
Masih dengan mata terpejam, Amira menepuk-nepuk pelan kasur di sebelahnya. Dia tak merasakan ada sosok manusia di sana. Membuka mata, Amira terkejut karena tak melihat keberadaan Laska di kasur maupun sekitar.
Dia merasa sedih, rindunya belum terobati tetapi Laska sudah keburu pergi. Dengan nyawa yang sudah sepenuhnya terkumpul, Amira berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Amira duduk di depan kaca rias. Dia menatap pantulan wajahnya di kaca lebar itu. Senyumnya seketika terbit ketika mengingat momen romantis tadi malam saat bersama Laska. Pria itu terus memeluk tubuh Amira dengan erat, seolah-olah tak memberikan ruang untuk angin menerpa tubuhnya.
Tok tok
Ketukan di pintu membuat senyum Amira menyurut, dengan cepat dia beranjak untuk membuka pintu.
Ibunya di depan pintu dengan nampan di tangan, Amira langsung mempersilahkan ibunya untuk masuk. Sebelumnya dia melirik ke dalam ruangan kamarnya terlebih dahulu, mencari apakah ada jejak Laska di sana.
“Kamu nyenyak banget tidurnya ya, sampai bangun siang begini,” goda ibunya sembari mencolek dagu Amira, membuat gadis itu malu-malu.
“Ibu apa sih?”
“Is, kok malu-malu gitu. Ada apa Sayang?” Gina duduk sembari menggenggam jemari putrinya, memberikan ruang buat Amira bercerita.
Amira masih diam, tetapi pikirannya melayang pada Laska. Dia kembali tersenyum malu.
“Ibu percaya enggak, kalau tadi malam om Laska datang ke sini?” tanya Amira sambil mengedip-kedipkan sebelah matanya.
“Tidak. Jangan-jangan kamu berkhayal atau mimpi bertemu Laska ya?” goda ibunya kembali. Amira mengerucutkan bibirnya.
“Enggak Bu, mana mungkin Amira mimpi. Nyata kok kalau om Laska datang ke sini,” sangkal Amira dengan suara pelan seraya mengembungkan pipinya.
Gina hanya tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.
“O, iya. Kamu enggak sekolah hari ini? Ibu sampai lupa,” ucap Gina.
“Tanggal merah Bu,” jawab Amira cepat.
“Ibu lupa.” Gina menepuk keningnya pelan.
Amira menatap ke samping, lagi-lagi ibunya membawakan sarapan nasi goreng. Tangan Amira terulur mengambil sepiring nasi goreng bawaan ibunya.
__ADS_1
“Ibu sengaja ya, masak nasi goreng terus?” tanya Amira dengan senyum semanis mungkin.
“Iyalah, biar kamu terus ingat Laska,” canda sang ibu.
“Ya udah, Amira makan dulu.” Amira mulai menyuapkan sesendok nasi goreng, dia memejamkan mata untuk menikmati nikmat dari masakan ini.
**
Kafe Flower tampak ramai saat Amira datang ke sana. Dia ditemani oleh sang ibu, niatnya mereka ingin menenangkan pikiran dengan keluar dari rumah.
Bukannya tenang, justru Amira sangat malas berada di kafe. Sebab Dimas juga ada di sana, dengan santainya pria itu mendatangi bangku dia.
“Hay Tante,” sapa Dimas sembari menyalami ibu Amira.
“Hay juga. Ini Dimas ‘kan ya?” Ibu Amira tersenyum seraya memegang tangan Dimas. Membuat pria itu merasa sangat bahagia.
“Iya Tante, sudah lama kita tak bertemu,” ucap Dimas basa basi, semakin membuat Amira jengkel.
“Ngapain Lo di sini? Sana pergi!” usir Amira sambil mengibaskan tangannya.
“Maaf Bu.” Amira hanya bisa menundukkan kepalanya.
“Sini duduk Dimas,” suruh Gina. Tentu saja Dimas langsung duduk. Mana mungkin dia melewatkan kesempatan emas seperti ini.
Kedua orang ini sibuk mengobrol, mengabaikan Amira yang hanya diam. Saat masih sibuk dengan pikiran sendiri, Amira melihat sosok yang sangat dia kenali lewat dari depan matanya.
Dengan cepat gadis itu beranjak, meninggalkan ibunya dan Dimas yang terus memanggil dia. Amira tidak bisa diam saja melihat ayahnya bersama wanita lain, dia sakit hati. Apalagi ibunya nanti jika sampai melihatnya.
**
Di lain tempat, Jinon—ayah Amira tengah berjalan cepat dengan wanita di sampingnya. Dia sedang dalam keadaan khawatir, hingga tidak sadar saat ada yang mengikuti.
“Pokoknya kita harus bisa membuat Amira menikah dengan anaknya pak Amir, Mas. Aku enggak mau dipenjara,” ucap wanita di samping Jinon. Membuat pria itu menghela napas sekasar mungkin.
“Kamu pikir aku juga mau masuk penjara apa? Ini semua salah kamu, karena terlalu menghambur-hamburkan uang!” balas Jinon dengan nada ketus.
__ADS_1
“Kok jadi aku? Salah kamu yang gak bisa mengelola keuangan dengan benar!” teriak wanita itu tak mau kalah, membuat ayah Amira semakin frustrasi.
“Oh jadi ini kerja yang Ayah maksud! Bersama wanita ****** ini!” Amira keluar dari persembunyiannya, membuat Jinon dan wanita di sampingnya kaget.
Tapi detik berikutnya wanita itu tersenyum memandangi Amira, membuat gadis itu jadi waswas. Karena sekarang mereka tengah berada di tempat sepi.
“Dia sudah ada di sini, kenapa kita tidak menangkapnya saja,” ucap Saras—wanita simpanan ayah Amira seraya menunjuk ke arah Amira.
“Maksud kamu?” tanya Jinon bingung.
Tanpa membuang waktu, Saras memegang pergelangan tangan Amira dengan keras. Membuat gadis itu merintih dan terus berusaha untuk melepaskannya.
“Lepas! Dasar wanita ******!” umpat Amira masih berusaha melepas cengkaman tangan Saras.
“Jangan harap! Karena kamulah yang akan membebaskan kami!”
“Lepas!” Amira semakin meronta-ronta membuat Saras kewalahan. Dia memukul lengan Jinon.
“Bantu aku menangkap anakmu ini! Jinon!” teriak Saras.
“Tapi—“
“Jinon! Kamu mau dipenjara?!”
“Baiklah.”
Sebelum Amira benar-benar tertangkap, dia menggigit tangan Saras hingga wanita itu mengaduh kesakitan. Tanpa membuang waktu kembali, Amira berlari meninggalkan dua orang tadi. Dia berusaha menghindari ayahnya, tetapi mereka terus mengejar.
“Ibu, Dimas, tolong Amira!”
Bersambung
Teka teki terpecahkan😂
__ADS_1
Komen bawelnya, biar nanti malam semangat ngetik bab berikutnya.