
Hari ini lagi-lagi Amira tidak masuk sekolah, dia memilih libur karena merasa belum sanggup. Apalagi harus selalu diawasi oleh suruhan ayahnya.
Kedua orang tuanya siang ini pergi, entah ke mana Amira tidak tahu itu. Dia sudah berganti pakaian menjadi serba hitam, sebenarnya Amira berencana untuk menemui Laska dengan cara diam-diam. Dia mulai menuruni anak tangga dengan perasaan waswas, takut akan ketahuan oleh penjaga-penjaga di luar.
Amira berjalan dengan jinjit ke arah pintu belakang, kepalanya celingukan. Saat sudah sampai di dekat pintu, mulutnya ternganga saat melihat beberapa orang bertubuh besar dan kekar berada di luar sana. Tepatnya sedang duduk di kursi yang memang disediakan khusus untuk ibunya kalau lelah mengurus taman. Lewat jendela Amira terus memantau, betapa lemas tubuhnya saat menghitung semua orang itu. Ada sepuluh.
“Astaga.” Tubuhnya luruh ke lantai. Sepertinya usaha Amira tak akan membuahkan hasil. Ayahnya sudah mengerti dengan rencana dia, dan menambah suruhan untuk menjaganya.
“Sebegitukah ayah?” Amira berdiri kembali, dia beranjak meninggalkan ruang belakang dan berjalan ke arah ruang utama.
Ponsel tak ada, Amira bingung ingin menelepon Laska dengan apa. Kalau telepon rumah, malah dia yang tak ingat nomor pria itu.
Amira mulai berpikir untuk menelepon Cinta, karena dia tahu nomornya.
“Ya Allah, ini ‘kan masih jam belajar. Aku enggak mau ganggu Cinta deh,” monolog Amira seraya menaruh kembali telepon genggam ke tempatnya.
Kalau masih ada air mata yang tersisa, Amira ingin mengeluarkan semuanya. Dia ingin menangis sepuasnya karena takdir yang dia jalani ini.
Suara pintu berderit membuat Amira kaget. Gadis itu langsung menatap ke arah pintu, di sana—satpam sudah berdiri sembari menundukkan kepalanya.
“Maaf Nona, saya hanya ingin menyampaikan. Kalau misalnya Nona merasa bosan di rumah, bisa keluar. Para bodyguard akan menjaga Nona dengan baik,” ucap satpam itu membuat Amira mendengkus kesal.
“Tidak! Terima kasih infonya,” jawabnya sembari berjalan ke arah tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
Satpam yang masih berdiri di ambang pintu, merasa kasihan pada anak majikannya. Dia tahu betul sifat Amira yang sangat ceria dan menyenangkan, tetapi kini malah murung dan kelihatan sedih terus.
Pak Yono—satpam keluarga Amira ingin membantu gadis itu untuk keluar. Namun, jumlah orang suruhan ayah Amira sangat banyak. Dia tak mampu mengalihkan semuanya.
“Maaf Nona, bapak tidak bisa bantu.” Pak Yono menutup pintu utama, lalu kembali ke tempat dia bekerja.
Di dalam kamar, Amira terus mondar-mandir sambil mengetukkan jarinya di dagu. Seharusnya dia bisa keluar sekarang dan bertemu dengan Laska, tetapi lagi lagi dia mengakui kelicikan ayahnya. Pria itu pasti tidak semudah membiarkan anaknya di rumah sendirian tanpa pengawasan.
Tiba-tiba saja ide muncul di kepala Amira. Dengan cepat gadis itu berjalan ke arah meja belajarnya, mengambil laptop yang sudah tak pernah dia pakai lagi. Dia memencet tombol untuk menghidupkan laptopnya, setelah itu dia beralih ke aplikasi media sosial.
Berulang kali Amira menuliskan nama Laska di papan keyboard, tetapi tak ada yang muncul dengan wajah pria itu. Atau jangan-jangan Laska memakai foto lain?
“Ais, sudah tahu lagi gempar dan rindu banget. Pake’ segala gak punya media sosial lagi,” gerutu Amira sambil menutup laptopnya dengan keras.
Mendengar suara pintu terbuka, Amira langsung bangkit dan mengusap rok yang ia kenakan.
“Ibu, buat kaget saja,” ucap Amira seraya menghampiri ibunya yang masih berdiri di ambang pintu.
“Maaf Sayang. Habisnya ini buru-buru,” jawab Gina sambil berjalan menuju ranjang Amira. Gadis yang masih berdiri, dengan cepat menutup pintu kamarnya.
Melihat anaknya sudah tampak lebih baik, membuat senyuman Gina kembali tertarik. Dia bersyukur sekarang Amira sudah dewasa, bisa meredam emosinya dan mengerti keadaannya.
“Ibu dari mana sih?” tanya Amira, gadis itu menyelusupkan tangannya di pinggang Gina.
__ADS_1
“Menemani ayah kamu membeli pakaian, untuk bertemu temannya itu,” jawab Gina dengan pelan, takut menyinggung perasaan anaknya.
Amira terdiam, jemarinya masih sibuk memilin rok. Dengan pandangan menunduk.
“Sayang, jangan sedih begini. Kamu tadi sudah cantik karena tersenyum. Sekarang dengar Ibu, bagaimanapun kamu harus menuruti keinginan ayahmu. Hanya untuk sementara,” pinta Gina. Amira langsung memandang ke arah ibunya dengan tak percaya.
“Mira gak mau Bu! Gak mau! Apa jangan-jangan Ibu juga berpihak pada ayah?” tuding Amira sembari bergeser.
“Sayang, dengar. Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang selain mengangguk. Kamu tenang saja, perjodohan ini pasti akan berakhir dan kamu tidak menikah dengan anak temannya itu. Karena kamu, hanya milik Alaska Lencana, percayalah Nak.” Gina mengusap punggung anaknya perlahan. Setelah itu dia tersenyum, lalu merentangkan tangannya. Dengan senang hati Amira masuk ke dalam pelukan Gina.
“Ibu mau berbuat apa untuk menggagalkan perjodohanku? Kenapa Amira tidak tahu?”
“Kamu tenang saja Sayang, sekarang lebih baik kamu fokus sama sekolah kamu. Bukankah sebentar lagi akan wisuda kelulusan?”
“Iya, Bu,” jawab Amira lemas.
“Jangan seperti itu, kamu harus bisa meyakinkan Laska kalau kamu istri yang baik. Mendapat nilai bagus juga hal yang baik bukan?” Gina menaikturunkan alisnya, yang dibalas dengan dengusan oleh Amira.
“Terima kasih Bu, sudah mau tetap ada di samping Amira. Aku enggak bakalan bisa bayangin kalau enggak ada Ibu,” ucap Amira sembari memeluk erat tubuh ibunya.
“Sama-sama Sayangnya Ibu. Mau tidak, jalan-jalan ke luar? Atau nongkrong di kafe?” ajak Gina. Dia melakukan ini agar Amira tak merasa bosan atau stres karena terkurung di kamar terus menerus.
“Hmm, Ibu sudah kaya’ anak ABG, tetapi ayolah. Mira juga mau lihat om Laska, nanti Mira rekomendasi in kafe tempat suami tersayangku itu selalu datang.”
__ADS_1
Gina tertawa kecil mendengar ucapan anaknya, lalu mengesup rambut sang anak dengan lembut. “Ternyata ada udang di balik batu.”