
Suasana sore hari begitu indah, ditambah dengan udara yang segar. Mampu menggoyangkan dedaunan pohon mangga di sekitar rumah Cinta. Di halaman rumah yang terdapat bangku dan meja layaknya kafe, Cinta tengah duduk bersama Alfa. Pria itu datang sekitar sepuluh menit yang lalu.
“Aku ke sini untuk ngucapin semoga besok bisa berjalan dengan sempurna, dan kamu sampai dengan selamat.” Alfa membuka suara setelah lama hanya bungkam saja.
“Iya, makasih Kak,” jawab Cinta seraya menundukkan kepalanya. Dia tersenyum kecil, tetapi tak terlihat oleh Alfa.
Alfa kembali diam, matanya tak lepas dari wajah Cinta. Dia ingin terus tersenyum, apalagi mengingat pertemuan mereka dulu begitu tak mengenakkan.
Dilihatin begitu, Cinta merasa risi juga malu. Dia jadi berakseptasi bahwa wajahnya sangat lucu.
“Kamu cantik,” celetuk Alfa tanpa sadar.
“Maaf.” Alfa tertawa sedangkan Cinta semakin membuang wajahnya ke samping.
Sosok pria yang bisa mendebarkan hati Cinta kini khawatir. Apakah bisa dia melihat wajah Cinta kembali, sedangkan sebentar lagi mereka akan berbeda daerah.
“Jadi orang kaya itu enak. Pasti Kakak akan kuliah di luar negeri,” tebak Amira tiba-tiba, membuat Alfa mengernyitkan dahinya.
Luar negeri? Bahkan Alfa tak tahu bisa kuliah di Jakarta atau tidak.
“Kamu salah,” sahut Alfa masih terus tersenyum.
“Apanya yang salah?”
“Orang kaya belum tentu bisa berbuat sesuka hatinya. Aku merasa tidak bebas menjadi orang kaya. Kalau boleh memilih, aku ingin menjadi orang biasa saja, biar bisa selalu dekat dengan kamu.” Alfa memandang Cinta dengan intens, yang dibalas juga oleh gadis itu.
“Bukankah kamu menghindar karena aku kaya? Sekarang jangan menghindar lagi, yang kaya itu umi dan abi, bukan aku,” sambung Alfa.
Cinta tak mengerti arah pembicaraan Alfa, tetapi dia tetap mengangguk. Jemarinya menyodorkan segelas kopi ke depan Alfa.
“Kakak sakit?” tanya Cinta setelah memerhatikan wajah Alfa yang kelihatan sedikit pucat.
__ADS_1
“Siapa yang tidak sakit? Akan ditinggal oleh pacarnya.” Ucapan Alfa lagi-lagi membuat Cinta mengalihkan pandangannya karena malu.
“Besok mau ikut bang Bara mengantar aku?” Cinta berucap sambil menundukkan kepalanya.
“Memangnya aku boleh?”
“Kenapa tidak boleh? Semua orang boleh mengantarku,” sahut Cinta cepat.
“Baiklah, besok aku akan ikut mengantar kamu. Kalau bisa, sampai Semarang juga, biar bisa memastikan kamu aman sampai di tempat tujuan.”
Alfa tertawa puas melihat wajah cemberut Cinta.
**
Amira memilih turun untuk membeli camilan di supermarket. Dia hanya sendiri, karena ibunya sangat lelah. Saat Amira tidak fokus pada jalan, tak sengaja dia menabrak seorang wanita.
“Maaf Mbak,” ucap Amira merasa bersalah sembari menundukkan kepalanya.
Amira mengangkat kepalanya, dia menatap wanita yang masih berdiri di depannya. Sangat cantik dengan balutan hijab, dan terlihat sangat elegan. Amira memerhatikan dari bawah sampai atas tubuh wanita itu.
“Kenalkan saya Aisyah Humairoh. Kalau Mbak, siapa namanya?” tanya wanita bernama Aisyah itu.
“Saya Amira, Mbak. Salam kenal ya.” Amira menerima tangan Aisyah, dia tersenyum dengan manis.
“Salam kenal juga Mbak Amira. Boleh kita berteman?”
“Boleh banget. Lagian, Amira juga tidak punya teman,” jawab Amira dengan ramah.
Keduanya berjalan beriringan, Amira tertawa kecil saat Aisyah bercerita. Dia seperti menemukan sosok Cinta di dalam diri Aisyah, sangat membuat nyaman.
Aisyah mengajak Amira ke kafe untuk sekadar minum dan ngobrol. Tentu saja Amira tak menolak, bahkan dia malah senang.
__ADS_1
“Mbak Aisyah sudah punya pacar atau suami?” tanya Amira setelah cukup lama mereka diam.
“Saya sudah lama bertunangan, Mbak. InsyaAllah waktu dekat ini akan menikah,” jawab Aisyah seraya tersenyum.
“Wah. Jangan lupa undang Amira,” canda Amira yang langsung mendapat anggukan dari Aisyah.
Pria yang baru mau berjalan masuk ke dalam kafe, terkejut melihat pemandangan di depannya. Hari tak membuang waktu, dia langsung memfoto kedekatan Amira dan Aisyah.
“Hayya. Ini gawat sekali. Mantan tunangan Laska dekat dengan istrinya. Kalau saja Laska benaran aktor, pasti bakal viral ni,” gumam Hari berbalik arah. Dia tak jadi masuk ke kafe, takut akan bertemu dengan dua wanita yang masih asik di dalam.
**
Pagi ini, Cinta sudah siap-siap. Koper yang akan dia bawa sudah berada di ruang keluarga. Cinta menatap sekitar, dia mengusap pelan bingkai foto kedua orang tuanya.
Rindu begitu menyeruak dalam, seandainya kedua orang tuanya masih ada. Mungkin mereka sangat bahagia, karena putrinya sebentar lagi akan masuk universitas keinginan mereka.
Cinta menyeka air matanya dengan pelan, tetapi dia tak bisa menyembunyikan sesenggukan kecil. Dan itu membuat hati Bara sakit, pria itu masih setia berdiri di belakang adiknya.
“Bawa foto itu dek, sebagai obat rindu pada mereka,” ucap Bara membuat Cinta membalikkan tubuhnya.
Cinta langsung lari menubruk tubuh abangnya, memeluk erat pria itu. Menumpahkan segala tangis dibahu sang abang.
“Abang jangan pulang malam-malam lagi, nanti gak ada yang bakal buatin kopi dan nyiapin air hangat,” pesan Cinta dengan suara gemetar.
“Iya adik Abang yang paling cantik. Abang pasti akan selalu ingat pesan itu,” jawab Bara.
“Sudah jangan nangis lagi,” sambung Bara.
Setelah puas menangis, Cinta melepaskan pelukannya. Dia mengusap pipi dengan pelan, setelah itu cemberut saat mendengar abangnya mengejek.
Sikap ini yang pasti akan dia rindukan. Cinta hanya berharap, cepat menyelesaikan kuliahnya dan segera kembali ke Jakarta.
__ADS_1