
Tidak terasa, Minggu berganti Minggu. Hari berganti hari begitu pun bulan. Amira telah menyiapkan diri untuk wisuda kelulusannya. Mendapat nilai tertinggi ketiga dalam satu kelas, membuat Amira merasa bahagia. Impiannya membuat ayah dan ibu senang akhirnya tercapai.
Mobil Laska sudah menunggu di halaman rumah, Amira beserta ibunya langsung masuk ke dalam mobil. Laska pun juga, pria itu langsung mengambil alih kemudi.
Sebenarnya, pembagian nilai sudah diumumkan kemarin. Hari ini hanya khusus untuk merayakan kelulusan, ditambah dengan wisuda dengan baju toga.
“Kamu bahagia?” tanya Laska sembari melirik sebentar ke arah Amira lewat kaca.
“Tentu. Akhirnya, hari yang Amira tunggu-tunggu datang juga,” jawab Amira dengan binar bahagia yang begitu tampak dimatanya.
Melihat itu, Laska juga turut merasa bahagia. Dia tersenyum melihat istrinya terus tersenyum. Begitu pun Gina, wanita itu adalah peran penting dalam hidup Amira.
Sampai di depan gerbang sekolah, Laska memberhentikan mobilnya. Pria itu turun lebih dulu, barulah membuka pintu bagian kursi penumpang.
“Aku janji akan datang nanti. Pagi ini harus ke kantor terlebih dahulu,” ujar Laska yang langsung diangguki oleh Amira.
“Janji ya Om. Jangan bohong,” tuding Amira.
“Iya, janji.”
Setelah menyalami ibu Amira, Laska masuk ke dalam mobil. Pria itu menghidupkan mesin mobilnya, lalu melajukan dengan kecepatan sedang.
Amira langsung mengajak ibunya untuk masuk, di dalam sudah sangat ramai oleh orang tua siswa yang juga sudah berdatangan. Amira langsung menuju ke tempat yang akan mereka duduki, dia memilih kursi barisan kedua.
Acara pertama, adalah pentas seni. Yang akan dibawakan oleh kelas XII IPA 2.
“Cinta di mana, Nak?” tanya Gina seraya melihat ke sana kemari.
“Katanya masih berada di jalan, Bu,” jawab Amira.
Ibu Amira memang sudah menganggap Cinta seperti anaknya sendiri. Tak peduli dengan status mereka, Gina juga sangat menyayangi Cinta.
“Amira, Tante,” panggil Cinta seraya berjalan mendekati Amira. Gadis itu langsung duduk di sebelah ibu Amira.
“Kamu cantik banget,” puji Amira sambil tersenyum manis, membuat Cinta menjadi malu.
__ADS_1
Melihat itu, Gina hanya tersenyum.
“Kamu juga cantik, Amira. Seperti Barbie,” puji Cinta balik.
“Sudah-sudah, kalian sama-sama cantik kok,” sela Gina yang langsung ditanggapi dengan tawa kecil oleh kedua gadis yang berada di sisi kiri dan kanannya.
**
Di dalam ruangannya, Laska mencoba menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu. Sebab, dia sudah berjanji pada Amira untuk datang melihat wisuda kelulusan gadis itu. Dan tentunya Laska tidak bisa mengingkarinya.
Saat sedang sibuk dengan laptop, pintu ruangannya terbuka. Wanita berhijab lebar berdiri di ambang pintu sambil menenteng totebag.
“Assalamualaikum,” salam wanita itu, membuat pandangan Laska teralih seketika.
Begitu kagetnya dia melihat siapa yang datang, jantungnya berdebar kencang.
“Aisyah,” gumam Laska nyaris tak terdengar.
“Assalamualaikum, Laska,” salam wanita bernama Aisyah, dia tersenyum seraya berjalan mendekati meja Laska.
“Maaf ya, karena enggak ngabari dulu mau ke sini. Sebenarnya kemarin aku sudah mencoba menelepon kamu, tetapi tidak kamu angkat,” ucap Aisyah.
Laska hanya mengangguk sebagai jawaban. Mulutnya terasa kelu untuk mengucapkan satu kata saja.
“Ada yang ingin aku bicarakan, tetapi tidak di sini. Enggak enak dilihat orang, apalagi kita bukan mahram,” sambung Aisyah lagi.
“Ya.”
“Gimana kalau di kafe, yang letaknya juga tidak jauh dari sini. Kamu mau?” ajak Aisyah. Laska tidak bisa menolak, akhirnya dia mengangguk.
**
Amira terus bolak balik melihat luar gerbang, orang yang dia tunggu-tunggu belum juga datang. Sedangkan acara sebentar lagi akan selesai.
“Mungkin saja om Laska sedang sibuk.” Cinta sudah berdiri di samping Amira.
__ADS_1
“Mungkin saja, tetapi om Laska sudah janji akan datang. Kenapa sampai jam segini, belum juga muncul?” lirih Amira dengan wajah sedih. Padahal dia sangat berharap bisa berfoto dengan Laska sebagai kenang-kenangan.
“Positif thingking saja, Amira. Mungkin memang masih dalam keadaan sibuk banget,” tutur Cinta mencoba meyakinkan Amira.
Sedangkan Amira hanya diam, dengan wajah tertunduk. Sangat terlihat jelas gurat kesedihan dimatanya.
“Masuk yuk, acara selanjutnya akan segera dimulai,” ajak Cinta, tetapi Amira menggeleng.
“Aku masih mau nunggu Om Laska,” ujar Amira.
“Iya, nunggunya di dalam. Yuk.”
Akhirnya Amira mengangguk, gadis itu berjalan beriringan dengan Cinta. Sesekali dia melihat ke belakang, berharap Laska ada di sana. Namun sayang, pria itu tetap tidak ada.
**
Selesai acara, Amira langsung mengajak ibunya pulang. Wajah gadis itu dia tekuk, bibirnya mengerucut kesal. Pria yang sudah berjanji itu nyatanya tidak datang, padahal Amira sudah sangat berharap Laska-lah yang akan memakaikan topi toga padanya.
“Kita naik bis saja ya Bu?”
“Iya Sayang,” jawab Gina sambil tersenyum.
“Dasar pria menyebalkan. Sukanya tebar janji, tetapi diingkari,” gerutu Amira sepanjang jalan menuju halte, membuat Gina menggelengkan kepalanya.
“Tidak boleh gitu, Nak. Harusnya kamu doakan Laska, agar dia selamat dalam perjalanannya atau pekerjaannya. Mungkin saja memang dia tidak ada waktu untuk datang,” saran Gina, tetapi tak mampu membuat Amira tersenyum.
Gadis itu mengambil tas ibunya dan masuk lebih dulu ke dalam bis. Diikuti oleh Gina, wanita itu mengambil ponselnya dari saku. Mencoba mengirim pesan pada Laska.
Di dalam bis, Amira hanya diam. Wajahnya pun masih sama seperti tadi. Dia masih kecewa dengan Laska, Amira berjanji, sampai di rumah nanti dia akan merajuk dan tidak mau bertemu Laska.
“Bukannya itu Laska,” ucap Gina sembari menunjuk ke arah toko kue.
Amira mengikuti arah telunjuk ibunya, seketika dia memalingkan wajah. Sibuk apanya? Padahal dia sedang senang-senang. Batin Amira.
__ADS_1