Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 5


__ADS_3

“Kalau misalnya Kak Alchan ngelamar Kakak benaran, gimana? Kak Almai terima?”


Sang empu terdiam, Almaira tak bisa menjawab pertanyaan dari Alchia. Rasa yang sempat terhempaskan kembali tumbuh di hati, benih bunga kini tumbuh subur mendapat siraman lampu hijau dari Alchia.


“Kak Almai? Kok diam aja?” Alchia membuka suara kembali, membuat Almaira terkejut.


“Eh, iya. Apa tadi?” Gadis itu pura-pura lupa, malu akan dirinya sendiri.


“Uda deh, malas banget. Padahal aku tahu Kakak tadi dengar,” rajuk Alchia sambil melipat kedua tangan di dada.


“Iya iya maaf gadis cantik,” ucap Almaira sambil mencolek pelan pipi Alchia.


Keduanya tengah berada di restoran dekat butik Almaira. Setelah kembali dari kampus, Alchia langsung menghampiri Almaira di butik dan mengajak gadis itu untuk makan siang bersama.


“Serahkan saja sama Allah ya, Alchia nggak usah pikirin itu.” Almaira mengusap pelan kepala Alchia yang tertutup hijab.


Meski Almaira memiliki rasa pada Alchan, tetapi dia tak mau mendahulukan Allah. Bukankah rencana terbaik hanya milik Allah? Almaira hanya bisa berdoa, meminta petunjuk pada-Nya.


“Ayo steaknya dihabisin, nanti mubazir,” ujar Almaira seraya mendorong piring makanan milik Alchia.


Gadis anggun, salihah dan sayang orang tua. Banyak sekali yang menginginkan Almaira, sayangnya gadis itu yang menutup diri. Dia belum berani untuk maju selangkah mendekati sebuah bahtera rumah tangga. Almaira hanya takut, dia salah memilih. Lagi pun, hatinya belum terkontrol, masih berharap pada seseorang.


“Kak Almai orang baik, Chia percaya pasti Allah akan memberi pria baik juga buat Kakak,” tutur Alchia.


“Aamiin. Semoga doa kamu diijabah sama Allah ya? Chia juga orang baik, pasti dapat yang baik juga,” papar Almaira.


Mereka kembali melanjutkan makan, tak ada yang membuka suara lagi. Keduanya fokus pada makanan saja, karena setelah ini mereka berniat untuk pergi ke mal.


**


“Mah, kalau Kakak nikah gimana?”


Amira yang masih mengunyah roti tersedak mendengar ucapan putra semata wayangnya. Alchan yang berada di dekat sang mamah, segera mengambilkan minum dan menyodorkan pada Amira.


“Duh, Mah. Pelan-pelan dong kalau makan,” ingati Alchan sambil mengusap punggung mamahnya.


“Kamu sih, kalau ngomong suka buat orang kaget,” jawab Amira.


“Ya, Chan kan cuma nanya.” Alchan memasang wajah bersalah.


“Iya iya Sayang.”

__ADS_1


Segera Amira memeluk putranya itu, mencium kening Alchan berulang kali dengan sayang. Alchan memang sangat dekat dengan Amira, setiap ada masalah apa pun itu, dia langsung cerita pada mamahnya.


“Memangnya Kakak sudah punya calonnya?” tanya Amira setelah melepas pelukan.


“Hahaha... belum,” jawab Alchan sambil nyengir-nyengir.


Seketika wajah Amira langsung berubah menjadi masam, putranya itu segera meminta maaf dan mengecup pipi Amira berulang kali.


**


Dunia hanya sementara, sedangkan akhirat selama-lamanya. Dalam perjalanan pulang, tak henti-hentinya Alchan membaca ayat-ayat pendek.


Dia baru saja kembali dari rumah sakit, kakeknya dikabarkan masuk rumah sakit. Penyakit jantung pria sepuh itu kembali kumat, dan langsung dilarikan ke tempat yang memang memiliki perawatan terbaik.


Pukul 22.00 Alchan baru memasuki daerah kawasan kompleks perumahannya. Pria itu mengemudi mobil dengan kecepatan pelan, karena mendadak kepalanya sedikit pusing.


Baru saja mau berbelok kembali, Alchan mengerem secara mendadak saat melihat seorang perempuan berdiri di jalan. Mendadak tubuh pria itu merinding.


“Astagfirullah, siapa itu malam-malam di jalan?” tanya Alchan pada dirinya sendiri.


Karena tidak ingin terus menebak, Alchan memilih turun untuk memastikan langsung. Berbekal senter hp, dia berjalan mendekati seseorang itu.


Keadaan di jalan ini cukup sepi, beberapa lampu rumah warga sudah dipadamkan.


Bukannya menjawab, malah isak tangis yang terdengar. Tubuh Alchan semakin merinding tidak karuan, perasaan takut dan penasaran semakin besar.


“Permisi, Mbak.” Satu kali lagi Alchan bersuara.


“Iya Mas.”


Seketika Alchan mengusap dada lega saat melihat wanita yang sudah berbalik ke arahnya. Keadaan wanita itu cukup mengenaskan, pakaian yang koyak di sisi-sisinya serta rambut berantakan.


Alchan mengalihkan pandangan, merasa tidak pantas melihat wanita itu.


“Maaf karena sudah menghalangi jalan Mas,” ucap wanita itu dengan suara bergetar.


“Tidak apa Mbak. Maaf kalau boleh tahu, Mbak habis tertimpa musibah?”


Wanita itu mengangguk, dia berjalan ke tepi jalan kompleks. Sesekali tangannya berusaha menutupi bahu yang terlihat.


“Saya baru saja tertimpa musibah. Tubuh saya ... sudah kotor Mas. Saya diperkosa ....” Tangis yang sempat tertahan, kini kembali terdengar.

__ADS_1


Alchan semakin bingung harus berbuat apa, pikirannya kacau. Rasa khawatir mulai menyelinap dalam jiwa, seolah-olah akan terjadi sesuatu yang tak bisa dia duga.


“Sudah Mbak, jangan menangis lagi,” ucap Alchan berusaha menenangkan. Dia tetap menjaga jarak aman dengan wanita itu.


Baru saja mau kembali ke mobil untuk mengambil jaket, teriakan seseorang membuat Alchan terkejut.


“Apa yang kalian lakukan di sana? Dasar! Kalian pasti sedang berbuat mesum!”


Itu satpam kompleks. Mata Alchan melebar, dia menatap lampu yang semakin mendekat, lalu menatap mobilnya kembali.


“Jangan kabur!” Teriakan kembali terdengar.


Dentuman jantung sudah terdengar cepat, dan sayang Alchan kalah telak. Tangannya sudah lebih dulu dipegang oleh dua orang satpam yang bertugas jaga malam.


“Tidak menyangka, anak pengusaha sukses berbuat mesum di tengah jalan,” ucap salah satu satpam dengan wajah emosi.


“Maaf, Bapak salah sangka. Saya hanya ingin menolong Mbak ini tadi.” Alchan berusaha membela diri.


“Tidak perlu berbohong! Benar kata warga, kamu tidak sebaik perkiraan orang!”


“Pak, tolong jangan berasumsi dulu. Saya benaran mau nolongin Mbak ini. Iya kan Mbak?” Alchan menatap wanita yang masih tersedu-sedu, berharap mau membantunya untuk lepas dari masalah ini.


Namun sayang, wanita itu hanya diam. Seperti manusia tak bernyawa. Alchan benar-benar tak percaya ini, hal yang dia khawatirkan sejak tadi ternyata seperti ini.


“Lepaskan!” pinta Alchan.


“Kalian berdua ikut kami. Kalian harus dinikahkan, kami tidak mau nama kompleks ini kotor karena perbuatan menjijikan kalian ini,” tangkas satpam itu.


Alchan menggeleng berulang kali. Tidak, bukan ini takdir yang dia mau. Kariernya masih berjalan, masa depannya juga masih panjang. Alchan tidak mau menikah karena kesalahpahaman yang tidak dia perbuat.


Semua ini salah. Bagaimana dengan mamah? Papah? Alchia? Atau Almaira?


Alchan akan menyakiti hati mereka semua. Nama keluarganya akan kotor, pertemanannya akan hancur. Dan Almaira, pasti gadis itu akan kecewa dengannya.


“Aku tidak bersalah! Lepaskan aku!” Alchan berusaha melepaskan diri. Sayang, tenaganya kalah dengan satpam itu.


Tidak ada bukti yang bisa Alchan berikan, pikirannya buntu. Seketika bayangan wajah Almaira memenuhi ruang pikirannya. Sebuah musibah yang akan menghancurkan dirinya, Alchan terjatuh dalam sebuah kebodohan yang dia tak tahu akan berakhir sampai di mana.


“Almaira ... maaf.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2