Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 12


__ADS_3

“Semakin hari, perutku akan kelihatan. Rasanya aku belum sanggup, mengemban tugas sebagai ibu nantinya.”


Alchan dan Gladis sedang berada di dalam kamar. Entah mengapa Alchan sangat ingin ke kamar wanita itu. Mereka mengobrol dari yang ringan sampai serius.


“Jadi Ibu itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Santai aja,” ujar Alchan seraya tertawa renyah.


“Kamu tidak merasakannya Alchan. Kamu kan laki,” sahut Gladis kesal.


Pria berpiama maroon itu tertawa lagi ketika melihat wajah cemberut Gladis. Tangan Alchan bergerak mengacak rambut Gladis.


“Jangan diacak-acak, jadinya berantakan,” tegas Gladis memandang Alchan dengan sangat-sangat kesal.


“Rambut kamu lucu.”


“Dari mana lucunya? Padahal ini bagus loh.”


Wanita itu segera menyentuh rambut bergelombangnya, dan mengarahkan pada Alchan.


“Cuma aneh aja. Ternyata bukan hanya air laut yang bergelombang, tapi rambut kamu juga,” ejek Alchan.


“Dasar zaman old! Kamu itu tahunya apa sih Chan?” tanya Gladis.


“Melukis,” jawab Alchan santai.


“Tapi setidaknya mengerti zaman sekarang juga dong. Jangan tahunya lukisan aja, kan jadinya ketinggalan zaman,” cemooh Gladis sambil mengangkat dagunya.

__ADS_1


Alchan malah tertawa mendengar penuturan Gladis. Membuat wanita itu kembali cemberut, dan bersiap untuk merajuk.


“Aku kan bukan salon, ya tidak tahu tentang rambut. Coba kalau kamu tanya harga lukisan, aku pasti akan gercep,” sambung Alchan.


“Terserah! Terserah deh! Aku tobat sama kamu!” teriak Gladis frustrasi.


Dia memilih keluar dari kamar, untuk menuju ruang utama. Alchan hanya tertawa saja melihat tingkah istrinya, sesekali dia mengusap mata.


Kini hanya tinggal Alchan yang ada di dalam kamar itu. Dia memperhatikan setiap sudut ruangan. Masih terlihat jelas, saat dia berlari mengejar Alchia—sewaktu baru membeli apartemen ini.


Begitu pun dengan dongeng-dongeng yang dia ceritakan pada Alchia dan Almaira. Membekas indah di pikiran, membuat rasa rindu itu kembali menyeruak.


“Apartemennya bagus. Nanti Almai beli yang kayak gini jugalah.”


“Alchia juga!”


Alchan tertawa ketika mengingat itu. Lagi-lagi, dia berkubang dalam masa lalu. Sulit untuk menghapus semuanya, meski sikap Gladis tak jauh beda dari adik dan sahabatnya.


Alchan bertekad untuk tak melupakannya, karena semakin dia berusaha, semakin pula rasa itu merasuk kalbu. Alchan hanya ingin melakukan segalanya semau dia, biarkan saja rasa itu menghilang dengan sendirinya.


“Alchan! Sini buruan! Ada film bagus ni!” Teriakan Gladis membuat Alchan terkejut.


Dengan cepat pria itu turun dari ranjang, dan berlari keluar kamar. Bukan karena penasaran, hanya saja Alchan menghargai Gladis.


**

__ADS_1


“Namanya Langit Abgal Yasha, anak dari teman kerja Ayah. Dia baik kok orangnya, rajin bekerja juga. Kalau adab, tidak perlu diragukan lagi. Karena Langit ini lulusan pesantren.” Ucapan ayah masih terus berdengung di telinga Almaira.


Dia tahu maksud ayahnya, pasti mau menjodohkannya. Namun, Almaira sangat menolak itu. Dia tak mau menikah karena perjodohan, setidaknya pria yang akan dia nikahi nanti adalah pilihannya sendiri.


“Ngelamunin apa sih, Salihah?” tanya bunda seraya tersenyum ke arah Almaira.


“Perkataan Ayah tadi, Bun,” jawab Almaira jujur.


“Kalau memang tidak cocok, ya sudah. Jangan dipikirin lagi, pokoknya kamu hanya boleh fokus pada kesembuhanmu saja, Sayang,” ingat bunda, Almaira segera mengangguk patuh.


“Tapi kenapa, nama Langit seolah tak asing bagi Almai?”


“Apa mungkin kamu kenal? Padahal kalian kan belum bertemu,” ucap bunda.


“Iya juga ya, Bun. Mungkin perasaan Almai aja kali ya.”


Meski sudah berusaha untuk mengingat, Almaira tetap tak bisa. Alhasil dia mengabaikan itu, toh, dia juga tak mau dijodohkan.


 


**


Kalian kapal siapa ni. AlGa(Alchan Gladis) atau AlMa(Alchan Almaira)?


 

__ADS_1


 


__ADS_2