
Meski ruangan sudah ber-AC, tetap saja rasanya sangat panas. Laska mencoba meredam sesak di dada, pria itu memilih duduk di atas ranjang, memeluk lututnya selayaknya anak kecil.
Sedangkan Kia dan Akbar yang berada di depan pintu kamar anaknya, merasa bingung sebab Laska datang tanpa bilang dan langsung mengurung dirinya di kamar. Mereka masih belum tahu kejadian yang sebenarnya, sebab Laska belum ada cerita apa-apa.
“Akbar, Nak. Buka pintunya,” panggil Kia sembari terus mengetuk pintu kamar anaknya. Namun, tak kunjung dibukakan oleh Laska.
Keduanya saling pandang, gurat khawatir terlihat begitu besar dimata Kia. Akbar segera menenangkan istrinya.
“Sabar, Sayang. Mungkin saja dia sedang ada masalah,” ucap Akbar seraya mengelus punggung tangan Kia.
“Bi, lebih baik Abi sama Alfa jemput Amira sana. Takutnya nanti dia ketakutan di rumah sendiri, sedangkan Laska masih enggan keluar dari kamar,” pinta Kia pada Akbar, yang langsung dijawab anggukan oleh pria itu.
Se-peninggalan suaminya, Kia masih berusaha agar Laska mau membukakan pintu.
“Sayang, Umi mohon buka pintunya,” pinta Kia dengan suara melemah.
“Laska,” panggil Kia lagi dengan suara lirih.
Pintu berderit, sosok pria sudah berdiri di ambang pintu. Keadaannya benar-benar memprihatinkan, dia bukan seperti Laska. Sangat jauh berbeda. Kia langsung memeluk anaknya, wanita itu menangis saat Laska hanya diam saja.
“Ada apa, Sayang? Cerita sama Umi. Kamu jangan kaya’ gini, Umi khawatir,” lirih Kia sambil membawa anaknya masuk ke dalam kamar.
Wanita itu menyuruh agar Laska duduk di tepi kasur, diikuti oleh dirinya. Pria yang masih saja bungkam, tak mau mengeluarkan kata sedikit pun.
“Jangan merasa sendiri, Laska. Di sini ada Umi, kamu punya masalah apa?” tanya Kia lagi, dia masih berusaha agar Laska mau cerita.
“Tidak ada, Mi,” jawab Laska pelan. Kepalanya masih tetap menunduk menatap ke arah lantai.
“Laska, jangan bohong! Umi tahu, kamu sedang ada masalah. Jangan jadi lelaki pengecut Nak, yang lari dari tanggung jawab!” tegas Kia.
“Apa aku bodoh Umi? Semua orang memujiku hanya karena ketampananku, bahkan mereka tak tahu, aku adalah sosok pria yang bodoh,”
“Tidak Nak. Kamu, adalah orang pintar, yang bisa menyelesaikan semua masalah dengan kepala dingin,” lirih Kia sembari terus memeluk tubuh anaknya.
“Tapi sekarang aku jadi orang bodoh Umi. Aku bodoh, pria yang dengan percayanya menikah gadis yang tengah berbohong besar untuk keuntungannya.” Laska terus berbicara, membuat mata Kia melotot sempurna.
__ADS_1
“Maksud kamu apa Laska! Jangan berbicara sembarangan!” tukas Kia dengan suara lantang. Laska hanya diam saja.
“Laska masih ingin sendiri dulu, Umi. Dan tolong, hubungi orang tua Amira, ada hal yang harus mereka ketahui,” pinta Laska dengan suara melemah, pria itu sudah berbaring di ranjang dengan deru napas tak normal.
“Apa Nak? Masalah apa yang harus mereka tahu, tolong cerita sama Umi,”
“Laska minta tolong Umi, keluarlah.” Laska mengulang kalimatnya kembali, mau tidak mau akhirnya Kia memilih keluar.
Dengan cepat dia menghubungi kedua orang tua Amira untuk datang. Pastinya dengan pikiran yang berkecamuk, rasa penasaran terus membuncah tinggi di dalam hatinya.
“Assalamualaikum.” Terdengar salam dari luar, Kia gegas menghampiri Akbar.
Di sana sudah ada Amira, gadis juga kelihatan sangat kacau. Mata sembab, hidung merah dan rambut acak-acakan. Gegas Kia membawa Amira ke dalam pelukannya, yang semakin membuat gadis itu tergugu.
“Maaf Umi, maaf,” ucap Amira berulang kali yang semakin membuat Kia bingung plus sedih.
“Iya, sudah Sayang. Jangan nangis lagi ya, kita duduk dulu,” ajak Kia seraya menuntun Amira agar duduk di sofa.
Alfa yang melihat itu hanya menghembuskan napas kasar, dia sudah tahu masalahnya sebab Amira sudah cerita. Dengan cepat Alfa berjalan meninggalkan keluarganya untuk menemui Laska di kamar.
Tok
Alfa hanya mengetuk sekali pintu, namun tak dapat jawaban dari dalam.
“Laska,” panggil Alfa sembari mengetuk pintu kembali.
Ceklek
“Ya?” Laska sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah datar nan dingin.
“Amira sudah di bawah, sebentar lagi orang tuanya juga akan datang,” ucap Alfa.
“Ya. Aku akan segera turun,” balas Laska cepat berniat untuk masuk ke kamar kembali.
Sebelum Laska benar-benar masuk kamar, Alfa kembali berbicara, kali ini dengan nada pelan penuh kelembutan.
__ADS_1
“Tenangkan diri kamu, jangan ambil keputusan di saat amarah masih menggumpal di dada.”
“Terima kasih sarannya, urus urusanmu sendiri. Silakan,” jawab Laska sembari menyuruh agar Alfa segera pergi.
Alfa mendecih, lalu segera turun. Dia tak habis pikir dengan Laska, pria itu sangat menyebalkan baginya.
Sedangkan di bawah, Kia masih berusaha menenangkan Amira yang terus menangis di pelukannya. Semakin membuat wanita itu sedih dan turut prihatin dengan Amira.
“Amira, ada masalah apa ini?” Seorang pria paruh baya dan istrinya berdiri tak jauh dari tempat keluarga Laska berada.
Ayah Amira menatap anaknya penuh selidiki, membuat Amira ketakutan. Gadis itu tak habis pikir, ternyata Laska benar-benar memanggil orang tuanya.
“Sayang, kamu kenapa menangis?” tanya ibunya seraya mendekati Kia dan Amira.
Sontak saja Amira langsung memeluk tubuh ibunya, menangis dibahu wanita itu.
“Aku tanya pada kalian ada masalah apa?! Kenapa anakku menangis begini?!” Ayah Amira menggebrak meja, membuat semua manusia yang ada di sana kaget.
“Ayah, Mira mohon jangan gini,” lirih Amira mencoba menghentikan amarah ayahnya.
“Kamu disakiti di sini? Ayo kita pergi dari rumah ini!”
“Tidak Ayah. Bukan mereka yang menyakiti Amira, tetapi Amira yang menyakiti mereka.” Amira masih terus menangis sesenggukan di hadapan ayahnya.
“Maksud kamu apa?!” bentak sang ayah.
Bersambung.
Buat yang nungguin mereka dari pagi, maaf. Saya sibuk tadi pagi.
Ngegantung lagi😂😂
__ADS_1