Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 3


__ADS_3

Keesokan harinya, Alchan memilih pergi untuk mencari udara segar. Dia sudah bosan terus menerus berada di rumah, bahan untuk melukis juga sudah habis. Terutama bahan ide yang akan dia tuangkan dalam lukisan.


Baru saja berjalan beberapa meter melewati rumah Almaira, sudah terlihat gadis itu berlari mengejarnya. Alchan tidak bisa mengelak, alhasil dia hanya menghembuskan napas kasar.


“Ngapain ngikutin aku? Katanya bukan mahram,” ucap Alchan setelah Almaira sampai di dekat dia.


“Nih, aku bawa Mochi. Jadi kita tidak berduaan.” Almaira menunjuk kucing rasnya pada Alchan.


Lagi, Alchan hanya bisa pasrah. Dia berjalan lebih dulu, diikuti Almaira di belakang. Rasanya dia tidak bisa bebas, di mana pun Alchan berada, selalu saja ada Almaira. Sepertinya gadis itu sengaja membuat dia kesal.


“Kak, kita mau ke mana?” tanya Almaira seraya menyejajarkan langkahnya dengan Alchan.


“Kita? Aku hanya pergi sendiri. Kamu ya pilih tempat tujuanmu,” ketus Alchan dengan wajah tak suka.


“Ih, kok gitu sih. Kita kan perginya bertiga, iya nggak Mochi?” Almaira menatap kucingnya dengan wajah sudah cemberut.


“Lagian, aku nggak ngajakin kamu tadi. Kamu-nya aja yang langsung ikut, dasar tidak tahu diri,” cemooh Alchan.


“Biarin yang penting happy!” sahut Almaira mendahului langkah Alchan.


Memutar bola mata malas, Alchan juga mempercepat langkah kaki. Dia ingin segera sampai di tempat tujuan, mengingat biasanya ibu-ibu suka keluar di jam segini, malas berurusan dengan ejekan mereka.


Setelah berjalan beberapa puluh meter, akhirnya Alchan dan Almaira sampai di kota. Keduanya memilih masuk ke dalam kafe bergaya Eropa yang selalu mereka kunjungi. Karena tidak ingin terlalu ramai dan berisik, Alchan memilih tempat di luar setelah memesan di dalam. Tak lupa juga pria itu langsung membayar di kasir.


“Hari ini tampak cerah ya, Kak. Apalagi lihat wajah Kakak, duh langsung semangat,” ucap Almaira sambil tersenyum.


“Apa? Nggak denger.”


“Huh, sengaja.” Almaira memilih sibuk dengan kucingnya.


Masa-masa seperti ini yang Almaira sukai, sejak dulu dia selalu mengikuti ke mana pun Alchan pergi. Bahkan hingga usianya dua puluh tiga tahun, Almaira tidak peduli mau dipandang gimana. Baginya, bersama Alchan sangat menyenangkan meski mereka hanya duduk-duduk saja.


“Kak Alchan! Wah, ada Kak Alchan!” Teriakan seseorang membuat Alchan dan Almaira sontak sama-sama menoleh ke sumber suara.


Seketika dahi Alchan mengernyit, bingung. Begitu pun Almaira, gadis itu menggeser kursinya, saat beberapa gadis berlari mendekat.


“Kak Alchan! Boleh nggak minta foto?” pinta salah satu gadis yang berteriak tadi.


Bingung mau menjawab apa, akhirnya Alchan hanya mengangguk. Lima orang gadis mendekat pada Alchan, sedangkan satu gadis lagi mendekati Almaira.


“Kak, boleh minta tolong fotoin kami?” ucap gadis itu. Almaira mendengkus kasar, tetapi mengangguk.

__ADS_1


“Gini kalau punya teman terkenal,” gerutu Almaira.


Satu kali jepret, masih kurang. Dua kali, juga kurang. Sampai lima kali Almaira baru menyudahi aktivitasnya. Dia kembali mendengkus sebal pada Alchan setelah semua gadis pergi.


“Fans Kakak, aku yang repot,” sewot gadis itu.


“Membantu seseorang itu pahalanya banyak loh,” jawab Alchan sambil menikmati jus miliknya.


“Baiklah, karena aku orang baik. Jadi, ya sudahlah.”


Melihat pria di depannya beranjak, Almaira juga ikutan. Tak lupa dia ambil Mochi yang tengah berjalan-jalan di pelataran kafe.


“Mau ke mana lagi, Kak?” tanya Almaira, mengikuti langkah kaki Alchan.


“Mungkin taman kota,” jawab Alchan asal.


“Cus! Ayo kita pergi!” teriak Almaira antusias.


**


Malam ini, pukul 20.00 Almaira bersama keluarganya berkumpul di ruang keluarga. Di sana ada ayah dan bunda juga, Almaira duduk di tengah-tengah mereka. Sedangkan di sofa lain, ada orang tua bunda Aisyah.


Karena anak tunggal, Almaira begitu manja pada semua orang. Terutama kakeknya, yang selalu menuruti semua keinginannya.


“Begini, gimana Kek?” tanya Almaira bingung.


“Sendiri. Kamu sudah sukses, tidak adakah niatan untuk menikah?” Pertanyaan kakeknya membuat Almaira tersedak air minum.


Sang nenek yang berada di samping, mengusap lembut punggung cucunya. Almaira segera mengusap bibirnya, lalu memperbaiki hijab yang sedikit miring.


“Mungkin belum dikasih jodoh sama Allah, Kek. Lagian, umur Almai juga masih dua puluh tiga tahun,” jawab Almaira.


“Dua puluh tiga tahun itu sudah pas, Nak. Mau kapan lagi? Semakin hari kamu bakalan semakin tua, jangan menunda lagi,” seloroh kakek. Almaira hanya mengangguk patuh.


Suasana berubah jadi tegang, Bara dan Aisyah sebagai orang tua Almaira hanya bisa diam. Mereka pun bingung harus bagaimana, bagi mereka, semua keputusan tentang jodoh biarlah ditangan putrinya.


“Jangan berharap pada Alchan, pria itu hanya mementingkan kariernya saja. Dia nggak bakalan ngelamar kamu, jadi stop dekat-dekat dia,” ucap nenek secara tiba-tiba, membuat Almaira kembali terkejut.


“Kami hanya teman, Nek. Apa itu salah? Almaira juga suka berteman dengan Kak Alchan, dia orang baik. Almai juga banyak dapat ilmu,” jawab Almaira tak suka.


“Tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan! Sekarang, fokus saja pada diri kamu!” sahut neneknya.

__ADS_1


Memang, dalam keluarga neneklah orang yang suka mengatur hidup Almaira. Dari prestasi gadis itu hingga jodoh. Pernah, neneknya meminta dia menikah di usia dua puluh tahun, dengan pria pilihan neneknya itu.


“Takdir di tangan Allah, Nek. Almai percaya itu!” tandas Almaira seraya berlari meninggalkan ruang keluarga.


Jika sudah berurusan dengan nenek, Almaira mendadak tidak mood untuk ngapa-ngapain lagi. Dia kecewa pada neneknya yang ternyata belum juga berubah, hidupnya terlalu indah bila tidak ada campur tangan wanita paruh baya itu. Namun, Almaira juga tidak mau berdosa, bila menolak semua keinginan neneknya.


“Ya Allah, hamba yakin, Kak Alchan orang yang baik. Bukan seperti yang Nenek ucapkan.”


Almaira menutup pintu balkon, dia berniat untuk tidur saja. Sebab, kepalanya juga mendadak pusing.


**


Sedangkan di tempat lain, Alchan dan Alchia tengah bercanda ria di ruang khusus melukis pria itu. Mereka tertawa bersama, apalagi ketika Alchan mendengar candaan Alchia, dia serasa tak bisa berhenti tertawa.


“Kak, nggak ada niatan buat nikah gitu?” Pertanyaan Alchia menghentikan tawa Alchan.


“Nikah? Entahlah, Kakak masih terlalu sibuk dengan pekerjaan ini,” jawab Alchan seraya menunjuk lukisan-lukisannya.


“Aku rasa Kakak sangat cocok dengan Kak Almai,” ucap Alchia lagi.


“Hahaha, apaan sih kamu? Kami ini temenan.”


“Teman bisa saja menikah Kak. Itu nggak berpengaruh, yang penting kalian sama-sama suka,” ujar Alchia.


Alchan diam, dia malah memilih mengambil kuas dan beberapa cat. Sang adik merasa kesal karena ucapannya tak ditanggapi sang kakak.


“Kak, kalau kalian jodoh gimana? Ayolah, kalau emang suka bilang aja. Jangan dipendam begini, aku yakin kok kalau kak Almai juga suka Kakak,” kata Alchia seraya mengikuti kakaknya.


“Sudah Chia! Jangan bahas itu lagi!” tegas Alchan membuat langkah kaki Alchia terhenti.


“Kenapa?”


“Kami tidak jodoh. Biarkan saja kami berteman.”


 **


Hay guys. Jangan lupa like dan dukung aku lewat vote ya. Aku gak maksa kok.


Ini Mochi guys, kucing kesayangan Mbak Almai.


__ADS_1


 


 


__ADS_2