akan berjalan dengan baik. Saat sudah sampai di dapur, Amira mengambil makanan yang sudah disiapkan. Menaruhnya di nampan dan membawa ke depan.
Satu dua kali dia gagal, salah membawa makanan dan tempat pesanan. Tapi setelah itu, Amira sukses dengan perjuangan yang dia lakukan dengan baik. Bagi Amira, pekerjaan ini cukup baik. Dia menarik kata-katanya dulu bahwa seorang pelayan pekerjaannya sangat gampang, dia akui sekarang, cukup susah tetapi begitu terkesan.
__ADS_1
Dia jadi ingin melakukan seperti pelayan yang sudah ahli, membawa nampan menggunakan tangan satu. Nanti Amira akan mencoba di rumah, kalau di sini, yang ada gajinya terpotong habis untuk membayar barang-barang yang pecah semua.
**
Alfa baru terlihat kembali setelah beberapa hari mengurung diri di kamar, setelah melakukan lamaran, dia jadi tak bersemangat. Pria itu baru saja menyelesaikan pendaftaran untuk dia kulaih di China.
Pria yang masih memakai kaca mata duduk bersandar di kursi belajarnya. Menatap dalam bingkai foto yang baru dia taruh kemarin. Terlihat jelas sosok gadis berhijab tengah tersenyum dengan manisnya. Alfa menyentuh bingkai itu, mengusap foto yang terlapis kaca. Dia rindu sosok di dalam sana tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Alfa meraih ponselnya yang sejak tadi dia abaikan, menyentuh layarnya hingga terlihat gambar yang sama dengan sosok dalam album.
Dia mencari kontak Cinta, melihat dan mengamati. Gadis itu baru saja off, sekitar lima belas menit yang lalu.
Selama beberapa hari ini, Alfa belum sekali pun mengirim pesan pada Cinta. Bahkan menelepon gadis itu hanya untuk sekadar minta maaf karena tak bisa mengantar ke bandara, pun tak dia lakukan. Alfa terlalu takut, dia yakin pasti Cinta kecewa.
Alfa masih memainkan jemarinya di keyboard ponsel. Mengetik berbagai kata tetapi dia hapus kembali. Hingga akhirnya, Alfa meyakinkan diri untuk mengirimnya pada Cinta.
[Assalamualaikum. Apa kabar?]
Centang dua abu-abu perlahan berubah menjadi biru. Alfa mendadak bingung, ada rasa senang juga sedih. Lama sekali dia menunggu balasan, tetapi tak kunjung masuk.
Tok tok
“Siapa?” teriak pria itu.
“Umi. Boleh masuk atau tidak?” Suara Kia terdengar dari luar. Alfa langsung beranjak untuk membukakan pintu.
“Ada apa Mi?” tanya Alfa.
“Ni.” Kia menyodorkan ponselnya pada Alfa membuat pria itu bingung.
“Cinta pengin bicara sama kamu,” sambung Kia sembari meletakkan ponselnya di genggam sang putra. Setelah itu dia memilih pergi untuk melanjutkan memasak.
Mata Alfa mengerjap beberapa kali. Dia menatap ke layar ponsel sang umi yang menampilkan nama Cinta Amara begitu besar. Mengatur napas dengan baik, Alfa mengangkat ponsel ke samping telinga.
“Assalamualaikum,” salamnya dengan gugup.
“Waalaikumsalam.” Terdengar suara lembut mengalun merdu dari seberang sana, membuat hati Alfa tak karuan.
“Gimana kabar kamu?” tanya Alfa masih dengan suara bergetar.
“Alhamdulillah Cinta baik. Kabar Kakak sendiri, gimana?”
__ADS_1
“Aku juga baik.”
“Syukurlah,”
Alfa terdiam. Dia masih menyusun kalimat untuk diucapkan pada Cinta sebelum sambungan terputus.
“Cinta,” panggil Alfa.
“Iya Kak?”
“Maaf.” Satu kata tetapi penuh dengan penyesalan yang terdalam.
Tak ada jawaban dari seberang. Sepertinya Cinta tengah berpikir, jawaban apa yang akan dia lontarkan.
“Maaf untuk apa? Memangnya Kak Alfa punya salah?”
“Karena tidak jadi mengantarmu ke bandara.”
“Itu? Uda Cinta maafin kok. Jangan merasa bersalah lagi Kak.”
“Alfa!”
Teriakan sang kakek mengharuskan Alfa memutus sambungan telepon. Dia meminta maaf pada Cinta karena benar-benar harus memutus sambungan telepon.
Dalam hati Alfa menggerutu kesal karena kakeknya selalu saja mengganggu, tidak pernah bisa membuatnya tenang.
Bersambung
Othor paling suka cerita penuh perjuangan. Dan tentunya di sini, perjuangan ya banyak sekali. Dari mulai, tidak boleh mengeluh sampai harus berjuang demi masa depan.
Karena setiap perjuangan seseorang, perlu diapresiasi.
Maka dari itu, kasih bunga atau kopi. Kalau tidak, kena denda kasih setrek😂🙏
__ADS_1