Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 7


__ADS_3

Rasa yang tak biasa, mampu menghancurkan seorang Almaira. Gadis yang terkenal tanggung dan sangat pemberani. Kini, dia hanya bisa menatap langit dari dalam kamar.


Almaira masih belum bisa menerima semua kenyataan ini, dia memilih mengurung diri di kamar. Meluapkan segala sesak yang mengimpit dada.


“Sayang, buka pintunya Nak.” Suara Aisyah terdengar dari luar.


Almaira bangkit dari duduk, dia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Seketika air mata Almaira semakin deras saat sudah berada di pelukan sang bunda.


“Ikhlas Nak, ikhlas,” ucap Aisyah seraya mengusap punggung putrinya.


Tidak ada orang tua yang diam saja melihat anak yang sangat dia sayangi terluka. Aisyah mengajak Almaira untuk duduk di kasur, gadis itu masih terus menangis.


“Bunda percaya kan? Kak Alchan itu orang baik, nggak mungkin dia melakukan itu,” ujar Almaira sambil mengusap air mata.


“Iya Sayang, Bunda percaya,” jawab Aisyah. Almaira kembali memeluk bundanya.


Mendengar kabar tentang Alchan, Almaira merasa hancur. Dia percaya pria itu tak bersalah, tetapi apa yang bisa dia lakukan? Almaira bukan siapa-siapa yang bisa membela Alchan. Dia hanya teman masa kecil, yang menemani Alchan. Bukan teman hidup sesungguhnya, seperti keinginannya.


“Mungkin, memang begini takdir Alchan. Kita hanya bisa mendukung dia, Bunda yakin, Alchan kuat. Dia pria yang selalu kuat akan semua masalah yang datang menghampiri.” Bunda Aisyah membuka suara kembali.


“Ingat Sayang. Allah selalu memberi ujian pada hambanya, sesuai kemampuan hambanya sendiri,” sambung Aisyah, Almaira mengangguk.


Bismillah ya Allah, hamba mohon padamu. Bukakan mata hati hamba, dia bukan jodoh Almaira. Bukan.


Dalam hati Almaira terus mengucap kata-kata yang mampu menguatkan hatinya. Dia tak mau terpuruk dalam hal yang tidak Allah inginkan. Bukankah jodoh di tangan Allah? Bila memang Alchan jodohnya, maka Allah yang akan menyatukan.


Segampang itu saat mulut berbicara, lain dengan hati. Sesuatu yang sudah membekas, akan sulit untuk dihilangkan. Meskipun hilang, tetapi tidak sempurna seperti sedia kala.


**


Azan berkumandang dari masjid kota, membangunkan Alchan dari tidurnya. Pria itu lekas berlalu ke kamar mandi, untuk membersihkan diri dan berwudu.


Karena menikah tanpa cinta, keduanya memutuskan untuk tidur berbeda kamar. Sebenarnya Alchan tidak mau berdosa, tetapi, Gladis yang memaksa.

__ADS_1


Saat sudah selesai, Alchan segera pergi dari kamar untuk salat berjamaah di masjid. Jarak antara apartemen dan masjid lumayan dekat, jadi tak membuatnya harus berjalan jauh lagi.


“Bismillah,” ucap Alchan seraya mengusap wajah berulang kali.


Selepas membaca doa bersama orang-orang di masjid, Alchan langsung pulang ke rumah. Dia takut Gladis akan mencari dirinya karena pergi tanpa pamit. Bagaimanapun, wanita itu sekarang adalah istrinya. Alchan harus membiasakan diri dengan kehadiran Gladis.


Benar saja, sampai di rumah Gladis langsung mencerca dia dengan berbagai pertanyaan.


“Aku habis dari masjid. Maaf karena tak memberitahu,” jawab Alchan sembari meletakkan sajadah di sofa.


“Ah, iya. Aku yang minta maaf, karena tidak bangun pagi-pagi,” ucap Gladis merasa bersalah.


“Sudah tidak apa, masih banyak waktu lagi untuk melakukannya.”


Gladis mengangguk, lalu dia pamit untuk memasak di dapur. Alchan tak mau melarang apa yang Gladis ingin lakukan. Jika wanita itu bahagia dengan caranya sendiri, maka Alchan akan selalu mendukung.


Mereka seperti dua orang, kakak dan adik. Tidak menggambarkan sedikit pun kalau keduanya sepasang suami istri. Mungkin karena musibah yang terjadi sebelum pernikahan.


--


“Apa kamu masih memikirkan kejadian kemarin?” Gladis menjatuhkan bokongnya di sofa tunggal depan Alchan.


“Sangat sulit melupakan sesuatu yang terjadi,” tutur Alchan.


“Lagi-lagi aku malu pada dunia. Karena perbuatanku, orang baik yang terkena imbasnya,” lontar Gladis.


Alchan memilih diam. Sesekali dia menatap ke arah Gladis, wanita itu terus saja menunduk. Namun Alchan tahu, Gladis tengah bersedih.


“Aku bukan wanita baik, terlahir dari rahim orang jahat juga. Aku malu, aku malu pada kamu Alchan. Lihatlah, kita sangat berbeda.” Gladis menunjuk dirinya.


“Jangan berbicara seperti itu Gladis, bila Allah berkehendak. Yang tidak mungkin akan menjadi mungkin,” papar Alchan.


“Aku pernah membaca sebuah artikel. Bahwa pria baik akan bertemu dengan perempuan baik pula, dan sebaliknya. Sedangkan aku ... aku buruk, kenapa harus bersanding dengan pria baik sepertimu?” tanya Gladis.

__ADS_1


“Kalau begitu, berarti aku bukan orang baik. Jangan melihat seseorang dari luarnya, aku tidak seperti ucapan kamu.”


Tidak ada yang membuka suara lagi, Gladis memilih bungkam. Wanita itu menatap meja dengan sendu, sama halnya dengan Alchan. Sangat terlihat bahwa keduanya tidak bahagia dengan pernikahan mereka.


“Aku seorang wanita penghibur. Kerja sebagai penari dance di sebuah bar. Sedangkan ibuku, seorang wanita pemuas nafsu. Bahkan aku tidak tahu siapa ayahku, di mana dia berada.”


Setelah cukup lama diam, Gladis akhirnya membuka suara. Berperang dengan hati, Gladis akan menceritakan semuanya pada Alchan. Pria itu harus tahu, seluk beluk dirinya yang sangat buruk itu.


“Aku juga memiliki pacar. Dia orang baik sepertimu, kariernya bagus, orang tuanya juga terkenal. Kini, pacarku tengah bekerja di luar negeri. Dia akan pulang setahun sekali. Miris, dia tidak tahu latar belakang pacarnya yang bodoh ini,” sambung Gladis lagi, dia menutup wajah menggunakan tangan.


“Kamu orang baik,” timpal Alchan.


“Bukan. Aku orang yang sangat buruk,” sahut Gladis.


“Orang buruk tidak akan menceritakan keburukannya. Kamu adalah orang baik yang terpaksa melakukan hal buruk itu, aku yakin kamu tidak mau melakukannya. Namun, karena sebuah tuntutan kamu lakukan itu,” ucap Alchan. Gladis terdiam meresapi setiap kata yang terlontar dari mulut Alchan.


Jika harus jujur, Gladis memang melakukan pekerjaan itu karena ekonomi. Dia lahir dari rahim wanita yang bahkan tak menginginkan kehadirannya. Gladis dibesarkan di sebuah panti asuhan, setelah dewasa dia memilih pergi untuk menafkahi dirinya sendiri.


Gladis terlalu malu bila lebih lama di panti, dia tak bisa memberikan apa pun pada ibu panti. Wanita yang telah sudi mengurus dia dari bayi hingga dia dewasa. Rasanya tidak mungkin bila Gladis terus menetap di sana.


Pertama kali Gladis kenal bar, karena ajakan temannya yang ternyata wanita pemuas nafsu di tempat itu. Awalnya Gladis menolak, tetapi karena desakan akhirnya dia menerima. Gladis pun memilih sebagai penari dance saja, dia tidak mau bila harus menjadi wanita di atas ranjang.


Bertahun-tahun bekerja di sana, Gladis merasa puas dengan gaji yang dia dapatkan. Tapi sayang, musibah datang menghampiri. Pria hidung belang yang sudah lama mengincarnya, berbuat nekat. Gladis di perkosa saat akan pulang ke rumah.


“Gladis,” panggil Alchan. Pria itu menatap Gladis lekat.


“Iya?” jawab Gladis seraya menundukkan kepalanya.


“Ayo hijrah.”


Sontak kepala Gladis terangkat, mata beningnya menatap jauh mata Alchan. Seketika hatinya berdebar, sesuatu tak biasa datang menghampiri.


 **

__ADS_1


Plis mas, kasihan mbak Almaira.


 


__ADS_2