
Jawaban Almaira sukses membuat Alchan bungkam. Pria itu menggeleng kecil, karena tak percaya. Namun, beberapa saat setelahnya dia tersenyum. Pura-pura bahagia di atas sakit hati yang menganga.
“Wah, selamat ya untuk kalian berdua,” katanya sambil menyalami Langit dengan senyum mengembang.
Langit yang mendapat perlakuan seperti itu, hanya diam saja. Dia mendadak bingung. Matanya tak lepas menatap Almaira, meminta kebenaran dari gadis itu. Tapi sayang, yang ditanya lewat tatapan malah memalingkan wajah.
“Ng ... Iya, makasih,” balas Langit pelan. Dia bingung harus jawab apa, alhasil mengikuti saja rencana Almaira.
Ini tidak benar. Langit baru sadar bahwa dia juga berbohong, sama seperti Almaira. Ingin dia membuka suara kembali, tapi sayang, tatapan memohon dari Almaira membuatnya bungkam.
Mendadak semua yang ada di ruangan diam. Gladis yang berada di tengah-tengah mereka, sibuk memilih kata untuk membuka suara.
“Oh, iya. Apa kamu masih sakit Almaira?” tanya Gladis setelah cukup lama hanya diam saja.
“Alhamdulillah sudah mendingan Kak. Mungkin nanti sore sudah bisa pulang ke rumah,” jawab Almaira.
“Syukurlah.” Gladis tersenyum.
“Kalau gitu kami pamit pulang ya, Almai. Jangan lupa istirahat terus, dan segera sembuh,” pamit Alchan sembari menarik pelan tangan Gladis.
“Makasih Kak.”
Yang mengantar kepergian Alchan dan Gladis, adalah Langit. Sampai di depan rumah sakit, setelah itu Langit kembali untuk menemui Alamira.
Di dalam ruangan Almaira sudah menunggu dengan banyak sekali kata-kata, yang akan dia sampaikan pada Langit. Terutama tentang ungkapan yang dia ucapkan secara asal tadi.
“Kamu—“
“Aku ingin bicara. Serius.” Almaira langsung memotong ucapan Langit, dia mengisyaratkan agar pria itu lebih mendekat.
“Ada apa Almaira?” tanya Langit dengan dahi berkerut.
“Tentang tadi ... Itu hanya pura-pura saja. Kumohon jangan bilang pada siapa pun,” mohon Almaira seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Kan, Langit sudah bisa menebak. Mana mungkin Almaira berubah pikiran, dan menerima dia. Semua ini hanya pura-pura saja. Tapi, apa dia harus terus berbohong? Pada Alchan? Bagaimana kalau lambat laun pria itu tahu, bahwa dia bukanlah calon suami Almaira?
“Lagian, kenapa kamu harus berbohong?” ujar Langit dengan kepala tertunduk.
“Karena ... Aku nggak mau Kak Alchan, terus nganggap aku nggak bisa move on dari dia,” ucap Almaira.
“Kamu suka sama dia?”
Duar! Alamira terkejut, mendadak bingung dengan pikirannya sendiri. Bisa-bisanya dia berbicara begitu, di depan Langit. Sungguh, Almaira tak tahu harus menjawab apa.
“Oh, oke. Ini terakhir kali, aku berbohong. Lain kali, jangan minta aku untuk melakukannya lagi,” tutur Langit seraya beranjak ke arah sofa.
Ternyata Langit orang yang tak pemaksa. Jadi Almaira bisa sedikit bernapas lega karena pria itu tak lagi banyak bertanya. Beban pikirannya seakan menghilang, dan dia bisa istirahat dengan tenang.
__ADS_1
“Tapi kalau kedua orang tua kamu tahu, dan itu dari Alchan. Aku tak mau terlibat lagi.”
Seketika Almaira menoleh pada Langit. Tatapannya tajam, membuat pria itu segera mengalihkan pandangan.
“Oh, iya,” lirih Almaira pelan. Bahkan nyaris tak terdengar suaranya.
Dia lupa tentang itu. Tapi Almaira berharap semoga Alchan tak bilang pada semua orang. Kalau saja iya, maka mampuslah dia. Membohongi banyak orang demi perasaannya.
“Aku yakin Kak Alchan bukan orang seperti itu,” ucap Alamira.
**
“Alein, buruan!”
Teriakan itu membuat pria yang berada di belakang, sedikit mempercepat langkahnya. Ya, Alchia meminta Alein untuk menemaninya ke perpustakaan.
Padahal mereka ada kelas beberapa jam lagi, tetapi Alchia terus memaksa. Akhirnya Alein menyetujui untuk ikut.
“Sabar Chi. Lagian, kamu buru-buru banget sih,” sahut Alein.
“Ya kan, biar cepat juga balik ke kampusnya.” Alchia memasang wajah kesal.
“Iya iya.”
Setelah sampai di mobil, dia segera meminta Alein untuk masuk ke jok penumpang. Barulah dia memutari mobil untuk masuk ke bagian kemudi.
“Kamu memang niat banget ya, Chi,” ucap Alein sembari menghembuskan napas perlahan.
“Namanya juga orang butuh, ya ginilah. Kalau saja tadi buku sialan itu aku bawa, gak bakalan pergi ke perpus juga aku,” sahut Alchia. Wajahnya masih saja menggambarkan kekesalan.
“Hei! Nggak boleh begitu! Bagaimanapun buku itu jembatan ilmu,” nasihat Alein hanya dibalas malas oleh Alchia.
“Iya iya, dasar bawel!”
Tak terasa perpustakaan kota yang akan mereka datangi, sudah terlihat. Alchia segera memasukkan mobilnya ke parkiran. Lalu meminta Alein untuk segera turun.
“Pelan-pelan aja jalannya Chi, takutnya entar jatuh. Lihat, kamu kan pakai heels,” peringati Alein. Namun, sang empu hanya mengangguk pelan saja.
Baru juga dibilang, dan Alchia sudah terjatuh karena kakinya tak sengaja menyandung kaki sebelah. Alhasil gadis itu kini terduduk di tanah, dan Alein segera menghampirinya.
“Baru juga dibilang. Bandel sih kamu,” omel Alein sembari membantu Alchia untuk berdiri.
“Makanya kamu jangan ngomong begitu tadi. Aku yakin, kamu doain aku juga biar jatuh ya?” tuding Alchia.
“Astagfirullah. Suuzan mulu kamu jadi orang.” Alein menggelengkan kepala.
“His, banyak drama tahu nggak. Uda ayo cepetan masuk!” ajak Alchia.
__ADS_1
Gadis itu langsung menarik tangan Alein untuk cepat mengikuti langkahnya. Yang ditarik hanya membuang napas kecil, tetapi tak menolak.
Sampai di dalam, Alchia langsung mencari buku yang dia butuhkan. Sesekali mulutnya berdecak karena buku itu tak kunjung ditemukan.
“Sebenarnya buku yang seperti apa, yang kamu cari Chi?” tanya Alein.
Pria itu juga ikutan bingung melihat Alchia yang hanya bolak-balik saja.
“Buku yang disuruh Pak Angga kemarin,” ketus Alchia.
“Oh, yang itu. Kemarin aku lihat di rak sekitaran sana.” Alein menunjuk rak buku di belakang mereka.
“Kenapa nggak bilang dari tadi sih? Orang kebingungan juga,” omel Alchia.
“Kan kamu nggak bilang juga, mau beli buku itu,” sahut Alein merasa tak bersalah.
“Pokoknya kamu yang salah!”
“Iya deh. Cowok kan emang selalu salah di mata cewek,” lirih Alein.
**
Sekarang ini Alchan tengah berada di ruang lukis di apartemennya. Yang sengaja dia buat sendiri di ruang kamar yang tak terpakai. Sejak tadi Alchan nggak bisa fokus, pikirannya terus saja memikirkan ucapan Almaira tadi.
Alchan kurang percaya, apalagi ketika mendengar jawaban Langit.
“Masa iya, Langit calon suami Almaira,” monolog Alchan sambil menuang cat.
Dia menggeleng, mencoba fokus kembali pada aktivitasnya.
“Di minum dulu jusnya, Chan,” ucap Gladis yang baru masuk.
“Iya, makasih.”
Melihat suaminya seperti tak sehat, membuat Gladis berjalan mendekati pria itu. Dan melihat wajah Alchan dari jarak dekat.
“Kamu sakit? Demam?” tanya Gladis menggebu.
“Enggak kok,” sahut Alchan cepat.
“Kenapa pucat?”
Alchan menyentuh wajahnya. Barulah dia menggeleng kembali.
“Kecapean doang kali,” katanya.
__ADS_1